Pakistan mengumumkan akan menjadi tuan rumah pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat, di tengah perang yang sudah berlangsung sebulan dan memicu ancaman baru dari Teheran. Namun, belum ada pernyataan langsung dari Washington maupun Teheran soal format pembicaraan itu, apakah berlangsung secara langsung atau lewat perantara.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyebut Islamabad siap memfasilitasi dialog bermakna setelah para diplomat tinggi dari Turki, Mesir, dan Arab Saudi bertemu di ibu kota Pakistan. Langkah ini menegaskan peran Pakistan yang muncul sebagai mediator karena dinilai memiliki hubungan yang relatif baik dengan kedua pihak.
Pakistan dorong jalur diplomasi
Pakistan mengatakan para diplomat yang hadir di Islamabad sudah kembali ke negara masing-masing setelah pertemuan tersebut. Kementerian luar negeri Pakistan juga belum menjawab pertanyaan lanjutan mengenai detail agenda, sementara misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menolak berkomentar.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya masih bernegosiasi dengan Iran dan menyebut pembicaraan itu berjalan sangat baik. Saat ditanya di pesawat kepresidenan Air Force One, Trump juga mengatakan Iran telah merespons usulan gencatan senjata 15 poin yang diajukan Washington.
Ancaman keras dari parlemen Iran
Nada berbeda datang dari Teheran. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut pembicaraan di Pakistan sebagai kedok, setelah sekitar 2.500 Marinir AS tiba di Timur Tengah untuk latihan pendaratan amfibi.
Ia mengatakan pasukan Iran menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk “membakar mereka” dan menghukum sekutu regional mereka, menurut media pemerintah Iran. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ketegangan masih tinggi meski ada dorongan diplomasi.
Iran juga mengancam akan menyerang rumah para “komandan dan pejabat politik” AS dan Israel di kawasan. Juru bicara komando gabungan militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, merujuk pada serangan terhadap rumah warga Iran serta tindakan lain yang disebutnya bermusuhan.
Berikut poin penting yang mencerminkan eskalasi terbaru:
- Pakistan menyatakan siap memfasilitasi dialog AS-Iran.
- Iran mengancam akan menyerang target darat jika pasukan AS masuk lebih jauh.
- Trump menyebut negosiasi dengan Iran berjalan sangat baik.
- Mesir mengatakan pertemuan itu bertujuan membuka dialog langsung.
- Iran tetap menolak negosiasi di bawah tekanan.
Perang meluas dan berdampak ke kawasan
Konflik ini tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel. Israel mengatakan Angkatan Udara mereka mencegat dua drone yang diluncurkan dari Yaman, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim serangan rudal pertama dalam perang ini pada Sabtu pagi.
Militer Israel juga mengatakan jet tempurnya menjatuhkan lebih dari 120 amunisi di Teheran dalam 24 jam terakhir. Serangan itu menargetkan lokasi yang digunakan untuk riset, pengembangan, dan produksi senjata.
Dampak kemanusiaan dan ekonomi semakin besar
Perang telah menimbulkan korban jiwa besar di banyak negara. Otoritas Iran menyebut lebih dari 1.900 orang tewas di dalam negeri, sementara 19 orang dilaporkan tewas di Israel.
Di Lebanon, pejabat setempat mengatakan lebih dari 1.200 orang telah tewas, dan lebih dari 1 juta warga mengungsi akibat perang. Di Irak, 80 anggota pasukan keamanan dilaporkan meninggal, sedangkan 20 orang tewas di negara-negara Teluk dan empat di Tepi Barat yang diduduki.
Konflik ini juga mengguncang pasokan global minyak, gas alam, dan pupuk. Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif karena jalur itu sangat penting bagi perdagangan energi dunia, sementara keterlibatan Houthi berpotensi menambah risiko di Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah.
Tegangan masih tinggi di meja dan di lapangan
Mesir mengatakan pertemuan di Pakistan diarahkan untuk membuka “dialog langsung” antara AS dan Iran, yang selama ini lebih banyak berkomunikasi lewat mediator. Namun, Iran secara terbuka menolak proposal damai 15 poin dari AS dan menyebut negosiasi di bawah tekanan tidak dapat diterima.
Pada saat yang sama, Iran dikabarkan menyiapkan usulan lima poin sendiri, termasuk tuntutan penghentian pembunuhan pejabat Iran, jaminan agar serangan tidak terulang, reparasi, dan pengakuan atas kedaulatan di Selat Hormuz. Di tengah semua itu, Pakistan berusaha menjaga ruang diplomasi tetap terbuka, sementara ancaman militer dari kedua kubu masih terus membayangi upaya damai.
