Pasukan militer Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap situs rudal Iran di dekat Selat Hormuz pada tanggal 17 Maret 2026. Serangan ini menggunakan bom penetrator seberat 5.000 pound atau sekitar 2,5 ton, salah satu amunisi terkuat dalam persenjataan AS.
Komando Pusat AS menjelaskan bahwa sasaran serangan adalah situs rudal jelajah anti-kapal Iran yang diperkuat di sepanjang garis pantai dekat Selat Hormuz. Rudal-rudal ini dianggap berpotensi mengancam pelayaran internasional di jalur air strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.
Konteks Serangan AS
Serangan AS dilakukan sebagai respons terhadap langkah Iran yang menutup Selat Hormuz. Penutupan ini dilakukan Iran sebagai aksi balasan terhadap operasi militer gabungan AS dan Israel sebelumnya. Selat Hormuz sendiri adalah jalur air vital, dimana sekitar seperlima kebutuhan minyak global melewati rute ini sehingga berdampak besar pada pasar energi dunia.
Bom penetrator 5.000 pound yang digunakan oleh AS diperkirakan memiliki harga sekitar 288.000 dolar AS per unit. Bom ini memiliki daya ledak tinggi dan mampu menembus struktur pertahanan yang sangat kokoh. Meskipun demikian, bom ini masih tergolong ringan jika dibandingkan dengan bom seberat 30.000 pound yang digunakan AS untuk mengebom fasilitas nuklir Iran pada tahun 2025.
Dampak dan Situasi di Wilayah Terkait
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional yang juga melibatkan Israel. Pada 18 Maret 2026, dilaporkan dua orang tewas akibat serangan rudal Iran di dekat Tel Aviv. Korban berada di Ramat Gan, sebuah kota yang berdekatan dengan pusat perdagangan utama Israel.
Dalam beberapa hari terakhir, jumlah korban tewas akibat serangan rudal Iran di wilayah Israel meningkat menjadi 14 orang. Serangan balasan Israel terhadap sasaran di Iran dan Lebanon memicu siklus kekerasan yang terus berlanjut.
Signifikansi Strategis Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sangat sensitif, tidak hanya bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah tetapi juga bagi komunitas internasional. Gangguan keamanan di perairan ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dan memicu gejolak ekonomi global.
Dalam konteks ini, operasi militer AS yang menargetkan situs rudal Iran menjadi bagian dari usaha menjaga kebebasan navigasi sekaligus menekan kapasitas militer Iran di wilayah tersebut. Penggunaan amunisi penetrator berat memperlihatkan keinginan AS untuk menyerang secara presisi terhadap fasilitas yang dianggap kritis dan berpotensi merusak stabilitas kawasan.
AS dan sekutu regional terus memantau perkembangan situasi dengan ketat, mengingat potensi eskalasi yang dapat berdampak lebih luas. Penggunaan amunisi berkekuatan besar dan respons militer langsung menunjukkan intensitas konflik yang semakin meningkat di kawasan strategis ini.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




