
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, mengkritik sikap pemerintah Indonesia yang dianggap tidak menyampaikan ucapan belasungkawa publik atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia menilai absennya pernyataan resmi publik tersebut bertentangan dengan prinsip hubungan bilateral antara Indonesia dan Iran yang selama ini terjalin sebagai negara sahabat.
Dino mengungkapkan keraguannya terhadap konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia yang selama ini mengedepankan prinsip “bebas aktif.” Ia menekankan bahwa meskipun kedua negara memiliki perbedaan ideologi dan sistem politik, hubungan itu tetap berdasar pada penghormatan mutual, sebagaimana tercermin dalam partisipasi bersama di organisasi internasional seperti OKI, G77, dan BRICS.
Kritik Terhadap Sikap Pemerintah Indonesi
Dalam cuitannya di akun media sosial, Dino menyatakan sangat disayangkan pemerintah tidak menyampaikan ucapan belasungkawa secara publik ketika Ayatollah Khamenei meninggal dunia akibat serangan militer. Dia mempertanyakan apakah sikap ini adalah kelalaian atau memang disengaja. Dino bahkan mempertanyakan alasan pemerintah, menuding Indonesia mungkin kehilangan arah dalam kebijakan luar negerinya yang selama ini disebut bebas aktif.
Ia juga menilai sikap pemerintah Indonesia yang dianggap “dingin” tersebut menjadi alasan menolak halus dari pihak Iran terkait tawaran mediasi yang pernah diajukan Jakarta. Menurut Dino, sikap tersebut memunculkan keraguan dari Iran soal motivasi niat baik Indonesia dalam situasi strategis ini. Hal itu penting untuk dikaji ulang dan direnungkan agar kebijakan luar negeri Indonesia tetap konsisten dan kredibel.
Respons Resmi Pemerintah Melalui Surat Tertutup
Meski kritik tersebut mencuat, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah menyampaikan surat duka cita resmi lewat saluran diplomatik. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto mengirimkan surat belasungkawa langsung kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Surat ini kemudian disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono kepada Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Jakarta.
Penjelasan ini menegaskan bahwa pemerintah memilih menggunakan media surat resmi dan tertutup demi menjaga formalitas dan kehormatan terkait protokol diplomatik antarnegara. Menlu Sugiono menegaskan, penyampaian duka cita melalui surat resmi dinilai lebih berwibawa dan sesuai etika diplomatik daripada pengumuman di media sosial atau saluran publik lainnya.
Fakta-Fakta Penting Mengenai Sikap Indonesia
- Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan ucapan belasungkawa publik melalui media sosial atau media massa.
- Presiden Prabowo telah mengirimkan surat resmi ke Iran yang disampaikan langsung oleh Menlu Sugiono.
- Penolakan Iran terhadap tawaran mediasi Indonesia diduga terkait dengan sikap pemerintah RI yang dianggap dingin dan kurang konsisten.
- Pemerintah menilai surat resmi sebagai bentuk penghormatan diplomatik terbaik untuk peristiwa tersebut.
Langkah pemerintah memberikan contoh bagaimana diplomasi formal masih dijunjung sebagai standar dalam hubungan antarnegara, meski hal ini menimbulkan perdebatan di ruang publik. Pertanyaan Dino Patti Djalal menjadi pesan penting bagi pembuat kebijakan untuk merefleksikan bagaimana komunikasi publik dan diplomasi resmi dapat berjalan seimbang demi menjaga citra dan konsistensi hubungan luar negeri Indonesia.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




