Amerika Serikat secara resmi mengecam pemerintah Taliban di Afghanistan atas penahanan warga negaranya. Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, menyatakan Taliban sebagai "negara pendukung penahanan salah," dan meminta pembebasan segera semua warga Amerika yang ditahan, termasuk Mahmood Habibi dan Dennis Coyle.
Rubio menegaskan bahwa Taliban masih menggunakan taktik terorisme dengan menculik untuk mendapatkan tebusan atau konsesi kebijakan. Ia juga memperingatkan bahwa perjalanan warga AS ke Afghanistan tidak aman karena risiko penahanan sewenang-wenang.
Desakan Pembebasan dan Dampak Perjalanan
Pemerintah AS menuntut pemerintah Taliban membebaskan Mahmood Habibi, mantan kepala penerbangan sipil Afghanistan, dan Dennis Coyle yang masih ditahan. Selain itu, AS juga mencari kepulangan jenazah Paul Overby, seorang penulis yang hilang dekat perbatasan Afghanistan dan Pakistan sejak 2014.
Jika Taliban tidak memenuhi tuntutan AS, pemerintah Amerika dapat melarang penggunaan paspor AS untuk perjalanan ke Afghanistan. Saat ini, pembatasan semacam ini hanya berlaku untuk perjalanan ke Korea Utara.
Langkah Serupa Terhadap Negara Lain
Sebelumnya, pada akhir Februari, Marco Rubio juga mengumumkan penetapan Iran sebagai negara pendukung penahanan salah berdasarkan perintah eksekutif. Meski ada ancaman pembatasan perjalanan ke Iran, hingga kini pembatasan tersebut belum diterapkan.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat tajam setelah pengumuman tersebut, dengan peluncuran konflik militer antara kedua negara yang terjadi beberapa waktu kemudian.
Respons dan Situasi di Afghanistan
Pemerintah Taliban hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan dan desakan AS. Taliban sendiri sempat membantah keberadaan penahanan Mahmood Habibi.
Organisasi berita CBS News pertama kali melaporkan mengenai kemungkinan penetapan Afghanistan sebagai negara pendukung penahanan salah oleh AS. Keputusan ini menunjukkan eskalasi ketegangan diplomatik antara kedua negara pasca pengambilalihan Taliban atas Afghanistan.
Potensi Dampak dan Perkembangan Selanjutnya
Jika larangan perjalanan diberlakukan, hal tersebut dapat membatasi mobilitas warga AS dan memperdalam isolasi Afghanistan secara internasional. Langkah AS ini menjadi sinyal keras terhadap pemerintahan Taliban terkait penghormatan hak asasi dan keamanan warga asing.
AS terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan mitra internasional untuk menindaklanjuti kebijakan terkait penahanan tidak adil oleh Taliban. Masyarakat internasional diharapkan memperhatikan perkembangan ini karena berimplikasi serius pada isu hak asasi dan stabilitas regional.







