
Keteguhan Sumarsih di Aksi Kamisan ke-900
Sumarsih telah teguh berjalan dalam perjuangan panjang selama lebih dari tiga dekade untuk mencari keadilan bagi anaknya, Bernardinus Realino Norma Irawan atau Wawan. Aksi Kamisan yang telah memasuki pelaksanaan ke-900 menjadi saksi bisu perjuangannya yang tak pernah surut meskipun keadilan bagi Wawan masih belum teraih.
Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, meninggal dunia setelah ditembak peluru tajam standar militer pada 13 November 1998. Ia terkena peluru tepat di dada kiri yang menembus jantung dan paru-paru saat membantu korban demonstrasi di halaman kampusnya. Kematian Wawan menjadi titik awal komitmen Sumarsih menuntut kebenaran di depan Istana Negara setiap Kamis sejak itu.
Latar Belakang Sumarsih dan Nilai Hidup yang Dipegang
Sumarsih lahir dan dibesarkan di Desa Rogomulyo, Kabupaten Semarang. Ia berasal dari keluarga petani sederhana yang sangat menekankan pendidikan sebagai bekal utama hidup. Prinsip itu melekat kuat, sehingga walau ayahnya wafat saat Sumarsih hendak melanjutkan kuliah, ia tetap berusaha membantu keluarga dengan bekerja sambil melanjutkan pendidikan yang mungkin.
Meskipun menghadapi hambatan dalam mendapat pekerjaan, Sumarsih tidak menyerah. Ia akhirnya bergabung sebagai petugas Keluarga Berencana dan juga berdedikasi sebagai guru yang memberinya ruang tersendiri untuk berkontribusi positif selain merawat keluarganya.
Perjalanan Hidup Bersama Keluarga dan Anak-Anaknya
Sumarsih menikah dengan Arief Priyadi, seorang intelektual yang bekerja di lembaga pemikir ternama. Mereka membangun keluarga dengan dua anak yang sangat ia cintai, Wawan dan Irma. Peran Sumarsih sebagai ibu dan pekerja kerap ia jalankan secara seimbang dengan prinsip kesetaraan dan mandiri.
Wawan dikenal sebagai anak yang rajin membaca dan memiliki rasa ingin tahu tinggi. Meski diperingatkan oleh Sumarsih untuk tidak ikut demonstrasi karena risiko yang besar, Wawan tetap aktif bersuara dan membantu sesama di masa gejolak politik 1998. Keterlibatannya dalam aksi demonstrasi dan keinginannya membantu korban akhirnya berujung pada tragedi Semanggi I yang menewaskannya.
Perjuangan Mencari Keadilan Setelah Kematian Wawan
Kematian Wawan menjadi duka mendalam yang menumbuhkan semangat juang Sumarsih menentang impunitas. Ia menolak santunan pemerintah sebesar Rp5 juta jika tidak disalurkan kepada pelaku penembakan atau setidaknya kepada prajurit TNI yang bertugas saat itu. Penolakannya tersebut membuatnya bersurat langsung kepada Menteri Sosial saat itu dan menggunakan jalur surat pembaca sebagai bentuk protes publik.
Upaya tersebut memicu perdebatan dan dianggap berani melawan pemerintah. Namun, bagi Sumarsih, ini adalah wujud konsistensi dan keberanian mempertahankan hak yang hilang. Ia menjadi salah satu figur penting di Aksi Kamisan, yang menyuarakan keadilan atas pelanggaran HAM sejak era Orde Baru hingga kini.
Pendapat Ahli dan Makna Aksi Kamisan dalam Konteks Impunitas
Antropolog Elizabeth Drexler menilai Aksi Kamisan adalah simbol perlawanan terhadap sistem impunitas dan kebijakan otoritarianisme yang membungkam akuntabilitas negara atas pelanggaran HAM. Ia mengamati bahwa struktur hukum, militer, birokrasi, hingga propaganda secara sistematik melanggengkan ketidakadilan.
Lewat Aksi Kamisan, para korban dan pendukungnya bertemu, saling menguatkan, dan memberi pesan bahwa negara tidak boleh bertindak semena-mena. Konsistensi gerakan ini, yang terus dijaga oleh Sumarsih, menjadi harapan untuk membuka ruang perubahan yang lebih terbuka dan adil.
Keteguhan Sumarsih Menolak Memaafkan Tanpa Keadilan
Hingga kini, Sumarsih belum memaafkan negara karena tidak ada yang mengaku serta bertanggung jawab atas kematian Wawan. Ia menegaskan bahwa pelanggaran terus berlanjut di berbagai daerah di Indonesia, menunjukkan negara belum belajar dari kesalahan masa lalu.
Perjuangan Sumarsih melampaui sekadar menuntut keadilan untuk anaknya. Perjuangan itu telah berubah menjadi upaya membela kemanusiaan dan mengingatkan pemerintah untuk bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang terus terjadi.
Fakta Singkat Perjalanan Perjuangan Sumarsih dan Aksi Kamisan
- Sumarsih memulai perjuangan setelah kematian Wawan pada 1998 akibat penembakan di masa kerusuhan pasca-Orde Baru.
- Menolak bantuan dana pemerintah dengan syarat tak terbayar ke orang yang membunuh anaknya.
- Menggunakan jalur publikasi surat pembaca demi menyuarakan tuntutannya.
- Konsisten hadir dalam Aksi Kamisan tiap Kamis selama bertahun-tahun, hingga mencapai 900 kali pelaksanaan.
- Menjadi simbol keteguhan lawan impunitas dan pelanggaran HAM di Indonesia.
Perjalanan Sumarsih mengajarkan bahwa pencarian kebenaran dan keadilan membutuhkan keberanian dan keteguhan hati meskipun waktu yang dihabiskan sangat lama. Aksi Kamisan bukan hanya ritual protes, tetapi juga sebuah ruang solidaritas dan kekuatan moral yang terus membara untuk memperbaiki wajah demokrasi dan suprema hukum di tanah air.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




