Pekerja Korea Utara di Rusia Menggambarkan Kerja Paksa yang Brutal
Seorang mantan pekerja asal Korea Utara yang hanya disebut dengan inisial RT menggambarkan pengalaman kerja paksa di Rusia sebagai kerja tanpa henti, tanpa perlindungan, dan tanpa upah yang benar-benar bisa dinikmati. Ia mengatakan para pekerja dibangunkan sebelum pukul 6 pagi, berjalan ke lokasi konstruksi bersama-sama, lalu bekerja dari pukul 7 pagi hingga larut malam, bahkan sampai tengah malam.
RT menyebut kondisi itu membuat para pekerja “bekerja seperti sapi, berpenghasilan nihil.” Kesaksian tersebut menjadi bagian dari laporan baru Global Rights Compliance yang memuat pengakuan langsung dari sejumlah warga Korea Utara yang pernah bekerja di Rusia.
Jam Kerja Panjang, Upah Nyaris Habis
Menurut laporan itu, seorang pekerja Korea Utara di Rusia bisa menerima sekitar $800 per bulan untuk hingga 420 jam kerja. Namun, dari jumlah tersebut, sekitar $600 hingga $850 dipotong untuk kewajiban setoran ke negara, ditambah biaya utang perjalanan dan kebutuhan hidup bersama.
Akibat pemotongan itu, sisa yang dibawa pulang bisa tinggal sekitar $10. Jika hasil kerja kurang dari target, kekurangannya dibawa ke bulan berikutnya. RT mengatakan sistem itu membuat para pekerja keluar dari Rusia tanpa uang, meski sudah bekerja berjam-jam setiap hari.
Paspor Disita dan Gerak Dibatasi
Laporan Global Rights Compliance menyebut paspor para pekerja langsung diambil sesaat setelah tiba di Rusia. Dokumen itu disimpan oleh petugas keamanan Korea Utara, sehingga para pekerja tidak memiliki kendali atas identitas maupun mobilitas mereka.
RT mengatakan ia tidak pernah memegang paspornya lagi dan tidak bisa keluar dari lokasi kerja dengan bebas. Ia menjelaskan bahwa mereka hanya sesekali diizinkan keluar, itu pun secara berkelompok, dengan pengawasan ketat dan jadwal pulang yang sudah ditentukan.
Temuan yang Mengarah ke Kerja Paksa
Laporan tersebut menyimpulkan adanya 11 indikator kerja paksa menurut Organisasi Perburuhan Internasional dari 21 kesaksian pekerja di tiga kota Rusia. Indikator itu mencakup jeratan utang, pembatasan gerak, penahanan upah, lembur berlebihan, kekerasan fisik, pengawasan, penipuan, isolasi, penyalahgunaan kerentanan, dan kondisi kerja yang kasar.
Berdasarkan temuan itu, perusahaan Rusia disebut mempekerjakan warga Korea Utara dengan melanggar sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Resolusi Dewan Keamanan PBB meminta negara anggota memulangkan pekerja Korea Utara, sehingga keberadaan mereka yang terus bertahan di Rusia dinilai berpotensi melanggar sanksi internasional.
Kondisi Tempat Tinggal yang Tidak Manusiawi
Para pekerja disebut tinggal di kontainer sesak yang dipenuhi kecoak dan kutu kasur. Mereka juga dilaporkan hanya mendapat akses satu atau dua kali mandi per tahun, dan dalam beberapa kasus hanya satu hari libur dalam setahun.
Sejumlah kesaksian menyebut pengawasan di lokasi sangat ketat dan ada hukuman kolektif agar para pekerja saling memantau. Dalam beberapa kasus, kekerasan fisik juga terjadi, termasuk seorang pekerja yang dipukul begitu parah sampai tidak bisa bekerja selama dua pekan.
Berikut sejumlah ciri utama yang disebut dalam laporan:
- Paspor langsung disita saat tiba di Rusia.
- Upah dipotong untuk setoran wajib ke negara.
- Jam kerja bisa mencapai 16 jam per hari.
- Pekerja tinggal di kontainer padat dan tidak layak.
- Pergerakan dibatasi dan diawasi ketat.
Sumber Pendapatan Penting bagi Pyongyang
Yeji Kim, penasihat Korea Utara di Global Rights Compliance, mengatakan setiap pekerja yang dikirim ke luar negeri wajib membayar setoran bulanan ke negara yang dikenal sebagai gukga gyehoekbun. Ia menyebut kewajiban itu harus dibayar “dengan cara apa pun, hidup atau mati.”
Kim menambahkan bahwa Panel Ahli PBB memperkirakan program tenaga kerja ini menghasilkan sekitar $500 juta per tahun. Dalam konteks sanksi yang sangat ketat terhadap Korea Utara, dana itu menjadi sumber penting bagi elite politik, jaringan patronase domestik, dan ambisi militer negara tersebut.
Laporan itu juga muncul di tengah tuduhan bahwa Korea Utara telah memasok senjata dan pasukan senilai hingga $14 miliar untuk mendukung perang Rusia di Ukraina. Para penulis laporan menilai negara tuan rumah ikut berperan dalam mempertahankan sistem itu jika membiarkannya berjalan di wilayah mereka.
RT mengatakan ribuan pekerja masih terjebak dalam situasi serupa di Rusia. Ia menuturkan bahwa banyak dari mereka hidup di lokasi proyek konstruksi, tidur di kontainer, bekerja 16 jam sehari, dan tidak punya cara untuk menghubungi keluarga atau pergi dari tempat kerja.









