Para pengunjuk rasa Iran yang melarikan diri dari kondisi yang mereka gambarkan sebagai "neraka" di tanah air kini menyaksikan perang dari pengasingan. Mereka menghadapi ketidakpastian dan kekhawatiran mendalam akan keselamatan keluarga di Iran sambil mengamati serangan udara Amerika dan Israel yang terus mengguncang negara mereka.
Farhad Sheikhi, seorang aktivis Iran-Kurd berusia 34 tahun, meninggalkan negaranya setelah mengalami penindasan keras terhadap protes anti-pemerintah. Dari Kota Sulaimaniyah di Irak, ia membagikan foto-foto mengerikan dan cerita memilukan tentang korban yang tergeletak di jalanan selama demonstrasi. Dengan internet yang diblokir di Iran, Sheikhi hanya dapat menghubungi keluarganya melalui perantara, sehingga informasi tentang kondisi mereka sangat terbatas.
Luka Batin dan Ketakutan Kembali ke Tanah Air
Setelah mengalami penahanan dan penyiksaan, Sheikhi memilih tidak kembali ke Iran. Ia bercita-cita menuntaskan studi hukumnya di Jerman. Ia menggambarkan situasi di Iran semakin memburuk akibat tindakan kekerasan pemerintah terhadap demonstran yang menurut kelompok HAM telah menewaskan ribuan orang.
Seorang aktivis lain, Aresto Pasbar, juga mengalami kekerasan saat ikut protes pada 2022 hingga kehilangan penglihatan sebelah mata. Ia melarikan diri ke Turki, lalu mendapatkan suaka di Jerman berkat bantuan organisasi hak asasi. Ketika perang pecah, Pasbar meninggalkan kenyamanan Eropa untuk bergabung dengan pejuang Kurdi di Irak. Ia merasa harus berjuang di lapangan daripada hanya menjadi penonton penderitaan bangsanya.
Dilema Keluarga dan Kerinduan akan Perubahan
Amina Kadri, yang kehilangan suami dan putranya akibat kekerasan politik, menunjukkan beratnya harga yang harus dibayar banyak keluarga Iran yang terlibat dalam perjuangan. Ia menuduh pihak Iran bertanggung jawab atas kematian suaminya yang merupakan anggota kelompok bersenjata Kurdi di pengasingan.
Keluarga-keluarga ini adalah saksi nyata dampak konflik dan represi yang berlangsung panjang di Iran. Mereka hidup dalam ketakutan dan kesedihan mendalam, namun tetap berharap suatu hari rezim yang menindas akan tumbang untuk memberikan peluang keadilan dan perubahan sosial.
Fakta Penting tentang Situasi Pengungsi dan Aktivis Iran:
- Jutaan aktivis dan demonstran mengalami penahanan, penyiksaan, dan pembunuhan selama periode protes.
- Banyak yang melarikan diri ke wilayah otonom Kurdistan di Irak untuk menyelamatkan nyawa.
- Pemutusan akses internet di Iran menyulitkan komunikasi dan aliran informasi.
- Kelompok bersenjata Kurdi menjadi sasaran serangan lintas batas dari Iran.
- Organisasi HAM internasional berperan aktif membantu pengungsi mendapatkan perlindungan di Eropa.
Situasi pengungsi Iran di luar negeri menggambarkan fragilitas keamanan dan hak asasi manusia di negara asal mereka. Meski jauh dari tanah air, mereka terus mengamati konflik dan mempertimbangkan langkah politik serta sosial yang dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih aman dan bebas.
