Paus Leo Tegaskan Doa Para Pemimpin Perang Ditolak Allah, Seruan Damai di Tengah Konflik Iran

Pope Leo mengecam keras para pemimpin yang memicu perang dan menegaskan bahwa Tuhan menolak doa mereka saat tangan mereka “penuh darah”. Pernyataan itu ia sampaikan pada Minggu dalam Misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, di tengah memanasnya perang Iran yang sudah memasuki bulan kedua.

Paus asal Amerika Serikat itu menyebut konflik tersebut “mengerikan” dan menolak penggunaan nama Yesus untuk membenarkan kekerasan. Ia juga mengutip ayat Kitab Suci untuk menegaskan bahwa doa para penguasa perang tidak didengar ketika tindakan mereka justru mengalirkan darah.

Seruan keras dari Lapangan Santo Petrus

Puluhan ribu umat Katolik menghadiri perayaan Minggu Palma, yang menandai awal Pekan Suci menuju Paskah. Dalam suasana cerah di Vatikan, Leo menyampaikan pesan damai yang tajam dan langsung mengaitkannya dengan kondisi konflik yang memburuk di Timur Tengah.

Ia mengatakan Yesus adalah “Raja Damai” yang menolak perang dan tidak bisa dipakai untuk membenarkan agresi apa pun. Pernyataan ini menjadi salah satu komentar publik paling keras dari Leo sejak perang Iran meluas dan menarik perhatian internasional.

Kutukan rohani bagi perang dan kekerasan

Dalam homilinya, Leo merujuk pada kisah Alkitab saat Yesus menegur seorang murid yang menghunus pedang ketika hendak menangkap-Nya. Ia menekankan bahwa Yesus tidak mempersenjatai diri, tidak melawan, dan tidak memilih jalan perang.

Berikut pokok pesan yang disampaikan Leo dalam khotbahnya:

  1. Tuhan menolak doa para pemimpin yang mengobarkan perang.
  2. Yesus tidak pernah digunakan untuk membenarkan kekerasan.
  3. Jalan Yesus adalah kelembutan, bukan pembalasan.
  4. Perang hanya melahirkan penderitaan dan kehancuran.

Leo juga menyitir pesan biblikal bahwa Tuhan tidak akan mendengar banyak doa jika tangan yang bersangkutan penuh darah. Ungkapan itu ia gunakan untuk menegaskan bahwa legitimasi moral tidak bisa lahir dari tindakan militer yang merusak.

Kritik berulang terhadap perang Iran

Paus tidak menyebut nama pemimpin dunia secara langsung, tetapi nada kritiknya terhadap perang Iran terus mengeras dalam beberapa pekan terakhir. Ia sebelumnya menyerukan gencatan senjata segera dan mengecam serangan udara militer yang menurutnya bersifat membabi buta.

Dalam pernyataan terpisah pada Senin, Leo mengatakan serangan udara semacam itu seharusnya dilarang karena tidak membedakan sasaran. Sikap itu memperlihatkan garis tegas Vatikan terhadap eskalasi konflik yang kian meluas dan berdampak pada warga sipil.

Dampak konflik bagi umat Kristen di Timur Tengah

Pada akhir misa, Leo menyampaikan keprihatinan atas umat Kristen di Timur Tengah yang menanggung akibat langsung dari konflik tersebut. Ia mengatakan mereka mungkin tidak bisa merayakan Paskah dengan tenang karena situasi keamanan yang memburuk.

Pernyataan ini menyoroti dimensi kemanusiaan dari perang yang sering kali luput dari perhatian publik. Di kawasan yang penuh sejarah agama, perang tidak hanya memukul target militer, tetapi juga komunitas sipil yang berusaha menjaga kehidupan ibadah dan tradisi keagamaan.

Isyarat politik dari bahasa religius

Beberapa pejabat Amerika Serikat disebut ikut menggunakan bahasa keagamaan untuk membenarkan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang memicu perang itu. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yang mulai memimpin ibadah doa Kristen di Pentagon, bahkan memanjatkan doa tentang “kekerasan yang luar biasa” terhadap pihak yang dianggap pantas mendapat hukuman.

Kontras itu memperlihatkan perbedaan tajam antara bahasa religius yang dipakai untuk mendukung operasi militer dan bahasa religius yang dipakai Vatikan untuk menyerukan damai. Dalam pidatonya, Leo justru mengembalikan ajaran Kristen ke inti pesan anti-kekerasan dan penolakan terhadap perang.

Poin utama dari pernyataan Leo

  1. Yesus disebut sebagai Raja Damai, bukan pembenar perang.
  2. Doa pemimpin yang berperang ditolak bila tindakan mereka penuh kekerasan.
  3. Konflik Iran disebut sebagai perang yang mengerikan.
  4. Umat Kristen di Timur Tengah ikut menanggung penderitaan.
  5. Vatikan mendesak gencatan senjata dan menolak serangan yang tidak pandang bulu.

Dalam konteks diplomasi Vatikan, pernyataan ini menegaskan bahwa Leo memilih bahasa moral yang tegas untuk menekan para pihak agar menghentikan eskalasi. Pesannya tetap fokus pada satu garis utama: perang tidak bisa diberi pembenaran religius, dan doa tidak bisa menutupi darah yang ditumpahkan.

Berita Terkait

Back to top button