Balen Shah Menuju Kursi PM Nepal, Gelombang Generasi Z Mengubah Peta Politik

Balendra Shah, yang lebih dikenal sebagai Balen, berada di jalur untuk menjadi perdana menteri Nepal berikutnya setelah partainya meraih kemenangan besar dalam pemilihan parlemen. Sosok yang dulu dikenal sebagai insinyur struktur dan rapper ini kini menjadi simbol perubahan politik di tengah kekecewaan publik terhadap partai-partai lama.

Kenaikan Shah tidak hanya menandai pencapaian pribadi, tetapi juga mencerminkan pergeseran yang lebih luas setelah gelombang protes yang dipimpin anak-anak muda mengguncang Nepal dan menggulingkan pemerintah sebelumnya. Di negara berpenduduk sekitar 30 juta jiwa itu, pemilih tampak memberi sinyal jelas bahwa mereka ingin arah baru, terutama setelah isu korupsi dan instabilitas politik terus membayangi pemerintahan.

Mandat kuat di parlemen

Rastriya Swatantra Party atau RSP, yang dipimpin Shah, memenangkan sekitar dua pertiga dari 275 kursi di majelis rendah parlemen Nepal. Ini menjadi salah satu kemenangan paling dominan bagi sebuah partai di Nepal dalam beberapa tahun terakhir.

Shah dipilih sebagai pemimpin partai oleh para anggota legislatif terpilih dari RSP, lalu presiden dijadwalkan mengangkatnya sebagai perdana menteri. Dengan dukungan sebesar itu, pemerintahannya berpeluang memiliki ruang lebih besar untuk mendorong agenda reformasi.

Dari rapper ke panggung nasional

Sebelum masuk politik, Shah membangun reputasi sebagai rap artist yang kerap menyoroti korupsi dan ketidakadilan sosial. Salah satu lagunya, “Nepal Smiling,” sempat viral di Instagram dan TikTok, dengan lirik yang menggambarkan harapan agar Nepal menjadi negara yang lebih adil.

Dalam lagu lain berjudul “Sacrifice,” nada kritiknya jauh lebih keras. Ia melontarkan serangan tajam terhadap elite politik dengan menyebut para pemimpin sebagai pencuri yang merampas negara, sebuah pesan yang memperkuat citranya sebagai figur anti-kemapanan.

Jejak politik yang cepat naik

Shah mulai dikenal luas setelah menang sebagai kandidat independen dalam pemilihan wali kota Kathmandu pada 2022. Setelah itu, ia bergabung dengan RSP dan langsung diposisikan sebagai kandidat utama untuk jabatan perdana menteri, melompati sejumlah tokoh senior dari partai pesaing.

Sebagai wali kota, Shah mendapat pujian karena menangani masalah sampah ibu kota, menertibkan pedagang kaki lima ilegal, dan mendorong perluasan jalan. Namun, kritik juga muncul karena sebagian kebijakan dianggap terlalu agresif dan dilakukan tanpa perencanaan atau pemberitahuan yang memadai.

Kaitan dengan gelombang protes generasi muda

Nama Shah ikut menguat saat gelombang pemberontakan yang dipimpin anak muda mengguncang Nepal pada September dan menewaskan puluhan orang. Ia tidak turun langsung dalam aksi itu, tetapi secara terbuka menyatakan dukungan kepada para demonstran Gen Z yang menjadi motor gerakan.

Ketika situasi memanas, Shah meminta massa menahan diri dan menjaga ketertiban agar kekerasan tidak meluas. Ia kemudian mendukung proses negosiasi yang membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan sementara.

Tantangan setelah euforia kemenangan

Sejumlah analis menilai mandat besar yang dimiliki Shah bisa memudahkannya mendorong kebijakan baru di parlemen. Namun, pengalaman nasionalnya masih terbatas, dan ekspektasi publik yang tinggi bisa berubah menjadi beban politik jika hasil cepat tak segera terlihat.

Hari Bahadur Thapa, penulis asal Kathmandu yang banyak meneliti isu korupsi dan tata kelola, menilai Shah belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menjalankan pemerintahan. Meski begitu, ia menilai posisi Shah lebih kuat karena oposisi kini melemah dan dukungan di parlemen sangat besar.

Mengapa kemenangan Shah penting

  1. Menunjukkan penolakan pemilih terhadap elite politik lama.
  2. Memperkuat pengaruh generasi muda dalam arah politik Nepal.
  3. Membuka peluang reformasi dengan dukungan parlemen yang besar.
  4. Menjadi ujian bagi figur outsider yang belum punya pengalaman pemerintahan nasional.

Bagi para pendukungnya, Shah sudah mewakili harapan baru yang bersih dan lebih dekat dengan aspirasi warga muda. Seorang pekerja kantor, Susil Singh, mengatakan bahwa Nepal akhirnya memiliki pemimpin muda yang dianggap bersih, dan masyarakat kini menunggu apakah janji antikorupsi dan pemulihan keadilan bagi korban protes bisa benar-benar diwujudkan.

Berita Terkait

Back to top button