China menyatakan protes keras setelah pejabat diplomatik tertingginya di Hong Kong bertemu dengan Konsul Jenderal Amerika Serikat Julie Eadeh untuk menanggapi peringatan keamanan yang dikeluarkan Washington terkait perubahan aturan penegakan keamanan di wilayah itu. Beijing menilai langkah AS sebagai campur tangan, sementara konsulat AS menyebut tidak membahas rincian pertemuan diplomatik tersebut.
Kementerian Luar Negeri China melalui kantor Hong Kong mengatakan Komisaris Cui Jianchun menyampaikan “ketidakpuasan yang kuat dan penolakan tegas” dalam pertemuan pada 27 Maret. Beijing juga meminta Washington berhenti ikut campur dalam urusan Hong Kong dan urusan dalam negeri China “dalam bentuk apa pun”.
Latar belakang perubahan aturan keamanan di Hong Kong
Hong Kong pada bulan ini mengubah aturan penegakan dalam rezim keamanan nasional. Salah satu poin pentingnya adalah menjadikan penolakan memberikan kata sandi atau bantuan dekripsi lain untuk mengakses perangkat elektronik sebagai pelanggaran dalam kasus keamanan nasional.
Perubahan ini menambah sensitivitas hubungan Hong Kong dengan negara Barat, terutama karena aturan tersebut bisa berdampak pada warga asing yang berada di wilayah itu. Pemerintah AS kemudian merespons dengan mengeluarkan peringatan keamanan bagi warganya.
Isi peringatan dari Amerika Serikat
Konsulat Jenderal AS di Hong Kong pada 26 Maret mengimbau warga negara AS untuk menghubungi konsulat jika mereka ditangkap atau ditahan terkait aturan penegakan keamanan yang baru. Langkah ini menunjukkan kekhawatiran Washington terhadap potensi konsekuensi hukum dari pembaruan aturan tersebut.
Peringatan itu juga menandai upaya AS untuk memberi perlindungan konsuler lebih cepat bagi warganya jika terjadi penahanan. Dalam praktik diplomatik, peringatan semacam ini biasanya dipakai untuk mengurangi risiko dan memberi tahu warga tentang perubahan aturan yang bisa memengaruhi keamanan pribadi maupun kebebasan bergerak.
Isi keberatan China terhadap langkah AS
Beijing memandang peringatan tersebut sebagai tindakan yang tidak pantas. Kantor Kementerian Luar Negeri China di Hong Kong menyebut Cui menolak keras sikap AS dan mendesak Washington untuk menghormati urusan Hong Kong.
China secara konsisten menegaskan bahwa Hong Kong adalah bagian dari wilayahnya dan kebijakan keamanan di kota itu merupakan urusan domestik. Karena itu, setiap pernyataan atau peringatan dari negara lain yang berkaitan dengan aturan nasional keamanan kerap dipandang Beijing sebagai tekanan politik.
Poin-poin utama yang muncul dari insiden ini
- China memprotes peringatan keamanan AS yang terkait perubahan aturan di Hong Kong.
- Komisaris Cui Jianchun bertemu Konsul Jenderal AS Julie Eadeh pada 27 Maret.
- Hong Kong baru mengubah aturan penegakan keamanan nasional bulan ini.
- Aturan baru melarang penolakan memberikan kata sandi atau bantuan dekripsi dalam kasus keamanan nasional.
- Konsulat AS pada 26 Maret meminta warga AS menghubungi mereka jika ditangkap atau ditahan terkait aturan baru.
Implikasi bagi hubungan China dan AS
Insiden ini menunjukkan bahwa isu Hong Kong masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan China dan AS. Kedua pihak sama-sama menjaga posisi masing-masing, dengan China menuntut non-intervensi dan AS menekankan perlindungan bagi warganya.
Dalam konteks yang lebih luas, perubahan aturan keamanan dapat menambah kehati-hatian di kalangan warga asing, pelaku bisnis, dan organisasi internasional yang beroperasi di Hong Kong. Perkembangan berikutnya kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kedua negara mengelola komunikasi diplomatik di tengah meningkatnya ketegangan soal keamanan dan kedaulatan.









