Mojtaba Khamenei Penguasa Baru Iran Wariskan Kekuasaan Hardline Ayahnya, Ancaman Berat bagi Pesaing dan Stabilitas Regional

Mojtaba Khamenei resmi diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran. Ia adalah putra dari almarhum Ayatollah Ali Khamenei sekaligus penerus kekuasaan yang melanjutkan garis keras ayahnya.

Pada usia 56 tahun, Mojtaba tidak pernah memiliki jabatan resmi selama masa kepemimpinan ayahnya. Namun, banyak spekulasi menyebutkan ia berperan besar di balik layar dalam mengendalikan pusat kekuasaan Iran.

Keterkaitan dengan Konservatif dan Militer

Mojtaba dikenal dekat dengan kelompok konservatif dan memiliki hubungan kuat dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). IRGC menjadi salah satu pendukung utama pengangkatannya, langsung mengumumkan kesetiaan kepada pemimpin baru.

Selain dukungan dari IRGC, Presiden Masoud Pezeshkian, angkatan bersenjata, dan lembaga peradilan juga memberikan pengesahan resmi terhadap jabatan Mojtaba dalam waktu singkat usai pengumuman.

Pengaruh dan Kontroversi

Karena sikapnya yang tertutup di publik dan minim ekspos media, pengaruh Mojtaba kerap menjadi bahan spekulasi, baik di dalam negeri maupun kalangan diplomat asing. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Ali Khamenei sempat mendelegasikan sebagian tanggung jawabnya kepada Mojtaba selama beberapa tahun terakhir.

AS pernah menjatuhkan sanksi pada Mojtaba di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Pemerintah AS menilai Mojtaba menjalankan kepemimpinan ayahnya di balik layar dan terlibat dalam kebijakan represif serta ambisi destabilisasi regional Iran.

Latar Belakang dan Pendidikan

Mojtaba lahir di kota suci Mashhad pada tahun 1969. Ia dikenal sebagai seorang ulama dengan janggut bercampur abu-abu dan mengenakan sorban hitam khas keturunan Nabi Muhammad atau "seyyed". Pengalaman militernya meliputi keterlibatan dalam Perang Iran-Irak pada 1980-an.

Secara akademis, Mojtaba menempuh pendidikan teologi di kota Qom, pusat pendidikan agama Syiah di selatan Teheran. Ia pernah mengajar di sana dan mencapai gelar Hujjat al-Islam sebelum diangkat sebagai ayatollah setelah resmi menjadi pemimpin tertinggi.

Kekayaan dan Hubungan Keluarga

Investigasi oleh Bloomberg mengungkapkan bahwa Mojtaba memiliki kekayaan yang diperkirakan lebih dari 100 juta dolar. Kekayaan ini diduga berasal dari hasil kanal penjualan minyak yang dialirkan ke investasi properti mewah di Inggris, hotel di Eropa, dan properti di Dubai melalui perusahaan cangkang di surga pajak.

Salah satu peristiwa tragis menyertai pengangkatan Mojtaba, di mana istrinya, Zahra Haddad-Adel, dilaporkan meninggal dunia dalam serangan udara AS-Israel yang juga menewaskan ayahnya.

Reaksi dan Mekanisme Transisi

Sidang Majelis Ahli Ulama yang terdiri dari 88 anggota terpilih secara demokratis menjadi lembaga yang secara resmi menunjuk Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi. Majelis ini sebelumnya juga berperan dalam pengangkatan Ali Khamenei setelah wafatnya Ruhollah Khomeini.

Meskipun revolusi Islam Iran menentang sistem monarki sejak lama, pengangkatan Mojtaba dianggap sebagai bentuk transisi yang hampir bersifat turun-temurun, kendati Ali Khamenei sebelumnya menolak konsep suksesi semacam itu.

Pernyataan dari Israel memperingatkan dengan tegas bahwa tangan Israel akan terus mengikuti penguasa baru dan siap menghadapi setiap tindakan yang dilakukan oleh penerus kakek tersebut.

Informasi ini menggambarkan profil Mojtaba Khamenei sebagai sosok yang kompleks. Ia konsisten mewarisi garis keras dan struktur kekuasaan ayahnya, sekaligus menghadapi tantangan legitimasi di tingkat domestik dan internasional.

Berita Terkait

Back to top button