Rasisme struktural masih menjadi masalah yang sangat melekat di berbagai negara di Eropa. Koordinator anti-rasisme Uni Eropa, Michaela Moua, mengungkapkan bahwa diskriminasi terhadap orang-orang keturunan Afrika sangat luas dan sulit dihapuskan.
Data dari Badan Hak Asasi Eropa (EU Agency for Fundamental Rights) menunjukkan hampir setengah dari orang Afrika di kawasan ini mengaku mengalami diskriminasi. Banyak dari mereka menghadapi hambatan dalam mencari pekerjaan, meskipun memiliki gelar universitas.
Moua menegaskan bahwa rasisme bukanlah warisan masa lalu yang sudah usang, melainkan sebuah struktur hidup yang nyata dan dirasakan oleh banyak orang. Dia menambahkan bahwa penting bagi demokrasi untuk membongkar ketidaksetaraan yang sudah tertanam lama di masyarakat.
Menurut Moua, data yang lebih baik mengenai kesetaraan sangat penting karena negara-negara anggota UE masih memiliki perbedaan besar dalam pengumpulan informasi terkait ras dan etnis. Hal ini menjadi tantangan utama untuk merumuskan kebijakan yang efektif.
Strategi anti-rasisme terbaru UE bertujuan memperkuat penegakan hukum yang sudah ada. Selain itu, strategi ini juga berupaya untuk memperkuat rencana aksi nasional dan menanggulangi rasisme dalam administrasi publik.
Strategi yang diadopsi pada Januari ini menuai kritik dari beberapa organisasi non-pemerintah, seperti Jaringan Anti-Rasisme Eropa (European Network Against Racism). Mereka menilai strategi tersebut kurang memberikan komitmen yang nyata terhadap keadilan reparatif maupun pemulihan akibat sejarah rasisme Eropa.
Berikut adalah beberapa fokus utama dari strategi anti-rasisme Uni Eropa saat ini:
1. Menguatkan penegakan hukum anti-diskriminasi yang sudah ada.
2. Memperkuat rencana aksi nasional terkait anti-rasisme di tiap negara anggota.
3. Mengatasi rasisme yang terjadi dalam layanan dan administrasi publik.
4. Mengumpulkan data yang lebih sistematis dan komprehensif terkait ras dan etnis.
Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi negara-negara anggota untuk lebih serius menghapus rasisme dan memperbaiki ketimpangan. Namun, tantangan terbesar terletak pada penerapan kebijakan yang benar-benar inklusif dan berbasis bukti.
Moua juga menyoroti bahwa di tengah perubahan politik yang terjadi di Eropa, urgensi melawan rasisme semakin mendesak. Upaya ini harus dilakukan secara berkelanjutan agar demokrasi dapat terjamin dan masyarakat lebih adil.
Perdebatan mengenai strategi anti-rasisme UE menunjukkan kompleksitas masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan langkah cepat. Namun, kesadaran tentang perlunya tindakan nyata terhadap rasisme struktural kini mulai mendapatkan perhatian lebih luas di kalangan pemerintahan dan lembaga internasional.









