Pemimpin Iran menunjukkan tekad kuat mempertahankan keberlangsungan sistem republik Islam yang telah berdiri hampir setengah abad. Mereka berupaya membuktikan bahwa rezim ini mampu bertahan meski menghadapi kematian pemimpin lama dan konflik militer dengan Amerika Serikat serta Israel.
Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi sejak wafatnya pendiri revolusi Ruhollah Khomeini pada 1989, tewas dalam serangan udara yang juga menewaskan beberapa anggota keluarga dan tokoh keamanan penting. Namun, struktur kekuasaan berbasis Islam Syiah dan sikap anti-Barat tetap kokoh meskipun kini dipimpin oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Pengaruh Revolusi Guards Meningkat
Mojtaba Khamenei yang dikenal sebagai sosok garis keras, semakin memperkuat peran Pasukan Pengawal Revolusi (Revolutionary Guards). Angkatan bersenjata ini tidak hanya menjaga keberlangsungan rezim, tapi juga memiliki pengaruh besar dalam bidang ekonomi dan politik Iran. Profesor Thomas Juneau dari University of Ottawa menegaskan, “Sistem ini tangguh dan memiliki rencana kontinjensi yang terorganisir dengan baik.”
Menurut Juneau, kesinambungan menjadi bagian fundamental dari sistem, sehingga tidak ada tanda-tanda runtuhnya republik Islam dalam waktu dekat. Ini menunjukkan bahwa perubahan dapat terjadi, tetapi esensi kekuasaan dan institusi tetap dipertahankan.
Sikap Defensif dan Respon Pemerintah
Saat demonstrasi di Tehran berlangsung dengan latar ledakan-ledakan di sekitar, tokoh penting pemerintahan Iran tetap menunjukkan sikap tegas. Kepala keamanan nasional, Ali Larijani, menyatakan bahwa tekanan dari AS justru menguatkan tekad bangsa. Sementara itu, kepala kehakiman Gholam Hossein Mohseni Ejei tetap tenang meski terjadi ledakan dekat lokasi pertemuan.
Mojtaba dan beberapa pejabat tinggi lainnya, termasuk pembicara parlemen dan mantan komandan Pasukan Pengawal Revolusi, tidak hadir dalam aksi tersebut. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai strategi dan koordinasi internal rezim.
Konflik Berkepanjangan dan Dampaknya
Analisis dari Torbjorn Soltvedt, direktur asosiasi firma analisis risiko Verisk Maplecroft, menyebut konflik ini mengalami pola yang berbahaya dan sulit untuk segera diselesaikan. Iran mampu melakukan serangan balasan secara rutin pada infrastruktur energi dan pengiriman barang, meskipun mendapat serangan udara yang intensif dari AS dan Israel.
Ketahanan rezim ini sangatlah tinggi, didukung oleh kontrol ketat dari kantor pemimpin tertinggi dan faksi garis keras dalam militer dan politik. Barbara Slavin dari Stimson Center menambahkan, kekuatan Mojtaba sangat bergantung pada dukungan Revolusi Guards yang dominan secara politik dan ekonomi dalam dua dekade terakhir.
Masa Depan dan Narasi Kemenangan
Jika republik Islam berhasil bertahan dari perang ini, rezim akan mengadopsi narasi serupa dengan yang terjadi setelah perang dengan Irak pada 1980-an, yang disebut sebagai "perang yang dipaksakan". Juneau menyatakan, “Jika mereka bertahan, maka bisa mengklaim kemenangan, meskipun dengan biaya yang besar.”
Khamenei dan para pemimpin lainnya harus menghadapi kenyataan bahwa perjuangan mempertahankan pemerintahannya telah mengakibatkan kejatuhan kepemimpinan, kerusakan kemampuan militer, dan kerugian ekonomi yang signifikan. Namun, tekad mempertahankan sistem tetap menjadi prioritas utama bagi rezim yang berusaha menunjukkan ketahanannya di tengah krisis.
Pemimpin Iran terus memusatkan kekuatannya pada struktur kekuasaan yang telah terbangun lama dan mempertahankan pengaruh Pasukan Pengawal Revolusi. Mereka berusaha menunjukkan bahwa sistem republik Islam bukan hanya bertahan dari aksi militer maupun dugaan tekanan eksternal, tapi juga mampu beradaptasi tanpa kehilangan stabilitas inti negara.







