Seekor paus bungkuk yang terjebak di Laut Baltik, Jerman, kini tampak semakin lemah setelah serangkaian upaya penyelamatan gagal membawanya kembali ke Atlantik. Para ahli khawatir mamalia laut sepanjang 12 hingga 15 meter itu sudah tidak cukup kuat untuk menempuh jalur keluar melalui perairan Jerman dan Denmark.
Otoritas setempat menetapkan zona pembatasan sejauh 500 meter di sekitar paus agar hewan itu bisa beristirahat dan, bila memungkinkan, berenang pergi sendiri. Langkah ini diambil setelah tim penyelamat mencoba membebaskannya dari lokasi dangkal di Timmendorfer Strand dan Teluk Wismar dengan bantuan ekskavator, perahu, serta gelombang besar buatan.
Kondisi paus terus menurun
Menteri Lingkungan Mecklenburg-Pomerania, Till Backhaus, mengatakan paus itu mungkin masih bisa keluar jika kembali memperoleh tenaga. Namun ia menegaskan bahwa kondisi hewan tersebut sudah mengindikasikan kelemahan dan penyakit.
“Karena itu kami memutuskan membiarkannya sendiri, agar ia benar-benar bisa berangkat dan meninggalkan area ini,” kata Backhaus dalam konferensi pers di Wismar. Ia juga menyebut ada kemungkinan paus mengalami cedera setelah bersentuhan dengan jaring ikan.
Tanda-tanda yang membuat para ahli khawatir
Stefanie Groß dari Institute for Terrestrial and Aquatic Wildlife Research di University of Veterinary Medicine Hannover mengatakan aktivitas paus tersebut menurun drastis. Menurut dia, laju pernapasan paus juga turun signifikan dan hewan itu tidak bereaksi bahkan ketika kendaraan tim mendekat.
Paus itu pertama kali terlihat berenang di Baltik pada 3 Maret, lalu laporan soal kondisi terdamparnya muncul pada pekan lalu. Sejak itu, kasus ini menyita perhatian publik Jerman karena perkembangan penyelamatan terus dipantau media dan disebarkan lewat siaran langsung dari lokasi.
Mengapa paus ini berbahaya jika tetap di Baltik
Laut Baltik tidak cocok untuk paus bungkuk bertahan lama karena kadar garam airnya terlalu rendah. Selain itu, paus tersebut sudah menunjukkan penyakit kulit dan tidak dapat menemukan jenis nutrisi yang sesuai, meski paus memang bisa bertahan tanpa makan selama beberapa minggu.
Jika ingin selamat, paus ini harus kembali ke Samudra Atlantik melalui Laut Utara. Namun jalurnya tidak mudah karena selat yang harus dilewati sempit dan jaraknya masih sekitar 500 kilometer, sehingga peluang keberhasilannya dinilai kecil.
Berikut ringkasan kondisi yang membuat upaya penyelamatan semakin sulit:
- Paus tampak makin pasif dan jarang bergerak.
- Laju napasnya turun drastis menurut pengamatan para peneliti.
- Ada dugaan cedera akibat jaring ikan.
- Kadar garam Laut Baltik terlalu rendah untuk kelangsungan hidup jangka panjang.
- Jalur keluar menuju Atlantik masih panjang dan penuh hambatan perairan sempit.
Mengapa kasus ini menarik perhatian publik
Kasus paus bungkuk ini tidak hanya menjadi perhatian para ahli satwa liar, tetapi juga memicu obrolan luas di seluruh Jerman. Banyak warga mengikuti kabar terbarunya melalui pemberitahuan berita dan percakapan singkat antarwarga, menandakan betapa kuatnya perhatian publik terhadap nasib hewan laut besar tersebut.
Burkard Baschek, direktur German Maritime Museum di Stralsund, menilai peluang paus ini untuk keluar memang terbatas. Ia menyebut perjalanan menuju Atlantik harus melewati “bottleneck” atau titik sempit yang membuat kemungkinan sukses relatif kecil, terutama jika kondisi fisiknya terus melemah.
Dengan pergerakan yang kian minim, napas yang makin pelan, dan dugaan gangguan kesehatan yang sudah muncul, masa depan paus bungkuk itu kini bergantung pada apakah ia masih mampu memulihkan tenaga dan menemukan arah keluar dari Baltik sebelum kondisinya memburuk lebih jauh.









