Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka dan dapat dilalui kapal-kapal dari negara-negara yang mematuhi protokol keamanan di kawasan tersebut. Pengaturan ini khusus berlaku di masa konflik dan perang, sehingga hanya kapal yang tidak bekerja sama dengan musuh dan mematuhi aturan yang diizinkan melintas.
Boroujerdi memberikan contoh konkret bahwa kapal-kapal Indonesia mendapat izin untuk melintasi Selat Hormuz. Ia menambahkan bahwa Iran menjaga ketat keamanan jalur tersebut, terutama di tengah serangan yang terus terjadi dari Amerika Serikat dan Israel. Hal ini menunjukkan bahwa kendati situasi tegang, Iran tetap membuka akses bagi negara-negara yang tidak mendukung musuhnya.
Kriteria Negara yang Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Iran hanya memperbolehkan kapal dari negara yang tidak memberikan basis atau akses bagi pihak musuh. Selain itu, kapal-kapal tersebut harus mengikuti protokol lalu lintas maritim yang berlaku saat situasi perang atau konflik. Boroujerdi menegaskan bahwa keselamatan Selat Hormuz adalah prioritas, dan jika jalur itu tidak aman bagi Iran, maka juga tidak aman bagi negara lain.
Berikut kriteria utama yang harus dipenuhi kapal dan negara agar diperbolehkan melintasi Selat Hormuz:
- Tidak bekerja sama dengan pihak musuh Iran.
- Mematuhi aturan protokol lalu lintas yang berlaku selama masa perang.
- Tidak memberikan wilayahnya sebagai basis serangan terhadap Iran.
Negara yang Dilarang Melintasi Selat Hormuz
Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit oleh Dubes Boroujerdi, negara yang dianggap mendukung pihak imperialis dan Zionis—seperti yang disebut sebagai musuh oleh Iran—tidak akan diizinkan mengoperasikan kapal melewati jalur tersebut. Negara-negara tersebut biasanya memberikan dukungan militer atau akses wilayah bagi serangan terhadap Iran. Iran memperlakukan Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang harus dijaga keamanannya demi stabilitas regional dan keamanan nasional.
Selat Hormuz sebagai Jalur Strategis
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk dan penting di dunia, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Banyak negara bergantung pada jalur ini untuk ekspor minyak dan kelancaran perdagangan. Oleh karena itu, keamanan dan keterbukaan selat harus dijaga dengan cermat agar tidak berdampak pada stabilitas ekonomi global.
Duta Besar Boroujerdi menyatakan, “Jika ini tidak aman bagi kami, maka tidak aman bagi semuanya.” Pernyataan ini menegaskan posisi Iran untuk memastikan jalur tersebut aman bagi kapal yang tunduk pada protokol perang dan tidak memihak musuh.
Iran pun berkomitmen untuk terus melawan berbagai serangan yang menargetkan warga serta fasilitas sipil, tanpa kompromi. Situasi ini menambah konteks mengapa Selat Hormuz harus diawasi ketat dan masyarakat internasional memahami peran protokol lalu lintas yang diterapkan khususnya untuk kapal asing.
Informasi ini penting bagi negara-negara yang menggunakan Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan utama agar memahami dinamika keamanan yang tengah berlangsung. Kepatuhan pada protokol dan kebijakan Iran menjadi kunci agar kapal-kapal dapat melintas dengan aman dan lancar, menghindari gesekan yang dapat memperburuk ketegangan di kawasan tersebut.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id




