18 Bulan Berlalu Sejak Perang Terakhir di Lebanon, Kini Gelombang Perang Membawa Luka Lebih Dalam

Hampir satu setengah tahun berlalu sejak peperangan terakhir di Lebanon. Bedanya, konflik saat ini membawa dampak yang jauh lebih berat dan kompleks dibanding sebelumnya. Perang baru kali ini bersumber dari aksi milisi Hezbollah yang meluncurkan serangan ke Israel pada awal Maret, memicu balasan keras dari Israel yang menimbulkan banyak korban.

Lebanon tengah menghadapi gelombang serangan udara Israel dengan intensitas tinggi. Sejak 2 Maret, lebih dari 1.000 orang tewas akibat serangan bom yang menargetkan wilayah-wilayah strategis Hezbollah dan kawasan sipil. Bentrokan ini berbeda dari sebelumnya karena melibatkan kerusakan luas di ibu kota Beirut dan wilayah sekitar, serta tekanan sosial yang semakin tajam.

Dampak Konflik pada Sipil dan Pemukiman

Di Beirut, luka-luka perang tampak jelas di dinding dan bangunan yang hancur. Banyak keluarga terpaksa mengungsi dan tinggal di mobil yang diparkir di sepanjang jalan utama kota. Di desa selatan Irkay, lima bocah tewas dalam satu serangan yang menghancurkan rumah kakek nenek mereka. Tidak ada indikasi rumah tersebut digunakan untuk kegiatan militer, namun serangan tetap terjadi tanpa peringatan.

UNICEF melaporkan lebih dari 100 anak tewas dalam perang ini, jumlah yang sudah terlampaui oleh angka kematian anak yang diakibatkan serangan Israel. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 111 anak meninggal dunia sejak perang pecah, menimbulkan pertanyaan tentang target militer yang digunakan dalam operasi udara Israel.

IDF atau Pasukan Pertahanan Israel menilai Hezbollah bertanggung jawab atas risiko yang diterima warga sipil. Juru bicara IDF mengklaim, strategi milisi tersebut melibatkan memasang warga sipil sebagai perisai manusia, sehingga menimbulkan korban dari kedua belah pihak.

Tekanan Sosial dan Pergeseran Sikap Publik

Kehadiran lebih dari satu juta orang mengungsi di dalam negeri memperuncing ketegangan komunitas lokal. Banyak laporan menunjukkan adanya diskriminasi dan pertanyaan yang diarahkan pada pengungsi terkait afiliasi mereka dengan Hezbollah. Organisasi PBB mengamati peningkatan serangan siber dan retorika sektarian yang mulai muncul akibat konflik ini.

Pada awal perang, meski terdapat solidaritas terhadap Hezbollah yang didorong oleh kemarahan atas pemboman Gaza, kini sikap masyarakat mulai berubah. Banyak yang menentang keterlibatan milisi dalam perang ini dan berharap pemerintah dapat membatasi persenjataan kelompok bersenjata.

Pengelola penampungan pengungsi dari UNHCR memperingatkan risiko meningkatnya ketegangan antar komunitas, apalagi dengan sebagian besar pengungsi belum sempat benar-benar pulih dari dampak perang sebelumnya. Angka pengungsi yang kembali ke tempat asalnya setelah perang 2024 hanya sekitar 13%, memperlihatkan kesulitan pemulihan jangka panjang di Lebanon.

Realitas Baru di Tengah Perang

Situasi di Lebanon semakin genting dengan persiapan operasi militer yang lebih luas oleh Israel. Rekaman militer Israel menunjukkan kesiapan brigade Golani melakukan operasi darat di wilayah selatan Lebanon. Presiden dan pejabat tinggi Israel memberi pernyataan ancaman yang menakutkan, menyamakan keadaan wilayah selatan Lebanon dengan kehancuran yang terjadi di Gaza.

Di tengah semua itu, kehidupan warga biasa terus terdampak. Banyak keluarga tinggal di tenda darurat di kawasan pusat Beirut, satu lokasi yang dulu pernah hancur akibat ledakan dahsyat di pelabuhan tahun 2020. Trauma masa lalu dan hadirnya krisis terbaru membuat Lebanon kini berada dalam situasi yang sangat rentan.

Krisis kemanusiaan semakin diperparah dengan pemotongan dana bagi organisasi bantuan internasional yang menanggulangi penderitaan warga sipil. Pusat pengungsi dan sukarelawan melaporkan kebutuhan yang terus meningkat, sementara dukungan finansial makin berkurang.

Perang di Lebanon kini bukan hanya soal konflik bersenjata semata, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menghadapi tekanan psikologis, sosial, dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan signifikan ini menunjukkan bahwa perang kali ini membawa dampak multidimensi yang mendalam dan belum ada tanda akan mereda dalam waktu dekat.

Berita Terkait

Back to top button