Diplomasi AS terhadap Iran baru-baru ini mengejutkan Israel dan menciptakan ketegangan dalam hubungan kedua sekutu lama. Presiden Donald Trump mengambil pendekatan negosiasi langsung dengan Iran meski sebelumnya sempat mengumumkan ultimatum keras, yang membuat Israel harus menyesuaikan strategi keamanannya.
Pada Maret 2026, Trump mengancam akan menghancurkan jaringan listrik Iran bila Selat Hormuz tidak segera dibuka. Namun, menjelang tenggat waktu, Trump mengumumkan dimulainya pembicaraan “efektif” dengan pemerintah Teheran dan menghentikan sementara rencana serangan militer terhadap fasilitas energi Iran. Langkah ini dipandang sebagai upaya mengurangi ketegangan dan membuka jalur diplomasi baru.
Meski Washington melunak, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel tetap waspada dan tidak akan mengurangi tekanan militer terhadap Iran. Netanyahu menyatakan bahwa Israel secara konsisten membongkar program rudal dan nuklir Iran serta terus menyerang kelompok Hizbullah sebagai bagian dari perlindungan kepentingan nasional.
Namun, pakar politik Ori Goldberg menyoroti adanya retakan komunikasi antara Israel dan AS terkait kebijakan terbaru ini. Israel tidak dilibatkan dalam keputusan Trump menghentikan serangan, sehingga Angkatan Udara Israel tetap melancarkan serangan di Teheran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal ke Tel Aviv.
Ketegangan ini bukan hal baru dalam hubungan Trump dan Netanyahu. Pada Mei 2025, Trump membuat kesepakatan unilateral dengan kelompok Houthi di Yaman tanpa melibatkan keamanan Israel. Pada Juni 2025, Trump juga mengecam aksi balasan militer Israel terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh Iran melalui media sosial, menandai ketidaksesuaian kebijakan luar negeri AS dan posisi Israel.
Analis dari American Enterprise Institute, Danielle Pletka, menyatakan bahwa Trump mendapat tekanan domestik besar menjelang pemilihan paruh waktu, yang mempengaruhi pendekatannya dalam mengakhiri konflik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat Netanyahu harus bekerja keras agar kepentingan utama Israel, seperti penghentian program nuklir Iran, tetap menjadi fokus dalam negosiasi yang melibatkan AS.
Lazar Berman dari Times of Israel mengingatkan bahwa ketergantungan Israel pada kebijakan AS membawa risiko besar. Setiap langkah bersama AS tidak selalu mencerminkan kepentingan murni Israel, melainkan juga kepentingan politik dan strategi Washington yang lebih luas. Hal ini menandai saat genting di mana hubungan tradisional kedua negara diuji oleh dinamika perubahan kebijakan luar negeri AS.
1. Trump menghentikan sementara rencana serangan militer terhadap Iran demi membuka dialog.
2. Netanyahu mempertahankan sikap tegas untuk melindungi kepentingan Israel secara militer.
3. Koordinasi AS-Israel mengalami tekanan akibat keputusan unilateral AS tanpa konsultasi.
4. Ketegangan lama terlihat sejak kesepakatan AS dengan kelompok Houthi di Yaman tanpa Israel.
5. Tekanan domestik AS memengaruhi strategi diplomasi Trump di Timur Tengah.
Isu ini menandai fase baru dalam hubungan diplomatik yang kompleks antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Ke depannya, Israel harus menyesuaikan diri dengan strategi AS yang lebih fleksibel terhadap Iran, sementara tetap menjaga keamanan nasional yang menjadi prioritas utama.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




