Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal bahwa konflik antara AS dan Iran kemungkinan besar akan segera berakhir. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar yang masih waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, terutama yang melewati jalur strategis Selat Hormuz.
Pada Senin malam (9/3) waktu setempat, harga minyak mentah Brent turun sekitar 4,3% menjadi 94,62 dolar AS per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di AS juga melemah 3,8% ke level sekitar 91 dolar AS per barel. Penurunan ini cukup tajam mengingat pada awal pekan harga sempat melonjak melampaui 100 dolar AS per barel.
Pengaruh Pernyataan Presiden Trump terhadap Harga Minyak
Penurunan harga minyak terutama dipicu oleh pernyataan Trump yang menyatakan bahwa perang dengan Iran kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Namun, Trump tetap memperingatkan bahwa jika Iran mencoba mengganggu aliran minyak di Selat Hormuz, AS akan memberikan respons yang jauh lebih keras. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan, "Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini."
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak dunia. Data dari Kpler memperkirakan sekitar 13 juta barel minyak per hari atau sekitar 31% dari total perdagangan minyak laut dunia melewati selat ini pada tahun 2025. Jalur tersebut menghubungkan negara-negara produsen utama di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab menuju Laut Arab dan Teluk Oman.
Potensi Gangguan Pasokan dan Dampak Geopolitik
Pasar minyak tetap berhati-hati meskipun ada sinyal peredaan ketegangan. Selat Hormuz kerap menjadi titik rawan konflik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya memperingatkan agar kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz berhati-hati mengingat situasi yang belum stabil di kawasan tersebut.
Trump juga menyampaikan bahwa kapal-kapal tanker masih terus melintasi jalur Selat Hormuz dan mempertimbangkan opsi mengambil alih kendali jalur pelayaran tersebut demi mengamankan kepentingan energi global. Ia menilai terbukanya kembali jalur pelayaran ini sebagai "hadiah" bagi China dan negara-negara yang sangat bergantung pada jalur tersebut.
Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, menilai pernyataan Trump berkontribusi langsung pada penurunan harga minyak yang sempat melonjak. Ia menyebut aktivitas verbal dari Presiden AS tersebut sebagai "intervensi verbal" yang mampu meredam ketegangan pasar.
Dampak Jangka Pendek terhadap Pasar Energi
Penurunan harga minyak setelah sinyal positif dari Trump memungkinkan negara-negara pengimpor minyak untuk sedikit bernapas lega. Namun, ketidakpastian masih membayangi pasar karena jalur Selat Hormuz tetap menjadi titik kritis yang harus diawasi. Fluktuasi harga minyak global masih rentan terhadap perkembangan geopolitik dan konflik di wilayah Teluk Persia.
Ke depan, stabilitas kawasan serta sikap politik dari AS dan Iran akan menjadi faktor penentu utama pergerakan harga minyak dunia. Meski ada optimisme pasar saat ini, pasar energi diperkirakan akan tetap resisten terhadap berita negatif yang dapat memicu gangguan pasokan minyak secara mendadak.
Penguatan ketahanan jalur pelayaran dan diplomasi yang konstruktif diperlukan agar suplai energi global tetap terjamin dan harga minyak tidak mengalami gejolak ekstrem yang dapat berdampak luas pada ekonomi dunia.





