Krisis gas yang dipicu ketegangan di Timur Tengah mulai mengubah wajah dapur-dapur di India. Ribuan restoran, hotel, hingga pedagang kaki lima kini terpaksa kembali memakai kayu bakar dan arang agar tetap bisa melayani pelanggan.
Dampaknya terasa cepat di berbagai kota besar seperti Delhi, Noida, Lucknow, hingga Hyderabad. Di sejumlah tempat, pasokan gas elpiji merosot tajam, harga makanan ikut naik, dan menu yang dijual pun dipangkas karena pelaku usaha harus menekan biaya operasional.
Pasokan gas anjlok, dapur dipaksa beradaptasi
Di Bihar, tekanan paling nyata terlihat pada bisnis kuliner kecil dan menengah yang bergantung pada pasokan harian gas. Wakil Manajer Hotel di Ramghulam Chowk, Allen Christopher, mengatakan dapurnya kini tidak lagi beroperasi sambil membawa stok aman seperti sebelumnya.
“Kami harus sangat berhati-hati dengan anggaran. Pasokan harian turun dari 12 tabung menjadi hanya 4-5 tabung saja,” kata Allen. Kondisi itu memaksa manajemen menghapus sejumlah menu berbiaya tinggi, termasuk olahan daging domba, yang butuh energi masak lebih besar.
Untuk bertahan, hotel tersebut kini mengandalkan oven tandoor dan kompor induksi listrik. Langkah ini membantu menjaga layanan, tetapi tidak sepenuhnya menutup tekanan biaya yang muncul akibat pasokan energi yang tidak stabil.
Harga naik, usaha kecil paling terpukul
Krisis gas tidak hanya memukul restoran besar, tetapi juga pedagang kecil yang bergantung pada pembeli harian. Di Ashiana Nagar, seorang pedagang jajanan bernama Rajesh Kumar memilih kompor arang setelah gas sulit didapat dan harganya makin mahal.
Pilihan itu memang menyelamatkan usaha, tetapi muncul konsekuensi lain berupa asap tebal dan waktu masak yang lebih lama. Di lapangan, situasi ini membuat pelayanan melambat dan pelanggan harus menunggu lebih lama, sementara biaya bahan bakar justru tetap naik.
Di tingkat konsumen, kenaikan harga juga sudah terasa. Secangkir teh yang sebelumnya dijual 5 rupe kini naik menjadi 10 rupe atau sekitar Rp1.790, sehingga tekanan inflasi kecil di sektor makanan dan minuman semakin nyata bagi masyarakat berpenghasilan harian.
Selama Ramadan, permintaan tinggi justru bertemu krisis pasokan
Kondisi paling berat dialami pelaku usaha makanan di Hyderabad, terutama jaringan kafe Shah Ghouse yang dikenal dengan biryani. Mereka kembali memakai kayu bakar untuk menjaga produksi tetap berjalan di tengah lonjakan permintaan selama bulan Ramadan.
Momentum Ramadan biasanya menjadi periode sibuk karena konsumsi makanan meningkat pada waktu berbuka dan sahur. Namun krisis gas membuat banyak dapur harus menyesuaikan jam operasional, menahan produksi, atau mengurangi jenis hidangan yang dijual kepada pelanggan.
Tekanan serupa juga muncul di sektor layanan umum. Kantin Mahkamah Agung di Delhi bahkan mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menyajikan makanan panas, dan hanya menyediakan menu dingin seperti sandwich, salad, serta buah-buahan.
Tabel dampak utama krisis gas di India
- Restoran besar: mengurangi menu dan jam operasional.
- Pedagang kecil: beralih ke arang atau kayu bakar.
- Konsumen: menghadapi kenaikan harga makanan dan minuman.
- Institusi publik: membatasi sajian makanan panas.
- Pekerja dapur: berhadapan dengan biaya tambahan dan risiko operasional.
Gangguan pasokan berkaitan dengan ketegangan Timur Tengah
Sumber masalah utama berasal dari gangguan pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah, kawasan yang disebut menyumbang sekitar sepertiga dari total konsumsi gas harian India. Ketika suplai terganggu, efek berantai langsung terasa di jalur distribusi, tabung LPG, dan harga energi untuk dapur komersial.
Antrian pengisian ulang tabung LPG pun dilaporkan memanjang di sejumlah kota besar. Dalam situasi seperti ini, usaha makanan yang tidak memiliki cadangan energi atau sumber panas alternatif menjadi paling rentan terhadap penurunan pendapatan.
Selain itu, penggunaan arang dan kayu bakar bukan solusi ideal karena menimbulkan polusi udara dan memperlambat proses memasak. Namun bagi banyak pelaku usaha, pilihan itu menjadi jalan terakhir agar dapur tetap hidup dan pelanggan tetap dilayani.
Langkah darurat dari pelaku usaha dan lembaga
Sejumlah lembaga dan asosiasi mulai mengambil langkah penyesuaian untuk menekan dampak krisis ini. Asosiasi Hotel dan Restoran Chhattisgarh mengimbau anggotanya agar tidak menimbun gas, karena tindakan itu bisa memperburuk kepanikan dan mengganggu distribusi.
Di sisi lain, Layanan Katering Kereta Api India atau IRCTC mulai mendorong penggunaan microwave dan penyediaan makanan siap saji. Kebijakan ini menunjukkan bahwa gangguan pasokan sudah menjangkau rantai layanan publik yang lebih luas, bukan hanya dapur komersial biasa.
Para ahli memperingatkan, jika pasokan tidak segera pulih, penutupan warung kecil dan restoran skala mikro bisa meningkat. Risiko terbesar ada pada usaha yang modalnya tipis, bergantung pada perputaran harian, dan tidak punya cadangan energi alternatif untuk bertahan lebih lama.
Dampak yang paling terasa di lapangan
- Biaya operasional naik karena bahan bakar pengganti lebih mahal.
- Menu makanan berkurang karena proses memasak harus disederhanakan.
- Pelayanan melambat akibat kalori panas dari arang dan kayu bakar tidak stabil.
- Harga jual naik untuk menutup ongkos produksi.
- Risiko kehilangan pelanggan meningkat jika kualitas dan kecepatan layanan turun.
Krisis gas di India memperlihatkan betapa rapuhnya bisnis kuliner ketika pasokan energi terganggu. Dari hotel besar hingga warung kecil, banyak pelaku usaha kini hanya berupaya mempertahankan layanan dengan bahan bakar tradisional sambil menunggu stabilnya kembali pasokan LPG dan solusi distribusi yang lebih aman.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




