Kehidupan Mewah Keluarga Elite Iran di Barat, Sementara Rakyat Biasa Terkungkung Derita dan Penindasan

Keluarga elite Iran dikenal hidup mewah di luar negeri sementara rakyat biasa menghadapi kesulitan di dalam negeri. Sistem ini berlangsung secara strategis dan cerdik, di mana rezim mengutuk Barat secara terbuka, tetapi diam-diam memindahkan kekayaan dan anggota keluarganya ke negara-negara Barat.

Kasra Aarabi, direktur riset IRGC di United Against Nuclear Iran, menyebut rezim Islam di Iran korup dari akarnya. “Para ulama rezim dan komandan IRGC menggunakan uang darah rakyat untuk menikmati gaya hidup glamor di ibu kota Barat,” ujarnya kepada Fox News Digital.

Fenomena ini dikenal di dalam Iran sebagai “aghazadeh”, yakni anak-anak dari elite politik yang menjalani hidup penuh privilese di luar negeri. Sementara itu, di Tanah Air, masyarakat harus patuh pada aturan ketat dan menanggung penderitaan ekonomi yang semakin dalam.

Salah satu contohnya adalah keluarga Masoumeh Ebtekar, juru bicara krisis sandera kedutaan AS tahun 1979. Meskipun ia mengadvokasi sikap anti-Barat, anaknya justru berkarier di Amerika Serikat dengan kehidupan mapan. Hal ini menggambarkan disonansi antara retorika rezim dan kenyataan pribadi mereka.

Jurnalis Mehdi Ghadimi yang berada di Kanada menjelaskan struktur sistem ini terdiri dari tiga lapisan. Pertama, mahasiswa dan akademisi yang berafiliasi dengan rezim, berperan sebagai agen pengaruh di universitas Barat. Mereka sering menyamar sebagai imigran biasa tetapi tetap menjaga koneksi dengan IRGC.

Lapisan kedua adalah para investor dan pelaku bisnis yang membawa modal besar ke luar negeri. “Di Iran, gaji bulanan bisa sekitar $100 atau $200, sedangkan apartemen bernilai ratusan ribu dolar,” jelas Ghadimi. Modal besar ini diduga berasal dari korupsi dan dipakai untuk memperkuat jaringan elit di luar negeri.

Lapisan ketiga melibatkan individu yang mendapat izin khusus dari rezim untuk memindahkan uang besar ke luar negeri. Proses ini membutuhkan persetujuan dari aparat keamanan dan diikuti dengan kewajiban mendukung jaringan keuangan rezim.

Kasus terkenal adalah Mahmoud Reza Khavari, mantan ketua Bank Melli Iran yang terlibat skandal korupsi senilai $2,6 miliar. Ia melarikan diri ke Kanada dan mengakuisisi properti mewah di Toronto. Kisah ini memperlihatkan bagaimana uang hasil korupsi disalurkan ke negara-negara Barat.

Relasi keluarga elite Iran juga tersebar di berbagai negara Barat, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Laporan menunjukkan ribuan kerabat pejabat tinggal di luar negeri, meskipun angka pasti sulit diverifikasi. Ini menandakan skala fenomena serta disfungsi transparansi sistem.

Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang baru, dilaporkan memiliki aset besar senilai sekitar $138 juta di sejumlah negara Eropa dan Teluk. Properti mewahnya ditemukan di kawasan Kensington, London, bersebelahan dengan Kedutaan Besar Israel.

Kehidupan mewah anak-anak elite ini berbanding terbalik dengan masyarakat biasa yang harus mematuhi aturan ketat, khususnya wanita yang sering ditangkap akibat pelanggaran kode berpakaian. Demonstran juga menghadapi penahanan di tengah kemiskinan yang meluas.

Banafsheh Zand menilai hal ini tidak hanya soal kemunafikan, tetapi juga strategi rezim untuk membangun pengaruh global. Anak-anak elite dapat menyusup ke masyarakat Barat, membangun relasi dan memahami sistem Barat demi mendukung kepentingan rezim.

Kasra Aarabi menyoroti kegagalan pemerintah Barat dalam merespons fenomena ini. Ia menyatakan, “Para oligarki rezim Islam harus diperlakukan sama seperti oligarki Rusia. Barat harus mengidentifikasi, mensanksi, dan mendeportasi mereka.”

Fenomena keluarga elite Iran yang hidup mewah di luar negeri dengan latar belakang rezim otoriter menunjukkan jurang pemisah yang lebar antara elit kekuasaan dan rakyat jelata. Hal ini menjadi salah satu tantangan besar dalam menilai legitimasi rezim serta dampak sosial dan politiknya.

Berita Terkait

Back to top button