Israel Hantam Pinggiran Beirut Setelah Ribuan Roket Hezbollah Menggempur, Ketegangan Meruncing di Panggung Perang Iran dan Sekutunya

Serangan udara Israel menggempur pinggiran selatan Beirut setelah kelompok bersenjata Hezbollah meluncurkan ratusan roket ke wilayah utara Israel. Aksi ini menjadi eskalasi terbaru dalam konflik yang semakin memanas antara Israel dengan kelompok yang didukung Iran tersebut.

Hezbollah menyatakan telah meluncurkan puluhan roket sebagai bagian dari “serangkaian operasi” balasan terhadap pembunuhan pemimpin tertinggi Iran yang memicu perang antara AS, Israel, dan Iran. Sumber keamanan Lebanon mengonfirmasi bahwa lebih dari 100 roket ditembakkan ke wilayah utara Israel.

Serangan Balasan dan Dampaknya di Beirut

Israel melakukan serangan kilat yang menghantam sepuluh markas Hezbollah dalam waktu setengah jam, termasuk markas unit elit Radwan. Langit pinggiran selatan Beirut diselimuti asap tebal dan bangunan-bangunan terbakar, menunjukkan intensitas gelombang serangan udara tersebut.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya delapan korban tewas pada serangan di kawasan pesisir Ramlet al-Baida. Sejak konflik ini meletus, sudah tercatat 634 warga Lebanon tewas, termasuk 91 anak-anak.

Krisis Pengungsian di Lebanon

Serangan udara Israel telah memaksa sekitar 800.000 warga Lebanon mengungsi. Namun, hanya kurang dari seperempat dari mereka yang mendapatkan akses ke tempat penampungan pemerintah. Kondisi di tempat penampungan dikatakan sangat memprihatinkan, tanpa fasilitas memadai seperti kamar mandi dan area yang memungkinkan menjaga jarak fisik.

Banyak pengungsi memilih kembali ke rumah meskipun risiko serangan masih tinggi, karena tidak memiliki tempat lain yang lebih aman. Pejabat dari Norwegian Refugee Council menggambarkan situasi ini sebagai “kondisi sangat berat” bagi pengungsi.

Korban Sipil dan Tokoh Kemanusiaan

Korban bukan hanya warga biasa, tetapi juga tokoh kemanusiaan dan keagamaan. Imam Katolik Pierre al-Rahi yang meninggal akibat serangan Israel dimakamkan dengan penghormatan khusus. Begitu pula Youssef Assaf, seorang petugas medis Palang Merah yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan.

Perdana Romo Leo menyampaikan belasungkawa dan menyebut al-Rahi sebagai “gembala sejati”. Komite Palang Merah Internasional juga berduka atas kepergian Assaf.

Situasi di Wilayah Israel dan Respons Militer

Sebanyak dua orang di utara Israel dilaporkan mengalami luka ringan akibat roket. Sistem pertahanan udara Israel berhasil mencegat banyak roket sebelum mencapai target. Namun, beberapa roket masih jatuh dan menimbulkan kekhawatiran terhadap warga sipil.

Militer Israel memperingatkan akan menggunakan “kekuatan besar” dalam menindak Hezbollah dan mengimbau warga untuk segera mengungsi dari area berbahaya. Selain serangan udara, Israel juga mengerahkan pasukan darat, termasuk brigade elit Golani, dan membangun posisi di perbatasan selatan Lebanon.

Politik dan Diplomasi di PBB

Dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, duta besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mendesak Lebanon untuk mengambil tindakan nyata melawan Hezbollah. Ia mempertanyakan bukti-bukti yang menunjukkan Lebanon benar-benar berusaha membongkar kelompok bersenjata itu.

Lebanon sendiri telah berupaya untuk memonopoli senjata di negara tersebut dan mengesahkan pelarangan kegiatan militer Hezbollah, meskipun realisasinya masih penuh tantangan mengingat dukungan kuat yang dimiliki kelompok ini.

Ketegangan antara Israel dan Hezbollah terus berlanjut dengan risiko konflik yang semakin melebar. Serangan dan balasan roket menunjukkan potensi eskalasi dalam waktu dekat, sementara krisis kemanusiaan di Lebanon semakin mendalam akibat gelombang pengungsian yang masif. Monitoring internasional dan upaya diplomasi tetap diperlukan untuk menghindari konflik yang lebih luas dan korban yang lebih banyak.

Terkait