Tim sepak bola wanita Iran memulai perjalanan pulang dari Malaysia setelah lima pemainnya membatalkan permohonan suaka di Australia. Awalnya, enam pemain dan satu staf pendukung mendapatkan visa kemanusiaan dari Australia karena kekhawatiran akan keselamatan mereka jika kembali ke Iran.
Penolakan permohonan suaka ini menjadi sorotan setelah para pemain gagal menyanyikan lagu kebangsaan Iran dalam pertandingan Piala Asia Wanita baru-baru ini. Media Australia melaporkan bahwa lima pemain memutuskan kembali ke Iran, sementara dua pemain lainnya memilih untuk tetap tinggal di Australia.
Para pemain yang pulang bergabung kembali dengan anggota tim lain yang sudah berada di Kuala Lumpur sejak meninggalkan Sydney. Menteri Asisten Luar Negeri Australia, Matt Thistlethwaite, menyatakan pemerintah menghormati keputusan para pemain yang memilih kembali dan tetap memberikan dukungan kepada yang bertahan.
Situasi ini digambarkan sebagai “sangat kompleks” oleh Thistlethwaite. Pada saat keberangkatan, tim terlihat di Bandara Internasional Kuala Lumpur menggunakan maskapai Oman Air, namun tujuan akhir mereka belum jelas.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengungkapkan bahwa tim tidak bisa langsung kembali ke Teheran akibat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Oleh karena itu, mereka berencana menuju negara lain setelah Malaysia.
Sekretaris Jenderal AFC, Windsor John, menyampaikan bahwa tim masih menunggu koneksi penerbangan dan belum menginformasikan tujuan selanjutnya. Ia juga menegaskan belum dapat memverifikasi laporan adanya tekanan dari pihak berwenang Iran terhadap keluarga para pemain.
John menyatakan, “Kami telah berkomunikasi dengan pejabat tim serta pelatih dan kepala delegasi. Mereka dalam semangat tinggi dan tidak menunjukkan tanda-tanda takut atau demotivasi.”
Asosiasi Sepak Bola Iran mengatakan bahwa tim diharapkan segera meninggalkan Malaysia dan kembali ke Teheran untuk berkumpul kembali dengan keluarga dan tanah air mereka. Kampanye tim ini di Piala Asia bertepatan dengan konflik militer di wilayah tersebut yang menyebabkan ketegangan meningkat.
Setelah tersingkir dari turnamen, dukungan dan perhatian internasional meningkat. Presiden Amerika Serikat bahkan memuji Australia karena mengizinkan para pemain mengajukan suaka dan menyatakan siap menerima mereka jika Australia tidak melakukannya.
Peristiwa ini membuka diskusi terkait perlindungan atlet dalam situasi konflik politik. Keputusan beberapa pemain untuk kembali ke tanah air meskipun ada risiko, menunjukkan kompleksitas situasi yang mereka alami selama dan setelah turnamen internasional.









