Blokade Selat Hormuz menyebabkan lonjakan biaya pangan di negara-negara Teluk. Meski pasokan pangan tetap ada di pasar, harga barang kebutuhan pokok seperti daging melonjak hampir dua kali lipat akibat gangguan rantai pasok. Selat Hormuz yang strategis kini efektif tertutup sejak serangan Israel dan AS ke Iran memicu perang pada akhir Februari lalu.
Sebagian besar negara Teluk sangat bergantung pada impor makanan mengingat kondisi geografis yang gersang. Namun, serangan drone dan rudal Iran yang terus berlangsung membuat jalur pengiriman melalui pelabuhan utama seperti Abu Dhabi, Jebel Ali, dan Dammam sangat terbatas. Pelabuhan-pelabuhan ini kini banyak menunda atau mengurangi jumlah bongkar muat kargo sehingga kapal dialihkan ke pelabuhan lain di Oman dan wilayah Emirates bagian selatan.
Dampak Terhadap Rantai Pasok dan Logistik
Menurut ekonom Frederic Schneider dari Middle East Council on Global Affairs, jaringan udara sebagai jalur logistik juga mengalami penurunan kapasitas karena serangan terus-menerus. Aktivitas pengiriman menggunakan jalur laut dan udara menjadi kacau, memaksa negara-negara Teluk mencari alternatif pengiriman. Arab Saudi berperan sebagai pusat logistik baru dengan pelabuhan di Laut Merah dan jalur udara yang masih terbuka.
Untuk mengatasi gangguan ini, Arab Saudi meluncurkan program ekspansi jaringan transportasi dan koridor operasional guna menampung kontainer dan kargo yang dialihkan dari pelabuhan timur. Aktivitas pengangkutan barang melalui darat ke negara tetangga seperti Qatar juga meningkat, sementara jalur darat ke Mediterania melalui Suriah dan Yordania menjadi opsi meski masih terbatas karena kemacetan dan biaya tinggi.
Perbedaan Ketahanan Antar Negara Teluk
Ketahanan setiap negara Teluk terhadap krisis pasokan pangan tidak merata. Saudi Arabia memiliki keuntungan akses langsung ke Laut Merah. Uni Emirat Arab menyimpan persediaan pangan untuk 4 hingga 6 bulan. Qatar yang pernah mengalami blokade panjang pada 2017, kini telah berinvestasi besar dalam cadangan strategis.
Sebaliknya, Bahrain dan Kuwait mulai merasakan dampak kenaikan harga yang cukup signifikan. Pemerintah Kuwait sempat membekukan harga beberapa komoditas pokok dan memberikan subsidi pada impor daging agar harga tetap terkendali. Namun, kenaikan lebih dari 30 persen tercatat pada harga daging dan ikan akibat penangguhan aktivitas penangkapan ikan di Teluk dan berhentinya impor dari Iran, India, serta Pakistan.
Upaya Sektor Swasta Menjaga Pasokan
Kelangkaan pangan segar terutama yang diimpor dari Asia menjadi yang paling dirasakan. Ritel besar seperti jaringan Lulu yang mengoperasikan 280 supermarket di wilayah Teluk mengklaim sejumlah strategi untuk menahan dampak krisis. Mereka menyimpan stok bahan makanan non-mudah basi sebanyak 4 sampai 6 bulan dan mengoperasikan penerbangan charter khusus untuk mendatangkan buah, sayur, daging, serta produk laut.
Direktur komunikasi Lulu, V. Nandakumar, menyatakan sudah ada 37 penerbangan charter yang berhasil mengangkut lebih dari 6.000 ton produk segar. Menurutnya, biaya tambahan belum dibebankan kepada konsumen sampai saat ini. Walaupun demikian, Schneider mengingatkan bahwa meski harga saat ini masih terkendali, risiko kenaikan harga secara berkelanjutan tetap nyata jika perang berlanjut lebih lama.
Situasi ini menunjukkan kerentanan rantai pasok pangan di kawasan Teluk terhadap ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz. Negara-negara di kawasan perlu terus memperkuat ketahanan pangan dan diversifikasi jalur logistik agar dampak gangguan serupa di masa depan dapat diminimalisir.









