Perang di Timur Tengah kini diwarnai sebaran disinformasi yang didorong oleh kecanggihan kecerdasan buatan (AI). Tidak hanya gambar sepenuhnya palsu, tetapi juga foto asli yang "ditingkatkan" dengan AI menyebar luas dan mengubah persepsi publik terhadap kondisi sebenarnya di lapangan.
Salah satu contoh menarik adalah foto seorang pilot Amerika Serikat yang berlutut dan berhadapan dengan warga Kuwait setelah terjun payung dari jetnya. Foto ini tersebar luas di media sosial dan beberapa media arus utama, meski ditemukan keanehan pada jumlah jari di tangan pilot tersebut yang tampak hanya empat.
Manipulasi Halus Pada Foto Asli
Para pemeriksa fakta dari AFP menggunakan alat deteksi AI dan menemukan adanya SynthID, sebuah watermark tak terlihat yang menandai gambar hasil modifikasi Google AI. Namun, peristiwa dalam gambar ini sendiri ternyata nyata. Video adegan serupa beredar di media sosial dan lokasi kejadian dapat diverifikasi melalui citra satelit, yang juga sejalan dengan laporan saat itu mengenai kecelakaan pesawat militer AS di Kuwait.
AFP juga menemukan versi awal foto tersebut yang beredar di Telegram dengan kualitas lebih buram dan tanpa tanda-tanda manipulasi AI. Hal ini menunjukkan foto beresolusi tinggi dengan anomali tersebut kemungkinan besar merupakan hasil peningkatan atau "enhancement" dari gambar asli.
Profesor AI di Universitas Amsterdam, Evangelos Kanoulas, menjelaskan bahwa "peningkatan AI dapat secara halus mengubah tekstur, wajah, pencahayaan, atau latar belakang, sehingga membuat gambar terlihat lebih ‘nyata’ daripada aslinya." Perubahan ini dapat memperkuat narasi tertentu tentang suatu peristiwa dengan menambah intensitas ekspresi atau dramatika visual.
Dampak Visual yang Berbeda
Kasus lain melibatkan gambar kebakaran besar di dekat bandara Erbil, Irak, setelah serangan rudal Iran. Meskipun gambar tersebut juga dideteksi menggunakan Google AI, versi asli memperlihatkan api dan asap yang jauh lebih kecil dengan warna lebih redup. Perbedaan ini bisa mengubah kesan publik terhadap skala dan dampak serangan tersebut.
James O’Brien, profesor ilmu komputer dari Universitas California, Berkeley, memperingatkan bahwa batas antara peningkatan gambar dengan pembuatan konten baru sangat tipis. "Perubahan kecil dapat menghasilkan cerita yang sangat berbeda dan mengubah persepsi publik terhadap kejadian," ujarnya.
Risiko Kesalahan dan Penafsiran
AI generatif masih rentan membuat kesalahan atau "halusinasi," yakni menambahkan elemen yang sebenarnya tidak ada dalam gambar asli. Contohnya muncul pada kasus penembakan Alex Pretti oleh agen imigrasi federal di Minneapolis. Gambar AI yang diolah dari video asli menunjukkan Pretti yang memegang objek yang sebenarnya adalah telepon, tapi beberapa pengguna sosial salah mengira itu senjata.
Perang yang berkepanjangan antara AS, Israel, dan Iran telah memperparah risiko menurunnya kepercayaan publik terhadap berita dan gambar yang beredar. Tanpa label jelas, foto yang diolah AI semakin membuat orang sulit membedakan mana yang asli dan mana yang telah dimanipulasi.
James O’Brien menegaskan bahwa jenis konten ini berdampak besar pada kemampuan masyarakat untuk mempercayai kebenaran. Evangelos Kanoulas menambahkan bahwa "orang mulai meragukan gambar asli sekalipun," yang mengancam integritas informasi di masa konflik.
Daftar Risiko AI-Enhanced Images dalam Perang Timur Tengah:
- Memperkuat narasi subjektif yang tidak akurat.
- Mengubah detail visual hingga membuat kesan palsu.
- Membingungkan publik terkait fakta sebenarnya.
- Menimbulkan ketidakpercayaan terhadap media dan sumber resmi.
- Penyebaran kesalahan tafsir yang bisa memicu ketegangan lebih lanjut.
Kehadiran dan penyebaran gambar yang ditingkatkan oleh AI menuntut kewaspadaan tinggi dari media dan masyarakat agar informasi yang didapatkan tetap dapat dipertanggungjawabkan. Pemahaman kritis dan verifikasi fakta menjadi kunci untuk mengatasi gelombang disinformasi di era teknologi ini.







