Amerika Serikat, Israel, dan Iran saling memasang syarat keras untuk mengakhiri perang yang telah mengguncang Timur Tengah dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Posisi masing-masing pihak menunjukkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan masih bergantung pada isu-isu inti, mulai dari program nuklir Iran, rudal balistik, hingga peran kelompok sekutu di kawasan.
Di tengah pertukaran serangan udara antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta balasan Iran ke Israel, panggung diplomasi tetap terbuka melalui perantara. Namun, isi tuntutan yang beredar memperlihatkan bahwa setiap pihak masih memegang garis merah yang sulit dipertemukan dalam satu paket damai.
Apa yang diminta Amerika Serikat
Pemerintah AS disebut telah menyampaikan sebuah rencana 15 poin kepada Iran melalui Pakistan, meski rincian resminya belum dipublikasikan. Pemerintahan Donald Trump juga menolak menjelaskan isi lengkap proposal itu dan menyebut beberapa laporan media tentang rencana tersebut tidak akurat.
Berdasarkan keterangan tiga sumber kabinet Israel, syarat utama yang diusung Washington mencakup penghapusan stok uranium Iran yang diperkaya tinggi. Proposal itu juga disebut menuntut penghentian program pengayaan uranium Iran, pembatasan program rudal balistik, dan berakhirnya dukungan Iran kepada sekutu regional seperti Hizbullah di Lebanon.
Gedung Putih menyatakan Iran akan menghadapi serangan yang “lebih keras dari sebelumnya” jika menolak proposal itu. Washington juga diperkirakan akan menambah ribuan tentara di Timur Tengah, menurut dua sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Sikap Iran terhadap tawaran itu
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa respons Tehran terhadap usulan AS belum bersifat “positif”, meski masih dalam tahap peninjauan. Menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, Iran tidak sedang bernegosiasi langsung dengan AS, walau pesan masih dipertukarkan lewat pihak ketiga.
Tehran meminta perang berakhir secara permanen dan menuntut kompensasi atas kerusakan yang terjadi. Iran juga menyebut penguasaannya atas Selat Hormuz sebagai “hak alami dan legal”, sebuah sinyal bahwa isu jalur sempit pengiriman energi itu ikut masuk dalam kalkulasi negosiasi.
Iran juga meminta agar perang Israel di Lebanon dimasukkan dalam setiap kesepakatan gencatan senjata. Enam sumber regional yang mengetahui posisi Tehran mengatakan Iran menyampaikan hal itu kepada para perantara.
Isu jalur laut jadi alat tekan
Selain tuntutan diplomatik, Iran juga menunjukkan kemampuan untuk meningkatkan eskalasi jika tidak ada gencatan senjata. Tehran disebut mengisyaratkan kemungkinan menekan jalur laut lain, yakni Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, yang menjadi rute alternatif ekspor minyak dari sejumlah negara Teluk.
Sejumlah sumber juga mengatakan Iran memiliki informasi intelijen bahwa Amerika Serikat berencana menduduki sebuah pulau Iran dengan dukungan dari negara kawasan. Jika itu terjadi, Iran disebut akan menyerang infrastruktur vital di negara pendukung tersebut, meski namanya tidak disebutkan.
Ancaman terhadap dua jalur laut penting ini menambah bobot konflik karena kawasan itu menjadi simpul penting perdagangan energi dunia. Setiap gangguan di Selat Hormuz, Laut Merah, atau Bab al-Mandab dapat langsung berdampak pada pasar minyak dan biaya logistik global.
Posisi Israel dalam kemungkinan kesepakatan
Israel menunjukkan sikap hati-hati terhadap proposal Amerika Serikat. Seorang pejabat pertahanan senior Israel mengatakan pihaknya ragu Iran akan menyetujui syarat-syarat AS, tetapi juga khawatir Trump bisa memberikan konsesi.
Israel menginginkan agar setiap kesepakatan tetap memberi ruang untuk melancarkan serangan pencegahan. Artinya, Tel Aviv tidak ingin perjanjian apa pun membatasi kebebasannya untuk bertindak bila menilai ancaman Iran masih ada.
Juru bicara militer Israel menyatakan misi saat ini adalah terus menghancurkan kemampuan militer Iran. Ia juga menegaskan Israel masih memiliki “banyak target” yang tersisa.
Ringkasan posisi masing-masing pihak
| Pihak | Posisi utama | Tuntutan atau tujuan |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | Menekan Iran lewat proposal 15 poin | Penghapusan uranium yang diperkaya tinggi, penghentian pengayaan uranium, pembatasan rudal balistik, penghentian dukungan ke sekutu regional |
| Iran | Belum memberi respons positif, masih meninjau | Gencatan senjata permanen, kompensasi kerusakan, pengakuan atas hak di Selat Hormuz, pembahasan perang Lebanon dalam kesepakatan |
| Israel | Skeptis terhadap kesepakatan, tetap fokus militer | Hak untuk melakukan serangan pencegahan dan melanjutkan penghancuran kemampuan militer Iran |
Mengapa negosiasi ini sulit bergerak
Setiap pihak datang dengan agenda yang saling berlawanan. Washington ingin membatasi kemampuan nuklir dan rudal Iran, Tehran menuntut penghentian perang dan kompensasi, sementara Israel ingin menjaga kebebasan menyerang jika merasa terancam.
Situasi itu membuat prospek kesepakatan masih rapuh, terutama karena perang tidak hanya berkaitan dengan Iran dan Israel, tetapi juga menyentuh kepentingan Amerika Serikat, sekutu regional, serta jalur energi vital yang menghubungkan Timur Tengah dengan pasar global. Selama semua pihak masih memakai tekanan militer dan ancaman eskalasi sebagai alat tawar, ruang kompromi akan tetap sempit.
