Israel Membunuh Pemimpin Iran Secara Cepat, Tapi Strategi Ini Bisa Berbalik Melukai Diri Sendiri

Israel sedang menargetkan pemimpin-pemimpin tertinggi Iran dengan serangan udara secara intensif. Strategi ini bertujuan melemahkan rezim Iran dan memicu revolusi di dalam negeri, tetapi para ahli mengingatkan bahwa cara ini bisa berbalik merugikan dan memperkuat lawan.

Selama ini, Israel sudah berkali-kali melakukan pembunuhan targeted terhadap tokoh kunci kelompok militan seperti Hizbullah dan Hamas. Namun, kedua kelompok tersebut tetap mampu melanjutkan perlawanan meskipun para pemimpin mereka sudah tewas. Contohnya, Hizbullah yang kehilangan banyak pemimpinnya masih melancarkan serangan roket terhadap Israel. Hamas pun masih menguasai wilayah Gaza dan belum menyerah meski banyak komandan mendukung serangan besar-besaran pada tahun lalu.

Efektivitas Strategi Pembunuhan Targeted

Sejarahnnya, Israel kerap menggunakan pembunuhan targeted dalam konflik militernya. Pembunuhan pemimpin seperti Abbas Musawi pada 1992 justru membuat penggantinya, Hassan Nasrallah, semakin memperkuat Hizbullah dan mengubahnya menjadi kekuatan militer besar di kawasan. Hal yang sama juga terjadi pada Hamas setelah kematian pendiri mereka, Sheikh Ahmed Yassin.

Menurut Jon Alterman, ketua Global Security and Geostrategy di CSIS, serangan seperti ini dapat melemahkan sementara, tetapi tidak menghilangkan jaringan kekuasaan yang lebih luas. Bahkan di Iran, struktur pemerintahan dan militer yang kompleks mampu bertahan melewati gelombang serangan yang menghantam panglima-panglima utama.

Risiko dan Dampak Jangka Panjang

Upaya pembunuhan pemimpin tinggi terhadap negara jarang berhasil menghancurkan rezim secara cepat. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berharap tewasnya tokoh-tokoh Iran dapat memicu warga Iran bangkit melawan pemerintah yang ada. Namun, sejak awal konflik, tidak ada tanda-tanda pemberontakan masif karena otoritas Iran berhasil meredam protes dan kekerasan.

Pengalaman global menunjukkan efek pembunuhan pemimpin negara sering berujung pada kekacauan atau munculnya pengganti yang lebih radikal. Libya hingga Irak menghadapi periode panjang instabilitas setelah jatuhnya rezim melalui intervensi eksternal serupa.

Siapa Pengganti Pemimpin Terbunuh?

Yossi Kuperwasser, mantan kepala riset intelijen militer Israel, mengatakan operasi ini memang penting untuk melemahkan musuh, tapi bukan solusi tunggal bagi masalah keamanan. Di Iran, pembunuhan tokoh tingkat tinggi merubah komposisi kepemimpinan tapi belum mengarah pada “perubahan rezim” total. Mereka yang menggantikan kerap lebih keras dan tak terbayangkan tingkat komprominya.

Seorang pejabat intelijen Israel menyebutkan bahwa serangan terhadap pemimpin Iran menurunkan kemampuan mereka memberi perintah pada militer dan membuat kebijakan, namun hal itu juga dapat memicu eskalasi kekerasan lebih lanjut.

Peringatan Ahli terhadap Dampak Negatif

Menurut Max Abrahms, ilmuwan politik dari Northeastern University, serangan yang menyingkirkan pemimpin yang relatif moderat berpotensi memunculkan ekstremis yang lebih berbahaya di posisi pimpinan. Data dari konflik di Afghanistan, Pakistan, dan Palestina membuktikan munculnya lonjakan serangan terhadap warga sipil pasca pembunuhan tokoh kunci.

Mohanad Hage Ali dari Carnegie Middle East Center menambahkan, pembunuhan semacam ini hanya efektif bila disertai strategi politik yang jelas. Tanpa dukungan politik yang berkelanjutan, upaya ini tidak akan menghasilkan perubahan signifikan dan justru hanya memperpanjang konflik.

Langkah-Langkah dalam Strategi Pembunuhan Targeted

  1. Identifikasi tokoh kunci yang menggerakkan organisasi musuh.
  2. Lakukan serangan presisi untuk menghilangkan tokoh tersebut.
  3. Pantau dampak struktural dan organisasi lawan.
  4. Ikuti dengan langkah politik dan diplomasi untuk memanfaatkan kekosongan kepemimpinan.
  5. Hindari memicu radikalisasi yang lebih parah dengan pengganti yang ekstrem.

Strategi Israel untuk menyingkirkan pemimpin tertinggi Iran memang sudah memberikan dampak langsung. Namun, sejarah membuktikan bahwa pembunuhan targeted tidak cukup untuk mengakhiri konflik panjang atau mengganti rezim secara permanen. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana memanfaatkan kondisi tersebut untuk menciptakan perubahan politik yang berkelanjutan tanpa memperdalam konflik dan kekerasan di kawasan.

Berita Terkait

Back to top button