Mojtaba Khamenei Pewaris Kekuasaan Ayatollah, Kekuatan Militan yang Mengancam Reformasi Iran dan Menantang Barat

Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei, baru-baru ini dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran oleh Majelis Ahli. Keputusan ini diumumkan beberapa hari setelah kematian sang ayah akibat serangan udara, mengukuhkan posisi kaum garis keras di republik Islam tersebut.

Mojtaba kini berusia 56 tahun dan dikenal sebagai seorang ulama tingkat menengah dengan pengaruh besar dalam lingkaran keamanan dan bisnis yang didominasi oleh pasukan elit Iran. Perannya selama ini memang menjadi pintu gerbang bagi akses kekuasaan ayahnya, memposisikannya sebagai sosok penting di balik layar politik dan keamanan di negara itu.

Latar Belakang dan Hubungan Kuat dengan IRGC

Mojtaba telah lama memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah institusi militer dan politik yang sangat berpengaruh di Iran. Menurut Kasra Aarabi dari organisasi United Against Nuclear Iran, Mojtaba mendapatkan dukungan kuat dari kalangan IRGC, terutama generasi muda yang lebih radikal. Hubungan ini memberinya leverage besar dalam berbagai keputusan dan kebijakan strategis negara.

Sosok Mojtaba juga dikenal menentang upaya reformasi yang berusaha membuka dialog dengan Barat, apalagi terkait program nuklir Iran yang kerap menjadi sorotan internasional. Program tersebut secara resmi diklaim untuk tujuan sipil, tapi kekhawatiran akan pengembangan senjata nuklir masih menjadi isu utama bagi banyak negara Barat.

Kontroversi dan Kritik

Mojtaba Khamenei tidak memiliki posisi formal dalam pemerintahan Iran. Meski demikian, kekuasaannya berasal dari kedekatan dengan ayahnya dan pengaruh di dalam lingkaran militer serta bisnis. Posisi ini menimbulkan kritik keras di kalangan warga Iran dan pengamat internasional yang menilai langkah ini sebagai bentuk nepotisme atau politik dinasti, sesuatu yang bertentangan dengan semangat revolusi Iran tahun 1979.

Selain itu, ia pernah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat pada 2019 karena dianggap menjalankan peran dalam mendukung ambisi regional yang bermuatan destabilisasi dan kebijakan domestik yang represif. Aktivis dan pengunjuk rasa di Iran juga mengkritiknya sebagai simbol pengekangan dan kekerasan pemerintah, khususnya saat gelombang demonstrasi besar pada 2022 menuntut kebebasan lebih dan menentang pelanggaran hak asasi manusia.

Riwayat Pribadi dan Pendidikan Keagamaan

Lahir di kota suci Syiah, Mashhad, Mojtaba tumbuh dalam suasana revolusi melawan rezim Shah Pahlevi. Ia menjalani pendidikan agama konservatif di seminar-seminar Qom hingga meraih gelar Hojjatoleslam, yang setingkat di bawah Ayatollah. Selama masa mudanya, ia juga ikut berperang dalam konflik Iran-Irak.

Meski jarang tampil di publik dan tidak aktif dalam posisi pemerintahan, perannya sebagai "penjaga pintu" ayahnya memberi pengaruh besar. Namun, ada kekhawatiran dari banyak pihak bahwa gelarnya yang belum mencapai level Ayatollah dapat menjadi hambatan tradisional dalam menduduki jabatan tertinggi keagamaan dan politik di Iran.

Dinamika Politik dan Masa Depan

Pemilihan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran dipengaruhi oleh kematian mendadak kandidat lain, mantan Presiden Ebrahim Raisi, yang meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter. Penunjukan ini juga mendapat penolakan dari Amerika Serikat yang menilai sosok Mojtaba tidak dapat diterima dalam konteks kebijakan luar negeri.

Sebelumnya, Mojtaba diduga memainkan peran penting dalam kemunculan mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan mendukung masa jabatan keduanya, termasuk selama pemilu kontroversial 2009 yang memicu kerusuhan besar. Hubungan eratnya dengan pasukan Basij, milisi agama yang seringkali bertindak represif, menambah dimensi kontroversial terhadap pengaruhnya di Iran.

Mojtaba kini menghadapi tantangan berat dari rakyat Iran yang telah menunjukkan keberanian menggelar protes besar demi hak dan kebebasan meski diwarnai tindakan kekerasan pemerintah. Dengan segala kontroversi dan tantangan yang ada, masa depan kepemimpinan tertinggi Iran akan sangat bergantung pada bagaimana Mojtaba menavigasi kekuasaan internal dan tekanan eksternal.

Terkait