Buffer Zone Israel di Lebanon, Jejak Panjang Invasi dan Pendudukan Kembali Menghantui Selatan

Israel kembali memicu kekhawatiran lama di Lebanon setelah menyatakan akan merebut sebagian wilayah selatan untuk membentuk “zona penyangga” terhadap Hizbullah. Langkah itu segera mengingatkan banyak warga Lebanon pada rangkaian invasi dan pendudukan Israel yang sudah berulang selama puluhan tahun.

Rencana ini muncul di tengah perang lintas batas yang terus memanas dan menambah risiko pengungsian baru di wilayah selatan Lebanon. Bagi banyak warga sipil, istilah “keamanan” yang dipakai Israel justru terdengar seperti pembuka bagi kehadiran militer jangka panjang di tanah Lebanon.

Apa yang diumumkan Israel

Pada awal bulan, Israel memerintahkan seluruh penduduk di selatan Sungai Litani untuk mengungsi, setelah Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai respons atas serangan AS-Israel terhadap Iran. Sungai itu mengalir sekitar 30 kilometer di utara perbatasan Israel dan membentang di area yang mencakup sekitar 8 persen wilayah Lebanon.

Militer Israel lalu membangun benteng baru di selatan Litani dan menghancurkan rumah-rumah di desa yang sudah ditinggalkan. Pada hari yang sama ketika eskalasi itu dibicarakan secara terbuka, Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan tentara telah menghancurkan lima jembatan di atas sungai tersebut dan akan menguasai jembatan-jembatan tersisa serta “zona keamanan hingga Litani.”

Sikap Israel dan alasan yang dipakai

Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, menyebut Litani sebagai “garis keamanan utara” dan mengatakan operasi darat diperluas untuk mencegah tembakan langsung ke komunitas Israel di utara. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kemudian menyebut Israel sedang memperluas “sabuk keamanan” untuk menjauhkan ancaman senjata anti-tank dari kota-kota Israel.

Netanyahu juga mengatakan, “Kami hanya menciptakan zona penyangga yang lebih besar.” Dalam pernyataan terpisah, militer Israel mengatakan ribuan tentara telah dikerahkan di area perbatasan dan melakukan apa yang mereka sebut sebagai invasi terbatas ke wilayah Lebanon.

Apa yang terjadi di lapangan

Di selatan Lebanon, pertempuran darat antara tentara Israel dan Hizbullah terus berlangsung, sementara serangan udara Israel menghantam selatan, timur, dan Beirut. Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan lebih dari 1 juta orang telah mengungsi dan lebih dari 1.000 orang tewas, termasuk lebih dari 120 anak, 80 perempuan, dan 40 tenaga medis.

Dari sisi Israel, militer mengatakan empat tentaranya tewas di selatan Lebanon sejak awal bulan ini, sementara dua warga sipil Israel tewas akibat roket Hizbullah. Serangan Hizbullah juga menimbulkan kerusakan dan korban luka di Israel utara, sehingga konflik ini terus mendorong siklus balas serang yang sulit dihentikan.

Ketakutan warga sipil Lebanon

Pemerintah Lebanon belum mengeluarkan komentar publik resmi mengenai rencana Israel itu. Namun Hizbullah menyebut setiap upaya pendudukan di selatan sebagai “ancaman eksistensial” bagi Lebanon dan berjanji akan melawannya.

Bagi warga sipil, kekhawatiran terbesar bukan hanya pertempuran yang sedang berlangsung, tetapi juga kemungkinan Israel memperluas kendali ke wilayah yang lebih dalam. Shahira Ahmad Dabdoub, 61 tahun, yang mengungsi akibat serangan Israel, mengatakan di sebuah pusat pengungsian di Beirut, “Itulah ketakutannya — jika mereka mengambil Litani, maka mereka akan datang ke sini berikutnya.”

Jejak panjang invasi dan pendudukan

Rencana zona penyangga di Lebanon tidak muncul dalam ruang hampa, karena Israel memang punya sejarah panjang masuk dan bertahan di selatan negara itu. Pola itu berulang sejak akhir dekade 1970-an, ketika Israel menyerbu selatan Lebanon dan membangun zona pendudukan sempit dengan dukungan milisi Kristen setempat bernama South Lebanon Army, atau SLA.

Sekitar empat tahun kemudian, Israel kembali menyerbu hingga Beirut setelah rangkaian tembak-menembak lintas batas. Meski mundur dari Lebanon tengah pada 1983, Israel tetap mempertahankan pasukan di selatan dan pada 1985 membentuk zona pendudukan yang lebih luas, sekitar 15 kilometer ke dalam wilayah Lebanon, dengan bantuan SLA.

Israel akhirnya menarik pasukannya dari Lebanon selatan pada 2000 setelah serangan terus-menerus terhadap posisi militernya oleh Hizbullah. Penarikan itu mengakhiri 22 tahun pendudukan, tetapi tidak menutup bab konflik yang kemudian kembali meledak pada 2006 setelah Hizbullah menyeberangi perbatasan, menculik dua tentara Israel, dan menewaskan lainnya.

Hubungan dengan perang regional yang lebih luas

Ketegangan terbaru juga terkait langsung dengan perang Gaza dan dinamika regional yang ikut menyeret Lebanon. Pada 8 Oktober, Hizbullah membuka tembakan ke Israel sehari setelah serangan Hamas di Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang, lalu Israel membalas dengan kampanye pengeboman dan akhirnya mengirim pasukan darat ke selatan Lebanon lagi.

Setelah gencatan senjata pada tahap berikutnya, Israel tetap mempertahankan pasukan di lima puncak bukit di selatan Lebanon. Dalam praktiknya, keberadaan itu menegaskan bahwa garis perbatasan di kawasan tersebut masih sangat cair dan dapat berubah cepat mengikuti eskalasi baru.

Pola zona penyangga di berbagai front

Pendekatan zona penyangga juga terlihat di medan lain. Di Gaza, Israel meratakan area luas di sepanjang perbatasan untuk membentuk zona yang diklaim bertujuan melindungi warga sipil Israel yang tinggal dekat garis depan.

Menteri Pertahanan Katz bahkan menyebut operasi di Lebanon mengikuti “model Rafah dan Beit Hanoun”, merujuk pada dua kota di Gaza yang hampir sepenuhnya dihancurkan dan dikosongkan. Di Suriah selatan, Israel juga merebut puncak strategis Gunung Hermon setelah jatuhnya Bashar al-Assad dan menuntut zona demiliterisasi dari Damaskus hingga Hermon.

Fakta kunci terkait rencana Israel di Lebanon

  1. Israel memerintahkan evakuasi penduduk di selatan Sungai Litani.
  2. Israel mengatakan akan mempertahankan zona keamanan hingga Litani.
  3. Hizbullah menyebut rencana pendudukan sebagai ancaman eksistensial.
  4. Lebanon melaporkan lebih dari 1 juta pengungsi dan lebih dari 1.000 korban jiwa.
  5. Israel dan Lebanon punya sejarah panjang invasi, pendudukan, dan perang lintas batas.

Dengan latar sejarah itu, setiap manuver baru di selatan Lebanon langsung dibaca sebagai kemungkinan pengulangan masa lalu, bukan sekadar langkah taktis jangka pendek. Selama serangan udara, pertempuran darat, dan ancaman zona penyangga terus berlangsung, selatan Lebanon tetap menjadi titik paling rawan dalam pertarungan Israel-Hizbullah yang dampaknya meluas hingga Beirut dan perbatasan utara Israel.

Berita Terkait

Back to top button