Ancaman gangguan baru di Laut Merah kembali meningkat setelah salah satu tokoh Houthi di Yaman menyatakan kelompok itu siap bertindak bila diperlukan untuk mendukung Iran. Pernyataan tersebut menambah kekhawatiran pasar global karena wilayah yang sama sebelumnya sudah memicu kekacauan besar pada jalur perdagangan dan pengiriman barang internasional.
Pernyataan itu muncul di tengah melebar-nya konflik di Timur Tengah, ketika sekutu Iran di Lebanon dan Irak sudah lebih dulu terlibat dalam eskalasi regional. Jika Houthi ikut membuka front baru, risiko terhadap pelayaran komersial di sekitar Bab al-Mandab dan Laut Merah bisa meningkat tajam, terutama bagi kapal tanker energi dan kargo menuju Terusan Suez.
Bab al-Mandab kembali jadi titik rawan
Bab al-Mandab adalah salah satu jalur laut paling penting di dunia karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Selat ini hanya sekitar 18 mil atau 29 km di titik tersempit, sehingga arus kapal harus melewati dua jalur pelayaran yang terbatas.
Posisi geografis itu membuat setiap gangguan kecil langsung berdampak besar pada logistik global. Jalur ini menjadi pintu penting bagi pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan komoditas lain dari Teluk ke Mediterania melalui Terusan Suez atau pipa SUMED di pesisir Laut Merah Mesir.
Pernyataan Houthi sinyalkan kesiapan tempur
Seorang pemimpin Houthi yang tidak disebutkan namanya mengatakan kelompoknya “sepenuhnya siap secara militer” dan menunggu keputusan pimpinan untuk menentukan waktu yang tepat. Ia juga menyebut perkembangan perang akan terus dipantau sebelum langkah berikutnya diambil.
Tokoh itu menegaskan bahwa selama ini Iran masih berada dalam posisi yang dinilai menguntungkan dalam konflik, sehingga Houthi belum bergerak. Namun, ia memberi sinyal bahwa situasi bisa berubah bila kondisi di lapangan berbalik merugikan Teheran.
Kepentingan strategis Iran dan potensi pembukaan front baru
Sejumlah diplomat dan analis menilai Houthi kemungkinan menunggu momentum yang paling menguntungkan sebelum masuk lebih jauh ke konflik. Koordinasi dengan Iran dapat memberi tekanan tambahan pada lawan-lawannya sekaligus memperluas dampak regional dari perang yang sudah berlangsung.
Media Iran yang relatif dekat dengan pemerintah, Tasnim, juga mengutip sumber militer tak disebutkan namanya yang menyebut Iran dapat membuka front baru di Bab al-Mandab bila wilayahnya atau pulau-pulau miliknya diserang. Sinyal seperti ini memperkuat kekhawatiran bahwa Laut Merah bisa kembali menjadi arena konfrontasi yang lebih luas.
Dampak terhadap pelayaran dan energi global
Serangan Houthi sebelumnya telah mengacaukan proses pengiriman barang internasional di Laut Merah selama perang Gaza. Kelompok itu mulai menargetkan kapal-kapal asing setelah serangan 7 Oktober terhadap Israel dan respons militer Israel di Gaza memicu eskalasi besar di kawasan.
Berikut jalur dan aset yang paling rentan terhadap gangguan jika tensi kembali naik:
- Kapal tanker minyak mentah dari Teluk menuju Eropa.
- Kapal pengangkut bahan bakar dan produk energi lain di rute Laut Merah.
- Kapal kargo menuju atau keluar dari Terusan Suez.
- Jalur impor komoditas menuju Asia, termasuk pengiriman minyak Rusia.
Gangguan pada Bab al-Mandab berpotensi memaksa kapal memutar rute lebih jauh, menaikkan biaya asuransi, dan memperlambat pasokan global. Dalam situasi pasar minyak yang sensitif, perubahan kecil pada keamanan pelayaran bisa memicu lonjakan harga dan meningkatkan risiko ekonomi lintas kawasan.
Mengapa Laut Merah menjadi perhatian besar
Laut Merah dan Bab al-Mandab bukan hanya jalur regional, melainkan simpul penting perdagangan dunia. Pengawasan terhadap rute ini sangat ketat karena setiap ancaman dapat mengganggu rantai pasok yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
Dalam konteks perang yang melibatkan Iran dan lawan-lawannya, Houthi memiliki kemampuan militer untuk menekan jalur pelayaran dan mengirim sinyal politik yang kuat. Karena itu, pernyataan bahwa mereka siap bertindak jika dibutuhkan segera dibaca sebagai peringatan baru bagi operator kapal, otoritas pelabuhan, dan pasar energi internasional.
Amr Al-Bidh dari kepemimpinan senior Dewan Transisi Selatan Yaman mengatakan Houthi akan bergerak “ketika mereka melihat Iran paling membutuhkan mereka.” Pandangan itu menegaskan bahwa risiko di Laut Merah belum hilang, dan setiap perkembangan baru di konflik Iran dapat langsung memengaruhi keamanan pelayaran di salah satu jalur dagang paling vital di dunia.









