Pentagon Siap Operasi Darat Berpekan-Pekan di Iran, Target Pulau Kharg dan Hormuz

Pentagon disebut tengah menyiapkan opsi operasi darat terbatas di Iran selama beberapa pekan, termasuk kemungkinan serangan ke Kharg Island dan lokasi pesisir di dekat Selat Hormuz. Informasi itu muncul dari pejabat Amerika Serikat yang dikutip The Washington Post, di tengah meningkatnya ketegangan yang juga memicu respons keras dari Tehran.

Rencana yang dibahas disebut tidak sampai pada skala invasi penuh, tetapi tetap berisiko tinggi karena melibatkan pasukan operasi khusus dan infanteri reguler. Jika dijalankan, operasi itu akan menempatkan personel AS dalam jangkauan drone, rudal, tembakan darat, dan bahan peledak improvisasi milik Iran.

Apa yang sedang dipersiapkan Pentagon

Menurut laporan The Washington Post, diskusi di internal pemerintahan Amerika telah berlangsung selama sekitar sebulan. Fokusnya mencakup kemungkinan perebutan Kharg Island, sebuah hub penting ekspor minyak Iran di Teluk, serta serangan ke wilayah pantai lain di sekitar Selat Hormuz untuk menemukan dan menghancurkan senjata yang bisa mengancam kapal niaga maupun kapal militer.

Sumber yang dikutip media itu menyebut tujuan operasi tersebut kemungkinan bisa selesai dalam “weeks, not months”, sementara sumber lain memperkirakan durasinya bisa mencapai “a couple of months”. Hingga laporan itu muncul, Pentagon belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari The Washington Post.

Posisi Gedung Putih dan sinyal dari militer AS

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa tugas Pentagon adalah menyiapkan berbagai opsi untuk memberi presiden “maximum optionality”. Ia juga menekankan bahwa persiapan itu tidak otomatis berarti Presiden Donald Trump sudah mengambil keputusan.

Dalam perkembangan paralel, pemerintahan Trump disebut telah menempatkan Marinir AS ke Timur Tengah saat perang di Iran memasuki pekan kelima. Pemerintah juga dilaporkan menyiapkan pengiriman ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat ke kawasan tersebut.

Pada Sabtu, Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan sekitar 3.500 tentara tambahan telah tiba di Timur Tengah dengan kapal USS Tripoli. CENTCOM menjelaskan bahwa para pelaut dan marinir dari 31st Marine Expeditionary Unit datang bersama pesawat angkut dan pesawat serang, serta aset amfibi dan taktis pada 27 Maret.

Target yang dibahas dan risikonya

  1. Kharg Island, yang dikenal sebagai jalur vital ekspor minyak Iran.
  2. Wilayah pesisir dekat Selat Hormuz, yang menjadi titik penting lalu lintas kapal komersial dan militer.
  3. Infrastruktur senjata yang dinilai bisa digunakan untuk menyerang pelayaran di kawasan itu.
  4. Operasi darat terbatas oleh pasukan khusus dan infanteri reguler.
  5. Durasi misi yang diperkirakan bisa berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Daftar target itu menunjukkan bahwa rencana tersebut lebih menyerupai operasi penyerbuan terukur ketimbang pendudukan wilayah. Namun, bahkan dalam skenario terbatas, eskalasi di titik-titik strategis itu tetap berpotensi memicu respons regional yang lebih luas.

Respons keras dari Iran

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu menuduh musuh secara terbuka berbicara soal negosiasi tetapi diam-diam menyiapkan serangan darat. Melalui Tasnim, ia juga mengklaim pasukan Iran siap menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membalas dengan serangan.

Ghalibaf sebelumnya juga memperingatkan bahwa laporan intelijen menunjukkan “musuh-musuh Iran” berencana menduduki sebuah pulau Iran dengan dukungan negara tak disebutkan di kawasan. Ia mengatakan setiap upaya seperti itu akan dibalas dengan serangan terhadap “infrastruktur vital” negara regional yang membantu operasi tersebut.

Panglima angkatan laut Iran Shahram Irani bahkan menyebut kapal induk USS Abraham Lincoln akan menjadi sasaran jika masuk dalam jangkauan. Dalam pernyataannya yang dikutip televisi pemerintah, ia mengatakan Iran akan membalas dengan berbagai jenis rudal laut-ke-laut sebagai respons atas tenggelamnya kapal perang Iran Dena oleh AS pada 4 Maret.

Potensi membuka front baru di Laut Merah

Tasnim juga mengutip sumber militer anonim yang mengatakan Iran bisa membuka front baru di mulut Laut Merah jika tindakan militer benar-benar terjadi di “pulau-pulau Iran atau di mana pun di tanah kami”. Sumber itu menyebut Iran mampu menimbulkan ancaman kredibel di Bab al-Mandeb, selat strategis antara Yaman dan Djibouti.

Media yang sama kemudian mengutip sumber lain yang menyatakan kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, siap ikut berperan jika diperlukan untuk mengendalikan Bab al-Mandeb guna menekan lawan. Isyarat ini memperluas risiko konflik dari perairan Teluk ke jalur pelayaran internasional yang jauh lebih luas.

Konteks diplomatik yang ikut menekan situasi

Di saat ketegangan militer meningkat, Pakistan dilaporkan memediasi antara Washington dan Tehran. Islamabad menjadi tuan rumah dua hari pertemuan yang dimulai pada Minggu dengan kehadiran menteri luar negeri Arab Saudi, Turkiye, dan Mesir.

Peran mediasi itu menunjukkan bahwa di balik ancaman operasi darat dan retorika saling balas, masih ada jalur diplomasi yang coba dipertahankan. Namun selama pengerahan pasukan tambahan terus berlangsung dan target strategis tetap dibahas, situasi di Iran dan sekitarnya masih sangat rentan terhadap salah hitung yang bisa memperluas konflik ke level yang lebih berbahaya.

Berita Terkait

Back to top button