Drone-drone Iran telah mengubah cara AS menghitung biaya perang di Timur Tengah. Setiap kali UAV murah diluncurkan, militer AS kerap membalas dengan rudal pencegat yang nilainya bisa berkali-kali lipat lebih mahal, sehingga tekanan pada stok amunisi dan anggaran pertahanan ikut membesar.
Kondisi itu kini memaksa Pentagon bergerak lebih agresif. Departemen Pertahanan AS pada Rabu (25/3/2026) menandatangani kontrak dengan Lockheed Martin, BAE Systems, dan Honeywell Aerospace untuk mempercepat produksi rudal dan komponen pentingnya, sembari menyatakan bahwa perjanjian tersebut akan menempatkan industri pertahanan AS dalam “mode perang”.
AS dorong produksi senjata karena stok terkuras konflik
Langkah ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk menutup kerugian persenjataan yang terkuras selama konflik berkepanjangan di Timur Tengah. AS dan sekutunya terus menghadapi ancaman rudal balistik, drone, dan serangan campuran yang memaksa penggunaan sistem pertahanan mahal secara berulang.
Pemerintah AS melihat situasi ini bukan lagi soal pengadaan biasa, melainkan soal kemampuan industri untuk memproduksi senjata dengan kecepatan masa perang. Karena itu, kontrak baru ini fokus pada peningkatan output, penyederhanaan rantai pasok, dan percepatan komponen kunci yang selama ini jadi bottleneck.
Tiga perusahaan besar masuk daftar utama
- Lockheed Martin
- BAE Systems
- Honeywell Aerospace
Honeywell Aerospace akan meningkatkan produksi komponen sistem pemandu, perangkat peperangan elektronik, dan sistem kendali penerbangan. Semua itu dipakai untuk rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM, salah satu senjata andalan AS dalam skenario pertahanan udara modern.
Lockheed Martin dan BAE Systems juga mendapat mandat besar untuk melipatgandakan produksi sistem pencari target bagi rudal Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD. Sistem ini menjadi salah satu tameng utama AS untuk mencegat rudal balistik, termasuk ancaman dari Iran.
THAAD dan Patriot jadi tulang punggung pertahanan
THAAD bukan senjata murah, dan biaya per unitnya mencapai hampir US$ 13 juta atau sekitar Rp 205 miliar. Angka itu menunjukkan betapa mahalnya setiap intersepsi ketika AS menghadapi ancaman rudal balistik yang terus berkembang.
Selain THAAD, Lockheed Martin juga sudah menyiapkan peningkatan produksi rudal PAC-3 untuk sistem Patriot. Perusahaan itu sebelumnya menargetkan produksi THAAD naik dari 100 menjadi 400 unit per tahun, sementara PAC-3 diproyeksikan melompat dari 600 menjadi 2.000 unit per tahun dalam tujuh tahun ke depan.
Peningkatan ini penting karena PAC-3 menjadi salah satu pencegat utama untuk ancaman udara dan rudal taktis. Namun, biaya penggunaannya tetap sangat tinggi bila dibandingkan dengan target yang dihadapi di lapangan.
Ketimpangan biaya perang makin terlihat
Masalah terbesar AS saat ini adalah ketidakseimbangan ekonomi perang. Militer AS sering harus memakai rudal bernilai jutaan dolar hanya untuk menghancurkan drone Iran yang jauh lebih murah untuk diproduksi.
Sebagai perbandingan, Iran diperkirakan mampu memproduksi hingga 10.000 UAV seri Shahed per bulan dengan harga rata-rata sekitar US$ 35.000 atau setara Rp 550 juta per unit. Di sisi lain, satu rudal PAC-3 AS bernilai US$ 3-4 juta, atau sekitar Rp 47 miliar hingga Rp 63 miliar.
Perbandingan ini menjelaskan mengapa setiap serangan drone bisa menjadi “boncos” bagi AS dan sekutunya. Dalam praktiknya, lawan bisa memaksa pertahanan mahal dipakai untuk menghadapi ancaman berbiaya rendah, sehingga daya tahan stok rudal ikut tergerus.
PrSM ikut dipacu untuk perang modern
Selain pertahanan udara, Pentagon juga mempercepat produksi rudal balistik Precision Strike Missile atau PrSM. Rudal ini diluncurkan dari sistem HIMARS dan disiapkan untuk menggantikan ATACMS yang lebih tua.
Lockheed Martin akan menggandakan produksi PrSM di bawah kontrak senilai hampir US$ 5 miliar yang diberikan Angkatan Darat AS tahun lalu. Rudal ini punya jangkauan sekitar 500 km dan tersedia dalam varian anti-kapal yang dapat menyerang target bergerak di laut.
Penggunaan PrSM dalam konflik di Timur Tengah juga menjadi momen penting karena ini pertama kalinya rudal tersebut digunakan dalam pertempuran nyata. Bagi Pentagon, pengalaman tempur seperti ini akan sangat menentukan arah pengembangan senjata berikutnya.
Mengapa industri pertahanan AS dipaksa berubah
Situasi di Timur Tengah memberi pelajaran keras bahwa pabrik senjata era damai tidak cukup cepat untuk menghadapi intensitas perang modern. AS kini membutuhkan produksi yang bukan hanya besar, tetapi juga stabil dan cepat, agar stok pencegat tidak habis ketika serangan berulang datang dalam waktu singkat.
Tekanan itu juga datang dari kebutuhan menjaga kredibilitas pertahanan udara AS dan komitmen kepada sekutu. Jika produksi tidak segera ditingkatkan, maka setiap saluran logistik, gudang amunisi, dan jadwal pengiriman akan menjadi titik rawan baru dalam strategi militer Washington.
Di saat yang sama, Iran dan kelompok-kelompok bersenjata yang memakai drone murah tetap punya insentif untuk bermain pada keunggulan biaya. Selama ketimpangan harga antara UAV dan rudal pencegat masih setajam ini, AS akan terus terdorong untuk mengubah industri pertahanannya ke ritme yang lebih agresif dan menyerupai ekonomi perang.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




