Jerusalem memasuki suasana Paskah Yahudi dan Paskah Kristiani yang jauh lebih sunyi dari biasanya, ketika perang dengan Iran memasuki pekan kelima. Kota tua yang biasanya ramai peziarah dan wisatawan kini dipenuhi toko-toko tertutup, jalanan batu yang lengang, dan penjagaan ketat di sekitar situs-situs suci utama.
Situasi ini memotret perubahan besar di salah satu kota paling sensitif di dunia, saat praktik ibadah, aktivitas ekonomi, dan mobilitas warga sama-sama dibatasi oleh ancaman serangan rudal serta aturan keselamatan perang. Di tengah pengetatan itu, komunitas Yahudi, Kristen, dan Muslim di Yerusalem menjalani hari-hari suci dengan rasa lelah, kehilangan, dan kecemasan yang belum mereda.
Kota suci yang biasanya padat berubah menjadi hening
Di Kota Tua Yerusalem, hampir semua toko menurunkan penutup logam dan hanya sedikit langkah terdengar di lorong-lorong batu yang biasanya ramai. Pelataran besar di sekitar situs-situs penting juga tampak kosong, jauh dari kerumunan jamaah dan turis yang lazim memenuhi kawasan itu pada musim semi.
Yerusalem selama bertahun-tahun relatif terhindar dari dampak perang besar karena lawan-lawan Israel cenderung menghindari serangan di dekat situs-situs suci umat Muslim. Namun, sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari, kota itu beberapa kali menjadi sasaran tembakan balasan dan serpihan rudal.
Sebuah rudal Iran yang berhasil dicegat sempat memercikkan serpihan ke atap Patriarkat Ortodoks Yunani, hanya beberapa langkah dari Gereja Makam Kudus. Gereja yang dipercaya umat Kristiani sebagai lokasi penyaliban, penguburan, dan kebangkitan Yesus itu masih ditutup karena pedoman militer Israel melarang kerumunan di atas 50 orang.
Situs-situs suci terdampak langsung oleh perang
Bukan hanya Gereja Makam Kudus yang terdampak. Puing rudal juga menghantam jalan menuju Tembok Barat, tempat paling suci bagi umat Yahudi untuk berdoa.
Dari kantornya yang menghadap pelataran Tembok Barat, Rabbi Shmuel Rabinowitz menyampaikan penyesalan atas kondisi yang sepi itu. “The heart aches greatly, it bleeds, seeing the Western Wall as it looks now,” ujarnya.
Dalam suasana normal, upacara berkah imam besar untuk Paskah Yahudi biasanya menarik puluhan ribu orang. Tahun ini, acara itu hanya akan dihadiri 50 jemaat, sesuai batas maksimum dalam area tertutup di bawah pedoman keselamatan perang.
| Lokasi | Kondisi saat ini | Dampak utama |
|---|---|---|
| Tembok Barat | Ditutup untuk jamaah | Ibadah dibatasi 50 orang |
| Gereja Makam Kudus | Tetap ditutup | Aktivitas liturgi besar dibatalkan |
| Kompleks Masjid Al Aqsa | Sepi | Salat selama sebagian besar Ramadan dibatalkan |
| Kota Tua | Banyak toko tutup | Aktivitas ekonomi turun tajam |
Easter sepi, prosesi Palma dibatalkan
Patriarkat Latin membatalkan prosesi Minggu Palma di Yerusalem karena mengikuti batasan militer Israel yang membatasi kerumunan di bawah 50 orang. Keputusan itu memutus salah satu tradisi paling penting dalam perayaan Paskah Kristiani, yang biasanya dipenuhi puluhan ribu peziarah dari berbagai negara.
Pihak patriarkat juga menyebut polisi Yerusalem mencegah para pemimpin utama Gereja Katolik memasuki Gereja Makam Kudus untuk merayakan misa penyambutan Yesus ke Yerusalem. Lembaga gereja itu menyebut langkah tersebut sebagai tindakan yang “manifestly unreasonable and grossly disproportionate” dan mengatakan ini adalah pertama kalinya dalam berabad-abad para pemimpinnya dihalangi merayakan Minggu Palma di tempat yang sangat dihormati umat Kristiani.
Polisi Yerusalem menyatakan larangan itu terkait pertimbangan keselamatan karena gereja tersebut dinilai tidak memiliki akses darurat dan tempat perlindungan yang memadai jika terjadi serangan rudal. Dalam situasi perang udara, pertimbangan semacam itu menjadi dasar utama pembatasan ibadah di banyak titik suci kota itu.
Rami Asakrieh, pastor paroki umat Katolik di Yerusalem, mengatakan jemaat akan merindukan prosesi itu karena maknanya yang sangat emosional dan spiritual. Namun, ia juga menekankan bahwa iman tidak bergantung pada keramaian di luar, melainkan pada keyakinan di dalam hati.
