Ketegangan di Selat Hormuz semakin memanas akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi melarang kapal-kapal militer negara-negara Barat seperti AS melintasinya.
Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz berpengaruh signifikan pada pasar minyak dunia. Harga minyak mentah Brent bahkan melonjak lebih dari 40 persen, mencatat kenaikan hingga USD105,70 per barel.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya
Pada awal Maret 2026, penasihat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ebrahim Jabari, mengumumkan bahwa mereka siap menutup Selat Hormuz dan menyerang kapal yang melintasinya tanpa izin. Pernyataan tersebut membuat pasar energi global berada dalam tekanan tinggi, karena sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia melewati jalur ini.
Lonjakan harga minyak menjadi hal yang tidak terelakkan akibat gejolak ini. Selain berdampak pada harga bahan bakar, ketidakpastian akses Selat Hormuz memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi di berbagai negara.
Negosiasi dan Izin Terbatas dari Iran
Meski mengeluarkan peringatan keras, Iran membuka akses terbatas bagi kapal-kapal dari beberapa negara. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa sejumlah negara telah mengajukan permohonan jalur aman, dan kapal mereka diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Berikut beberapa negara yang kapalnya telah mendapatkan izin melintas:
-
Pakistan
Kapal tanker berbendera Pakistan dilaporkan berhasil melintas tanpa gangguan melewati Selat Hormuz ke Laut Oman. -
India
Dua kapal berbendera India yang membawa gas minyak cair mendapat pengecualian dan telah melintasi Selat Hormuz dengan selamat. Sekretaris Khusus Kementerian Pelabuhan India, Rajesh Kumar Sinha, memastikan kapal-kapal tersebut sedang dalam perjalanan ke India. - Turki
Setelah koordinasi dengan otoritas Iran, kapal milik Turki juga diizinkan melintas. Menteri Transportasi Turki, Abdulkadir Uraloglu, menyatakan bahwa lima belas kapal berafiliasi Turki sedang ada di perairan tersebut dengan izin resmi dari Iran.
Proses Negosiasi dengan Negara Lain
Selain negara yang sudah mendapatkan izin, beberapa negara besar lain juga tengah bernegosiasi agar kapal mereka dapat memakai jalur ini dengan aman:
-
China
Mengingat sekitar 45 persen pasokan minyaknya melewati Selat Hormuz, China melakukan pembicaraan agar kapal pengangkut minyak dan gas tersebut dapat beroperasi tanpa hambatan. - Prancis dan Italia
Kedua negara Eropa ini mengajukan permohonan akses aman melalui jalur tersebut agar tidak mengganggu pasokan energi mereka dari kawasan Timur Tengah.
Situasi ini menunjukkan betapa krusialnya Selat Hormuz dalam perdagangan energi dunia. Ketidakpastian terkait keamanan jalur ini menjadi ancaman serius bagi stabilitas pasar energi global.
Ketegangan yang menimpa Selat Hormuz harus terus dipantau karena setiap perkembangan akan berdampak langsung pada harga minyak dan stabilitas ekonomi global. Negosiasi yang berjalan saat ini merupakan langkah penting untuk menjaga kelancaran transportasi energi dunia di tengah konflik geopolitik yang membara.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id




