Ketegangan perang di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangkaian serangan lintas negara meluas dari Iran, Israel, Lebanon, Yaman, hingga kawasan Teluk. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru tentang potensi eskalasi yang lebih besar, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Dalam perkembangan terbaru, parlemen Iran menuding Amerika Serikat sedang menyiapkan serangan darat meski secara terbuka menyuarakan jalur diplomasi. Sementara itu, serangan udara dan rudal dilaporkan menghantam berbagai titik strategis, memicu korban jiwa, kerusakan fasilitas sipil, dan respons militer beruntun dari berbagai pihak.
Iran tuding AS siapkan serangan darat
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Amerika Serikat tengah menyusun rencana serangan darat. Pernyataan itu disampaikan melalui kantor berita resmi IRNA, yang mengutip ucapannya bahwa lawan Iran “secara terbuka mengirim pesan negosiasi dan dialog, sementara diam-diam merencanakan serangan darat”.
Pernyataan ini menambah ketegangan di tengah laporan bahwa Pentagon sedang menyiapkan operasi darat selama beberapa pekan di Iran. The Washington Post mengutip pejabat tak disebutkan namanya yang menyebut opsi itu bisa mencakup serangan terbatas di Pulau Kharg dan lokasi pesisir dekat Selat Hormuz, namun belum mendapat persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump.
Serangan meluas ke Teheran dan pelabuhan strategis
Media pemerintah Iran melaporkan serangan gabungan AS-Israel menghantam kota pelabuhan Bandar Khamir, dekat Selat Hormuz. Serangan itu menewaskan lima orang dan melukai empat lainnya, menurut kantor berita IRNA.
Ledakan keras juga terdengar di Teheran pada hari yang sama. Asap dilaporkan naik dari beberapa lokasi yang terdampak, sementara warga setempat melihat dampak kerusakan di sejumlah titik di ibu kota Iran.
Kantor media Qatar rusak di Teheran
Saluran berita Qatar, Al Araby, mengatakan gedung yang menampung kantornya di Teheran terkena rudal Israel. Rekaman dari dalam kantor memperlihatkan jendela pecah, kaca berserakan, dan puing di lantai.
Di luar gedung, gambar yang beredar menunjukkan jalanan dipenuhi reruntuhan serta kerusakan pada bangunan sekitar. Laporan ini menegaskan bahwa perang yang semula berpusat pada sasaran militer kini juga mengancam infrastruktur media dan sipil.
Iran kecam pembunuhan jurnalis di Lebanon
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam pembunuhan tiga jurnalis di Lebanon oleh Israel pada hari sebelumnya. Ia menyebut tindakan itu sebagai “pembunuhan yang disengaja” dan “pelanggaran nyata terhadap hukum internasional”.
Kecaman tersebut menambah sorotan internasional atas keselamatan jurnalis di zona konflik. Organisasi kebebasan pers selama ini berulang kali memperingatkan bahwa perang di kawasan membuat kerja media semakin berbahaya dan rentan menjadi sasaran.
Militer Iran serang fasilitas di Bahrain dan Uni Emirat Arab
Korps Garda Revolusi Iran menyatakan telah meluncurkan serangan rudal dan drone ke pabrik aluminium di Bahrain dan Uni Emirat Arab. Dalam pernyataan yang disiarkan IRIB, fasilitas itu disebut terkait dengan kepentingan militer dan dirgantara Amerika Serikat di kawasan.
Iran mengklaim serangan tersebut menargetkan industri yang memiliki kaitan dengan jaringan pertahanan AS. Meski begitu, rincian tingkat kerusakan dan dampaknya terhadap produksi belum dapat diverifikasi secara independen.
Kuwait aktifkan pertahanan udara
Militer Kuwait menyatakan sedang merespons ancaman “rudal dan drone bermusuhan”. Dalam unggahan resminya di media sosial, staf umum angkatan bersenjata Kuwait mengatakan ledakan yang terdengar merupakan hasil intersepsi sistem pertahanan udara.
Pernyataan itu menunjukkan konflik yang semula fokus pada Iran dan Israel kini juga memicu kewaspadaan di negara-negara Teluk. Jalur udara sipil dan pertahanan regional pun ikut berada dalam tekanan tinggi.
Houthi Yaman ikut menembakkan rudal ke Israel
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengatakan telah meluncurkan dua serangan rudal ke Israel. Mereka baru masuk secara aktif ke putaran konflik terbaru itu setelah sebelumnya menahan diri, sambil mengatakan akan bertindak jika mereka diserang atau jika Iran terus menjadi sasaran.
Masuknya Houthi memperluas medan konflik dan membuka kemungkinan serangan balasan yang lebih luas. Kondisi ini juga meningkatkan risiko gangguan di Laut Merah dan area sekitarnya yang sudah beberapa kali terdampak ketegangan.
Israel melaporkan korban militer baru di Lebanon
Angkatan bersenjata Israel mengumumkan kematian seorang tentara dalam pertempuran di Lebanon selatan. Ini menjadi korban kelima Israel di Lebanon sejak Hezbollah melancarkan serangan roket baru ke Israel pada tanggal 2.
Sersan Moshe Yitzchak hacohen Katz, berusia 22 tahun, berasal dari New Haven, Connecticut, menurut pernyataan militer Israel. Laporan ini memperlihatkan bahwa konflik darat di perbatasan utara Israel masih terus menelan korban.
Aksi protes anti-perang muncul di Israel
Ratusan orang berkumpul di Tel Aviv dan beberapa kota lain di Israel untuk memprotes perang yang semakin meluas. Aksi tanpa izin itu dibubarkan aparat keamanan, meski jumlah peserta dilaporkan terus meningkat dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.
Berikut gambaran singkat perkembangan utama yang menjadi sorotan terbaru:
| Peristiwa | Keterangan utama |
|---|---|
| Iran menuding AS | Parlemen Iran menyebut ada rencana serangan darat |
| Serangan di Iran | Bandar Khamir dihantam, lima tewas |
| Kerusakan di Teheran | Ledakan dan asap terpantau di ibu kota |
| Serangan ke Teluk | Iran klaim menghantam fasilitas aluminium di Bahrain dan UAE |
| Respons Kuwait | Pertahanan udara diaktifkan menghadapi ancaman drone dan rudal |
| Houthi ikut masuk | Dua rudal ditembakkan ke Israel |
| Israel di Lebanon | Satu tentara tewas, total korban naik |
| Protes di Israel | Warga menolak perluasan perang |
Risiko eskalasi masih tinggi
Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif karena jalur ini krusial bagi pengiriman minyak global. Jika serangan di wilayah pesisir Iran terus meluas, efeknya bisa menjalar ke pasar energi, transportasi laut, dan stabilitas keamanan negara-negara Teluk.
Di saat yang sama, saling tuding antara Iran, AS, dan Israel memperkecil ruang deeskalasi. Selama serangan balasan terus terjadi dan negara-negara sekitar ikut bersiaga, kawasan Timur Tengah masih berada dalam fase paling rapuh dari konflik yang bergerak cepat ini.