“We are celebrating resurrection, resurrection is from death and winning the pain and the war,” katanya. “It will not come by having fear, but by having faith.”
Ramadan yang terputus dan pedagang yang kehilangan penghidupan
Di sisi lain Tembok Barat, kompleks Masjid Al Aqsa yang selama ini menjadi lokasi suci ketiga umat Islam juga tampak kosong dan tertutup sejak perang dimulai. Akibatnya, salat selama sebagian besar Ramadan dibatalkan, padahal bulan suci itu baru berakhir sekitar 10 hari lalu.
Fayez Dakkak, pedagang Muslim generasi ketiga di Kota Tua yang tokonya telah melayani peziarah Kristiani sejak 1942, mengaku terpukul karena Al Aqsa tidak dapat diakses selama Ramadan. “It’s like there was no Ramadan for us,” katanya.
Dakkak tetap sempat salat di masjid setempat, tetapi ia menegaskan pengalaman itu tidak sebanding dengan beribadah di Al Aqsa. Ia juga mengatakan perintah polisi menutup tokonya, bersama seluruh toko nonmakanan di Kota Tua, ikut memukul penghasilan para pedagang yang memang sudah lama bergantung pada menurunnya jumlah peziarah.
Penurunan wisata religi membuat ekonomi kecil di kawasan itu semakin rapuh. Banyak pedagang kini bertahan hanya dengan rutinitas seadanya, tanpa kepastian kapan arus peziarah akan kembali normal.
Paskah Yahudi dijalani dengan lebih kecil dan lebih waspada
Bagi keluarga-keluarga Yahudi di Israel, perayaan seder kini disusun lebih sederhana dan skala pertemuan diperkecil. Tradisi makan malam Paskah Yahudi yang biasanya mengundang sanak saudara dari luar negeri harus menyesuaikan diri dengan perang, sirene harian, dan keterbatasan perjalanan udara.
Bandara Ben Gurion juga beroperasi sangat terbatas sepanjang konflik, sehingga banyak warga memilih jalur darat lewat perbatasan Mesir menuju Sinai. Ironinya, sebagian orang justru keluar dari Israel menjelang Paskah, sementara kisah besar hari raya itu mengingatkan pada perjalanan nenek moyang Israel keluar dari Mesir melalui Sinai menuju tanah Israel.
Jamie Geller, penulis buku masak yang bekerja di Kota Tua Yerusalem, menggambarkan tekanan itu sebagai rutinitas yang bercampur dengan kepanikan.
- Membersihkan rumah dari segala bentuk makanan beragi untuk Paskah.
- Berlari menuju tempat perlindungan saat sirene berbunyi.
- Menyusun makan malam seder dalam lingkup keluarga yang lebih kecil.
- Menjaga anak-anak dan lansia tetap aman di tengah ancaman serangan.
Dari kantornya di Aish, lembaga pendidikan Yahudi di dekat pelataran Tembok Barat, Geller dapat melihat bekas kerusakan di atap, jalan, dan area parkir akibat serpihan rudal. “It’s shocking,” katanya, seraya menambahkan bahwa Kota Tua biasanya dipandang lebih terlindungi dari teror dan perang internasional, tetapi kali ini situasinya berbeda.
Warga lelah setelah sirene harian dan korban sipil bertambah
Perang yang berlangsung hampir sebulan membuat banyak warga Israel kelelahan setelah mendengar sirene hampir setiap hari. Data yang disebut dalam laporan mencatat sedikitnya 16 warga sipil tewas dan puluhan lainnya mengalami luka serius.
Kondisi ini memengaruhi ritme hidup di banyak lapisan masyarakat. Kegiatan belajar terganggu, toko-toko tutup lebih lama, dan komunitas agama menjalani ibadah dalam batasan ketat yang mengubah makna perayaan menjadi lebih sederhana dan lebih defensif.
Di Yerusalem, minggu-minggu menjelang Paskah biasanya menjadi puncak kedatangan peziarah dan wisatawan. Namun kali ini, kota itu justru menampilkan pemandangan yang berlawanan, dengan pelataran kosong, pos keamanan, dan keputusan pembatasan yang menegaskan bahwa perang telah menembus ruang-ruang ibadah yang selama ini dianggap paling sakral.
Di tengah semua pembatasan itu, jemaat dari berbagai agama tetap berusaha menjaga tradisi masing-masing dalam ukuran yang jauh lebih kecil. Mereka menjalani hari-hari suci dengan akses terbatas, sambil menunggu apakah kota suci itu bisa kembali membuka pintu bagi doa, prosesi, dan pertemuan lintas iman saat ancaman perang mereda.









