Dua nelayan Palestina berani mengayuh perahu kecil mereka hampir 200 meter ke laut lepas di pelabuhan Khan Younis, Gaza. Di pantai, Dawood Sehwail, nelayan berusia 72 tahun, memperhatikan jala yang robek dengan tatapan yang seolah memahami bahasa laut.
Sehwail terpaksa mengungsi dari Rafah akibat konflik berkepanjangan di Gaza. Ia datang setiap hari ke tepi laut untuk bernostalgia sekaligus mencari ketenangan di tengah kegetiran hidup. Ia menggambarkan suasana laut yang tak pernah kehilangan keajaibannya, meskipun kehidupan nelayan sering dibatasi dan terancam.
Kontrol Ketat atas Laut Gaza
Sejak blokade Israel yang dimulai tahun 2007, laut Gaza bukan lagi sumber kesejahteraan bagi masyarakat pesisir. Sebaliknya, laut dijadikan sarana kontrol yang membatasi mobilitas dan mengancam keselamatan para nelayan. Dawood Sehwail awalnya menjalankan bisnis batu sebelum beralih ke profesi nelayan karena pembatasan yang semakin ketat.
Menurut Sehwail, perahu dan alat tangkap nelayan sering menjadi sasaran serangan militer. Secara bertahap, kawasan zona penangkapan ikan yang diizinkan oleh Israel selalu dipersempit secara sepihak. “Setelah setiap serangan Israel, pelarangan makin ketat,” ujarnya.
Kerusakan dan Kehancuran Fasilitas Nelayan
Serangan udara Israel menghancurkan pelabuhan dan fasilitas penangkapan ikan di Gaza. Armada nelayan di Rafah, termasuk enam kapal trawler, lenyap akibat pemboman dan pembakaran. Di pelabuhan Khan Younis, kapal-kapal rusak dan terbakar kini berubah fungsi menjadi pondasi tenda pengungsian.
Para nelayan memanfaatkan barang-barang bekas seperti bagian kulkas sebagai alat apung. Mereka tidak memiliki mesin perahu, hanya mendayung dengan alat seadanya. Aktivitas mereka dipenuhi dengan risiko tinggi demi mencari ikan meskipun hanya sedikit untuk dikonsumsi.
Bahaya dan Ancaman Nyawa Di Laut
Menurut Gaza Fishermen’s Syndicate, sejak permulaan konflik besar pada Oktober lalu, sedikitnya 238 nelayan tewas akibat tindakan militer Israel. Dari lebih 5.000 nelayan yang dulu ada, banyak yang kehilangan sumber penghidupannya.
Ketidakjelasan zona penangkapan laut membuat nelayan hanya berani menjauh sekitar 800 meter dari garis pantai. Kesempatan untuk menangkap ikan sangat bergantung pada keputusan militer yang dapat berubah sewaktu-waktu. "Terkadang mereka menembak atau menenggelamkan perahu kami, tergantung pada mood tentara," kata Sehwail.
Laut sebagai Sumber Pangan Penting yang Terbatas
Sebelum konflik memburuk, sektor perikanan di Gaza menyuplai protein penting bagi ribuan keluarga. Namun, menurut PBB, produksi hanya berfungsi sekitar 7,3 persen dari kapasitas sebelum krisis. Sekitar 72 persen armada ikan rusak atau hancur akibat serangan.
Pembatasan yang ketat membatasi nelayan hanya mendapat ikan-ikan kecil dan muda, yang sebenarnya masih seharusnya diperbolehkan tumbuh. Harga ikan impor beku di pasar jauh lebih mahal dibandingkan ikan segar lokal sebelum konflik, padahal daya beli masyarakat menurun drastis akibat krisis ekonomi.
Tantangan Pemulihan dan Harapan Nelayan Gaza
Zakaria Baker, ketua Gaza Fishermen Syndicate, menegaskan bahwa rekonstruksi sektor ini tak hanya membutuhkan gencatan senjata. Peralatan dan bantuan teknis masih sulit masuk akibat pembatasan ketat Israel.
Nelayan Gaza adalah masyarakat sederhana yang hanya berharap bisa mencari nafkah dengan aman dan bermartabat. “Kami ingin menghadirkan masa depan yang layak untuk keluarga kami tanpa harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk menangkap sedikit ikan,” ujar Sehwail.
Upaya mempertahankan tradisi dan mata pencaharian melalui perikanan di Gaza kini penuh risiko dan ketidakpastian. Laut yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi arena konflik dan perjuangan bertahan hidup bagi para nelayan Palestina.









