20 Awak Kapal Thailand Kembali Setelah Serangan Mematikan di Selat Hormuz, Tiga Rekan Masih Terjebak

Dua puluh awak kapal Thailand yang menjadi korban serangan di Selat Hormuz telah kembali ke tanah air. Serangan ini terjadi ketika kapal kargo berbendera Thailand, Mayuree Naree, melintasi perairan strategis di Teluk Arab setelah meninggalkan pelabuhan di Uni Emirat Arab.

Kapal Mayuree Naree terkena dua proyektil pada hari Rabu lalu, menurut laporan Pasukan Pengawal Revolusi Iran yang mengklaim serangan tersebut dilakukan karena kapal tersebut mengabaikan peringatan. Selain kapal Thailand, kapal berbendera Liberia juga menjadi sasaran serangan serupa di kawasan tersebut.

Para awak kapal yang berjumlah 20 orang tiba di bandara internasional utama Thailand pada Senin pagi. Namun, tiga awak kapal lainnya masih terjebak di kapal yang rusak akibat serangan tersebut. Pihak berwenang langsung mengawal para awak yang pulang sehingga mereka tidak memberikan pernyataan kepada media.

Seorang istri dari salah satu awak bernama Bass mengaku masih menunggu kabar pasti tentang suaminya. Ia mengungkapkan kekhawatiran keluarga para awak yang harus bekerja meski dalam situasi berbahaya. “Kami takut, tapi mereka adalah pekerja—jika menolak pergi ke laut, mereka tidak akan mendapat gaji,” tuturnya.

Bass juga menjelaskan bahwa komunikasi dengan suaminya hanya berlangsung melalui Facebook Messenger saja. Ia membawa serta anaknya yang berusia satu tahun ke bandara atas permintaan suaminya. Ketika kapal diserang, sang suami hanya sempat membawa telepon sebelum melarikan diri.

Ia berpesan agar perusahaan memperhatikan keselamatan karyawan mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung. “Saya berharap perusahaan memastikan kapal akan aman jika kembali beroperasi dan memperlakukan karyawan seperti keluarga sendiri,” ujarnya.

Pemilik kapal, Precious Shipping, menyatakan akan memberikan dukungan kesejahteraan bagi para awak. Langkah tersebut mencakup pemeriksaan medis dan penilaian kesehatan mental untuk para korban serangan. Selain itu, pencarian tiga awak yang masih hilang menjadi prioritas utama perusahaan.

Perusahaan sebelumnya menyebutkan bahwa ketiga awak yang hilang diperkirakan terperangkap di ruang mesin yang mengalami kerusakan akibat serangan. Hingga saat ini, Precious Shipping belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kondisi ketiganya.

Pemerintah Thailand telah meminta bantuan dari negara lain untuk usaha pencarian awak yang hilang tersebut. Wakil juru bicara Kementerian Luar Negeri berharap agar dukungan internasional mempercepat proses evakuasi.

Selain itu, Angkatan Laut Oman turut ambil bagian dalam penyelamatan 20 awak kapal yang berhasil diselamatkan setelah serangan. NATO dan komunitas maritim internasional terus memantau situasi agar keamanan pelayaran di kawasan Selat Hormuz tetap terjaga.

Serangan ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat sejak operasi militer AS dan Israel terhadap Iran beberapa minggu terakhir. Konflik yang melibatkan negara-negara di Timur Tengah ini mengancam jalur penting pengiriman minyak dunia.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan keamanan di kawasan ini menyebabkan ketidakstabilan pasar energi dan menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia yang berkelanjutan.

Pemerintah dan pelaku industri pelayaran kini menghadapi tantangan berat untuk menjaga keamanan awak kapal serta mencegah dampak lebih besar terhadap sektor energi global. Sementara itu, upaya penyelamatan dan pendampingan terhadap para awak kapal yang menjadi korban terus berjalan secara intensif.

Exit mobile version