Houthi Masuk Perang, Rudal Balistik Mereka Mengarah Ke Israel

Milisi Houthi di Yaman resmi memperluas keterlibatannya dalam perang dengan meluncurkan rudal balistik ke wilayah selatan Israel pada Sabtu dini hari, 28 Maret 2026. Serangan ini menandai pertama kalinya ancaman militer langsung datang dari Yaman ke Israel sejak konflik regional memanas.

Pasukan Pertahanan Israel atau IDF menyatakan rudal itu berhasil dicegat sistem pertahanan udara sebelum mencapai target. Hingga laporan ini disusun, tidak ada informasi mengenai korban jiwa atau luka-luka akibat serangan tersebut.

Serangan dari Yaman Buka Front Baru

Langkah Houthi ini dipandang sebagai eskalasi penting dalam konflik yang selama ini banyak terpusat di Gaza, Lebanon, dan perbatasan Israel-Iran. Dengan serangan rudal balistik, kelompok yang menguasai ibu kota Sanaa sejak 2014 itu menunjukkan bahwa mereka kini ikut mengaktifkan front baru dalam perang kawasan.

Sirene peringatan terdengar di kawasan Beer Sheba dan area dekat pusat penelitian nuklir Israel. Itu menjadi kali ketiga alarm bunyi sejak Jumat malam, di tengah gelombang serangan rudal dan drone yang juga diluncurkan Iran serta Hizbullah ke arah Israel.

Pernyataan Houthi Sebelum Serangan

Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, sudah lebih dulu memberi sinyal bahwa kelompoknya siap bergerak. Ia menyatakan Houthi akan melakukan intervensi militer langsung jika eskalasi terhadap Iran dan apa yang mereka sebut sebagai poros perlawanan terus berlanjut.

“Jari-jari kami berada di atas pelatuk untuk intervensi militer langsung,” kata Saree dalam pernyataan resminya sesaat sebelum serangan terjadi. Pernyataan itu kemudian terbukti lewat peluncuran rudal balistik ke Israel selatan.

Posisi Houthi dalam Konflik Regional

Houthi selama ini dikenal sebagai kelompok bersenjata yang didukung Iran dan menjadi salah satu aktor paling aktif dalam dinamika perang Timur Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka berulang kali meluncurkan serangan ke jalur pelayaran dan target terkait Israel, tetapi serangan terbaru ini memperlihatkan peningkatan skala dan risiko konflik.

Aksi tersebut juga memperkuat dugaan bahwa Iran tengah menghadapi dukungan dari jaringan sekutu regionalnya di berbagai titik. Berikut aktor yang saat ini paling menonjol dalam eskalasi konflik tersebut.

  1. Iran, yang disebut memimpin koordinasi poros perlawanan.
  2. Hizbullah di Lebanon, yang turut meluncurkan serangan ke Israel.
  3. Houthi di Yaman, yang kini resmi membuka front serangan langsung dari selatan.
  4. Israel, yang merespons dengan penguatan sistem pertahanan udaranya.

Implikasi Keamanan di Israel dan Kawasan

Serangan rudal dari arah Yaman menambah tekanan keamanan bagi Israel yang saat ini sudah menghadapi ancaman dari beberapa garis depan sekaligus. Situasi ini membuat sistem pertahanan udara harus bekerja lebih intens untuk mencegat serangan datang dari berbagai arah.

Menurut IDF, rudal berhasil dihancurkan sebelum mengenai sasaran. Meski begitu, intensitas peringatan udara menunjukkan bahwa konflik kawasan kini bergerak ke tahap yang lebih luas dan lebih sulit diprediksi.

Respons dan Perhitungan Politik Militer

Bagi Houthi, serangan ini bukan hanya aksi simbolik, tetapi juga pesan politik bahwa mereka siap menjadi bagian aktif dari perang yang melibatkan Iran dan sekutunya. Langkah ini kemungkinan akan memengaruhi kalkulasi militer Israel, terutama dalam mengantisipasi serangan lintas wilayah dari aktor non-negara.

Di sisi lain, dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok seperti Houthi dan Hizbullah memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi berdiri sebagai perang dua pihak. Dengan makin banyaknya aktor yang terlibat, risiko perluasan perang ke wilayah lain semakin besar dan ancaman terhadap stabilitas kawasan ikut meningkat.

Hingga saat ini, Israel masih memantau potensi serangan lanjutan dari berbagai arah setelah rudal Houthi ditembakkan ke selatan Israel. Situasi di kawasan tetap tegang karena serangan dari Yaman datang bersamaan dengan eskalasi serangan Iran dan Hizbullah, sehingga keamanan regional berada dalam kondisi siaga tinggi.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button