Parlemen Iran bersiap memberlakukan rezim navigasi baru di Selat Hormuz yang akan mengubah cara kapal melintas di salah satu jalur energi paling vital di dunia. Dalam skema itu, Teheran tidak hanya menjanjikan keamanan pelayaran, tetapi juga membuka peluang penerapan tarif transit bagi kapal yang melintasi selat tersebut.
Pernyataan ini disampaikan anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, pada Senin (30/3), seperti dikutip penyiar IRIB. Ia menegaskan bahwa dengan persetujuan parlemen, aturan baru akan diberlakukan di selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman itu.
Aturan baru yang disorot Teheran
Boroujerdi menyebut tidak ada kapal yang akan diizinkan melintas tanpa izin Iran. Ia juga mengatakan Teheran akan bertanggung jawab atas keamanan navigasi, sekaligus menetapkan tarif transit bagi kapal yang menggunakan jalur strategis tersebut.
Langkah ini memperlihatkan upaya Iran memperkuat kontrol atas Selat Hormuz di tengah situasi keamanan regional yang terus memanas. Selat ini selama puluhan tahun menjadi titik paling sensitif dalam perdagangan energi global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar dunia.
Latar ketegangan di kawasan
Pernyataan Iran muncul setelah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel menyerang target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil, menurut laporan yang dikutip media internasional dalam referensi tersebut.
Iran kemudian membalas serangan itu dengan menghantam wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika di Timur Tengah. Rangkaian aksi saling serang itu ikut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran di sekitar Hormuz.
Dampak ke perdagangan energi
Gangguan di Selat Hormuz berpotensi berdampak luas karena jalur ini sangat penting bagi ekspor energi global. Ketika risiko pelayaran meningkat, pasar biasanya bereaksi cepat melalui kenaikan harga minyak dan biaya distribusi, terutama karena arus pasokan dari kawasan Teluk menjadi lebih rentan.
Dalam referensi yang digunakan, eskalasi konflik disebut telah menciptakan blokade de facto di Selat Hormuz. Kondisi ini memengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut, lalu mendorong kenaikan harga bahan bakar di banyak negara.
Mengapa Selat Hormuz selalu jadi sorotan
- Selat Hormuz menjadi jalur keluar utama minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia.
- Gangguan kecil di kawasan ini bisa memicu respons besar di pasar energi global.
- Setiap kebijakan baru dari Iran cenderung langsung berdampak pada sentimen investor dan pelaku industri pelayaran.
- Negara-negara pengimpor energi biasanya ikut mencermati perkembangan di jalur ini karena efeknya bisa merambat ke harga domestik.
Posisi Iran dan risiko yang menyertai
Iran telah lama menempatkan Selat Hormuz sebagai instrumen strategis dalam menghadapi tekanan eksternal. Dengan wacana tarif transit dan izin pelayaran, Teheran tampak ingin menegaskan bahwa ia memiliki peran langsung dalam mengatur arus lalu lintas kapal di wilayah tersebut.
Namun, kebijakan seperti ini juga berisiko memicu respons keras dari negara-negara Barat dan pelaku pasar energi. Jika implementasinya dianggap mengganggu kebebasan navigasi, tekanan diplomatik dan keamanan di kawasan bisa meningkat lebih jauh.
Apa yang perlu dipantau ke depan
Perhatian kini tertuju pada detail penerapan rezim navigasi baru itu, termasuk mekanisme izin, besaran tarif transit, dan bagaimana Iran akan menegakkan aturan tersebut di lapangan. Pasar energi global juga akan mencermati apakah kebijakan ini benar-benar dijalankan atau masih menjadi sinyal politik di tengah ketegangan yang terus berlangsung.
Selat Hormuz tetap menjadi indikator utama stabilitas Timur Tengah, karena setiap perubahan kebijakan di jalur ini hampir selalu berdampak langsung pada perdagangan minyak, biaya logistik, dan arah harga energi dunia.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




