Iran memperingatkan warganya agar tidak menggelar demonstrasi anti-pemerintah di tengah ancaman dari Israel yang menyasar pasukan paramiliter Basij. Pejabat Iran menegaskan, setiap aksi yang dianggap sebagai upaya pemberontakan akan ditindak tegas sebagai tindakan melawan negara.
Presiden Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel telah menyerukan tumbangnya rezim teokrasi yang berusia hampir lima dekade di Iran. Mereka mengimbau para warga Iran untuk tetap waspada di rumah dan siap memanfaatkan peluang untuk perubahan.
Kepala polisi Iran, Ahmad-Reza Radan, menyatakan melalui televisi negara bahwa mereka tidak akan melihat pengunjuk rasa yang terpengaruh musuh sebagai demonstran biasa. “Kami menganggap mereka musuh dan akan bertindak sesuai dengan itu,” ujarnya.
Pasukan kepolisian dan Basij telah melakukan patroli intensif di segala waktu di sejumlah kota besar sejak awal konflik antara AS-Israel dengan Iran berlangsung dua belas hari lalu. Checkpoint bersenjata Basij juga rutin didirikan di jalan utama, terutama di dekat markas militer dan polisi.
Media negara Iran memutar rekaman kendaraan lapis baja dan pasukan bersenjata yang berkumpul dalam unjuk rasa mengutuk pembunuhan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Mereka memperingatkan agar tidak ada sentimen anti-pemerintah yang muncul.
Selain itu, para pendukung didorong untuk berkumpul di masjid-masjid sambil mengusung slogan anti-AS dan Israel, disertai pasukan Basij bersenjata lengkap. Namun, militer Israel cenderung menghindari sasaran berupa tempat ibadah secara langsung.
Serangan bom yang menewaskan beberapa warga sipil di jalan raya Tehran menjadi bukti eskalasi kekerasan. Selain itu, gedung administratif Bank Sepah yang berhubungan dengan angkatan bersenjata Iran juga diserang dengan rudal semalam.
Pusat komando Khatam al-Anbiya milik IRGC mengumumkan penambahan target serangan yang mencakup kepentingan ekonomi dan perbankan AS dan Israel di kawasan. Ini menunjukkan dimensi baru dalam konflik kedua negara.
Militer Israel bahkan merilis pesan yang ditujukan kepada ibu-ibu anggota Basij dan IRGC agar meyakinkan anak-anak mereka untuk menyerahkan senjata guna menghindari serangan udara. Ini merupakan indikasi penargetan yang lebih spesifik terhadap pasukan bawah Iran.
Perdana Menteri Israel, Netanyahu, menegaskan bahwa pejabat tinggi Iran sudah mengalami tekanan dan akan memberikan kesempatan rakyat Iran untuk menentukan nasib mereka. Pernyataan ini semakin memperkuat ketegangan regional.
Prosesi pemakaman Komandan Basij dan IRGC yang gugur berturut-turut digelar di Tehran dan kota-kota lain. Serangan udara baru juga dilaporkan mengguncang ibu kota di siang hari, menambah ketidakstabilan keamanan.
Menurut Iran, korban tewas akibat konflik kini mencapai lebih dari 1.250 jiwa, sebagian besar adalah warga sipil yang menjadi sasaran bom dari AS dan Israel. Sementara militer Israel mengklaim telah menewaskan lebih dari 1.900 personel militer Iran.
Warga Iran kini menjalani hari-hari ketiga belas dalam kondisi pemadaman internet total hampir seluruh negeri yang diberlakukan pemerintah. Penggunaan intranet nasional berfungsi agar layanan penting tetap berjalan dan informasi dapat dikendalikan oleh media negara.
Media pemerintah terus menyuarakan kemarahan terhadap AS dan Israel serta ancaman kepada warga Iran yang dianggap mendukung musuh. Beberapa anggota tim sepak bola wanita Iran yang menolak menyanyikan lagu kebangsaan kemudian mendapat suaka di Australia.
Sebuah siaran televisi Iran memperingatkan warga Iran di dalam dan luar negeri yang dianggap mendukung kebijakan Barat, termasuk pendukung Reza Pahlavi putra mantan shah, yang ingin menggulingkan rezim saat ini. Ancaman berupa penyitaan aset juga dilancarkan terhadap diaspora.
Sanksi ketat dan operasi pengawasan ketat menjadi tanda bahwa pemerintah Iran bertekad mempertahankan kekuasaan di tengah tekanan serangan asing dan potensi pemberontakan internal. Keamanan nasional dan stabilitas politik menjadi prioritas utama dalam situasi krisis ini.









