Kuil Seribu Tahun di Perbatasan Cambodia-Thailand Rusak Parah, Ancaman Runtuh Mencekam di Musim Hujan

Situs candi bersejarah yang berusia sekitar 1.000 tahun di perbatasan antara Kamboja dan Thailand kini rusak parah setelah bentrokan sengit yang terjadi antara kedua negara. Candi Preah Vihear, yang terletak di puncak tebing setinggi 525 meter di Pegunungan Dangrek, menunjukkan bekas luka dari konflik bersenjata meskipun gencatan senjata sudah berlangsung selama tiga bulan.

Candi ini dibangun oleh Kerajaan Khmer yang sama dengan yang mendirikan Angkor Wat, dan menjadi situs Warisan Dunia UNESCO pada 2008. Candi ini tidak hanya menjadi simbol budaya penting bagi bangsa Kamboja, tetapi juga dipersembahkan untuk dewa Hindu, Shiva. Namun, puluhan tahun perseteruan perbatasan yang tidak kunjung usai telah mengancam kelestarian bangunan yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi ini.

Kerusakan Berat di Candi Berusia Ribuan Tahun

Setelah dua gelombang pertempuran besar tahun lalu, banyak bagian dari struktur candi mengalami kerusakan parah. Kementerian Kebudayaan Kamboja menyebutkan bahwa selama bentrokan pada bulan Juli dan Desember, terdapat lebih dari 560 lokasi yang terdampak, termasuk lima pavilun gerbang utama yang semuanya rusak, dengan tiga di antaranya hampir hilang bentuk aslinya. Sebuah tangga kuno di sisi utara yang telah direstorasi sebelumnya juga mengalami kerusakan berat akibat serangan artileri berulang.

Para ahli konservasi menyatakan kekhawatiran bahwa struktur yang sudah melemah tersebut bisa runtuh, terutama saat musim hujan. Musim ini biasanya dimulai pada akhir Mei dan berlanjut hingga Oktober, yang bisa memperparah kerusakan jika tidak segera ada langkah perbaikan.

Site Tertutup dan Berbahaya bagi Pengunjung

Situs candi kini ditutup untuk wisatawan karena dinding-dindingnya tidak stabil dan bahaya ranjau darat yang masih tersebar di sekitar lokasi. Tanda peringatan bahaya ranjau dipasang di berbagai area, mengingat pengalaman panjang Kamboja menghadapi ranjau akibat perang saudara yang berakhir pada akhir 1990-an. Selain itu, ada juga krater akibat artileri dan abu dari vegetasi yang terbakar di sekitar candi yang dulu menjadi tempat wisata yang ramai.

Meski demikian, petugas konservasi, penjaga lokasi, dan pasukan militer masih berjaga di sekitar candi. Dari lokasi ini, tentara Thailand dapat terlihat tepat di seberang perbatasan yang berdekatan, menjaga keketatan pengawasan sambil menunggu kondisi keamanan yang lebih stabil.

Kontroversi Tuduhan dan Klaim Kedua Negara

Pemerintah Kamboja menuduh militer Thailand secara sengaja menyerang candi tersebut dan memanipulasi informasi untuk membenarkan serangan mereka. Menteri Informasi Kamboja, Neth Pheaktra, menegaskan bahwa “Candi Preah Vihear adalah milik seluruh umat manusia dan bukan musuh Thailand.” Hal ini menekankan pentingnya perlindungan situs bersejarah dari aksi militer.

Di sisi lain, pihak Thailand membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa mereka hanya membidik sasaran militer. Thailand mengklaim candi tersebut telah dijadikan kawasan militer oleh pihak Kamboja dengan pengadaan sistem persenjataan, penyimpanan amunisi, serta penggunaan alat pengawasan dan konstruksi seperti crane yang menurut mereka merupakan bagian dari pusat komando militer.

Namun, Kamboja menepis klaim itu dengan mengatakan bahwa kawasan candi di bawah kontrol sipil dan pasukan keamanan hanya bertugas menjaga warisan budaya tanpa kepentingan militer.

Sejarah Sengketa yang Berlarut-larut

Sengketa wilayah atas candi ini telah berlangsung sejak tahun 1950-an. Pada 1962, Mahkamah Internasional menetapkan bahwa wilayah candi dan area sekitarnya seluas kurang dari lima kilometer persegi adalah milik Kamboja. Putusan ini diperkuat kembali pada 2013, namun ketegangan tetap muncul setiap kali isu nasionalisme dan politik dalam negeri kedua negara semakin memanas.

Sebelum bentrokan terbaru, candi ini kerap dikunjungi wisatawan asal kedua negara dan juga wisatawan internasional yang kadang masuk melalui Thailand. Penetapan Preah Vihear sebagai situs warisan UNESCO pada 2008 mempertegas statusnya sebagai milik Kamboja, namun juga memicu reaksi keras di Thailand yang melihatnya sebagai simbol klaim wilayah.

Tantangan Pemulihan dan Upaya Konservasi

Pemulihan candi yang rusak ini menjadi pekerjaan besar yang penuh tantangan. Sebelumnya, pemerintah dari negara seperti India, China, dan Amerika Serikat telah berkontribusi dalam proyek restorasi. Namun, pendanaan dan aktivitas konservasi kini terhambat oleh ketidakpastian keamanan dan situasi perbatasan yang masih rawan.

Menurut Hem Sinath, wakil direktur jenderal Otoritas Nasional Preah Vihear, ada rencana teknis untuk perbaikan yang mendesak agar kondisi candi tidak semakin memburuk. Kendati ada keinginan kuat untuk segera melaksanakan proyek tersebut, situasi politik dan keamanan menjadi penghambat utama sehingga perbaikan harus menunggu kondisi yang lebih kondusif.

Melihat kompleksitas konflik dan nilai penting candi ini bagi warisan budaya dunia, penyelesaian sengketa perbatasan dan perlindungan situs bersejarah menjadi kunci agar Preah Vihear dapat dilestarikan untuk generasi berikutnya. Hingga saat ini, peran aktif komunitas internasional dan dialog diplomatik tetap sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan situs yang menakjubkan ini.

Berita Terkait

Back to top button