Dozens of jenazah dimakamkan di sebuah makam Kabul dalam pemakaman massal kedua bagi korban serangan udara yang menghantam pusat rehabilitasi narkoba di ibu kota Afghanistan itu. Otoritas setempat menyebut serangan di Rumah Sakit Perawatan Kecanduan Omid memicu korban dalam jumlah besar, sementara PBB masih memverifikasi total korban tewas.
Penguburan berlangsung ketika sekop berat membuka lubang besar untuk menampung 60 peti jenazah. Pejabat Afghanistan mengatakan serangan udara Pakistan pada fasilitas berkapasitas 2.000 tempat tidur itu terjadi pada pertengahan bulan lalu dan menewaskan ratusan orang, meski Islamabad membantah menargetkan warga sipil dan menyatakan serangan diarahkan ke depot amunisi.
Korban masih terus bertambah
Juru bicara Kementerian Kesehatan Sharafat Zaman mengatakan jumlah korban tewas kini mencapai 411 orang. Ia menyebut angka itu naik setelah dua korban luka meninggal di rumah sakit dan satu jenazah lagi ditemukan dari puing-puing dalam beberapa hari terakhir.
Zaman juga mengatakan ada 263 orang yang terluka. Ia menambahkan bahwa sebanyak 20 pemuda berusia sekitar 18 hingga 19 tahun belum ditemukan karena berada di ruangan yang hancur total dalam serangan itu.
Pencarian keluarga korban belum selesai
Banyak keluarga masih mencari anggota keluarga mereka yang hilang setelah ledakan dan kebakaran hebat melanda kompleks rumah sakit. Menurut Zaman, ratusan orang masih mendatangi departemen forensik Kabul untuk mencari kabar kerabat mereka yang berada di Omid, karena nama mereka belum muncul di daftar korban tewas maupun luka.
Samira Mohammadi termasuk di antara keluarga yang belum menemukan anggota keluarganya. Ia mengatakan terus mencari putranya yang berusia 20 tahun, Arif, setelah ledakan tersebut dan mendatangi beberapa rumah sakit di ibu kota tanpa hasil.
- Korban tewas yang dikonfirmasi: 411 orang
- Korban luka: 263 orang
- Jenazah yang belum ditemukan: 20 pemuda
- Pemakaman massal yang digelar: kedua kalinya
- Kursi perawatan fasilitas Omid: 2.000 tempat tidur
Serangan di tengah ketegangan lintas batas
Serangan itu terjadi di tengah eskalasi konflik antara Pakistan dan Afghanistan yang dimulai sejak Februari. Bentrokan lintas batas dan serangan udara di dalam wilayah Afghanistan, termasuk di Kabul, terus berulang dan memicu kekhawatiran internasional.
Pakistan menuduh Afghanistan memberi perlindungan bagi militan yang menyerang wilayahnya, terutama Tehrik-e-Taliban Pakistan atau TTP. Kelompok itu terpisah dari Taliban Afghanistan, tetapi memiliki hubungan dekat, sementara Kabul membantah tudingan tersebut.
Pakistan pada bulan lalu menyebut dirinya berada dalam “perang terbuka” dengan Afghanistan. Situasi ini membuat komunitas internasional waspada, terutama karena kawasan tersebut juga masih menjadi ruang gerak kelompok bersenjata lain seperti al-Qaida dan ISIS.
Gencatan senjata singkat dan bentrokan terbaru
Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata sementara menjelang Idul Fitri setelah dimediasi Arab Saudi, Turki, dan Qatar. Namun masa jeda itu berakhir pekan ini dan bentrokan kembali terjadi pada Rabu, dengan pejabat Afghanistan mengatakan sedikitnya dua warga sipil tewas di Afghanistan timur dan lainnya terluka.
Secara terpisah, TTP mengatakan mereka kembali melancarkan serangan di Pakistan setelah gencatan senjata Idul Fitri selama tiga hari yang mereka patuhi sendiri. Situasi ini memperlihatkan bahwa ketegangan di perbatasan belum mereda dan dampaknya terus dirasakan warga sipil di kedua sisi.
Kronologi singkat peristiwa di Kabul
| Peristiwa | Keterangan |
|---|---|
| Serangan udara | Menghantam Rumah Sakit Perawatan Kecanduan Omid di Kabul |
| Dampak awal | Kebakaran hebat dan kerusakan parah pada fasilitas |
| Pemakaman pertama | Digelar untuk lebih dari 50 korban |
| Pemakaman kedua | Digelar untuk 60 peti jenazah |
| Status korban | 411 tewas, 263 luka, 20 belum ditemukan |
Omid sendiri sebelumnya merupakan fasilitas perawatan yang diperluas oleh pemerintah Taliban sebagai bagian dari upaya menekan masalah kecanduan narkoba yang meluas di Afghanistan. Lokasinya berada dekat Bandara Internasional Kabul dan bersebelahan dengan bekas pangkalan NATO Camp Phoenix, area yang kini menjadi salah satu titik paling sensitif di ibu kota Afghanistan.









