Dari Saada Ke Israel, Jejak Kedekatan Houthi Yaman Dan Iran Memasuki Medan Perang

Houthi Yaman berubah dari gerakan lokal di utara Yaman menjadi aktor regional yang kini ikut menyerang Israel dalam eskalasi konflik Timur Tengah. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan dibentuk oleh sejarah panjang ketidakpuasan politik, perang saudara Yaman, dan kedekatan strategis dengan Iran.

Pada akhir Maret 2026, Houthi meluncurkan rudal balistik ke wilayah Israel di tengah perang yang melibatkan Teheran dan Tel Aviv. Langkah ini menandai babak baru karena Houthi tidak lagi hanya bertarung di medan Yaman, tetapi juga masuk langsung ke konfrontasi anti-Israel di kawasan.

Akar Gerakan dari Utara Yaman

Asal-usul Houthi berawal dari provinsi Saada pada akhir 1990-an, saat komunitas Syiah Zaidi merasa semakin tersisih dari pusat kekuasaan di Sanaa. Dari keresahan itu, lahir gerakan yang kemudian dikenal sebagai Ansar Allah di bawah tokoh Hussein Badreddin al-Houthi.

Pada fase awal, gerakan ini lebih dekat ke aktivitas sosial dan keagamaan ketimbang pemberontakan bersenjata. Namun, ketegangan dengan pemerintah Yaman meningkat setelah mereka menilai negara terlalu pro-Barat dan gagal menjawab tuntutan politik komunitas Zaidi.

Dari Konflik Lokal ke Perang Terbuka

Situasi berubah pada 2004 ketika pemerintah Yaman melancarkan operasi terhadap tokoh-tokoh Houthi setelah rangkaian demonstrasi dan bentrokan. Sejak saat itu, konflik sporadis meletus berulang kali dan perlahan memperkuat struktur militer Houthi.

Kekuatan mereka tumbuh lewat dukungan masyarakat lokal, jaringan pasar gelap, dan pembelot dari militer Yaman. Transformasi ini membuat Houthi tidak lagi sekadar gerakan identitas, tetapi kekuatan bersenjata yang mampu menantang negara.

Penguasaan Sanaa dan Perang Saudara Yaman

Puncak kenaikan kekuatan Houthi terjadi pada 2014 ketika mereka merebut ibu kota Sanaa dan wilayah penting di Yaman utara. Kejatuhan pusat pemerintahan itu memicu runtuhnya otoritas yang diakui secara internasional dan membuka jalan bagi perang saudara berkepanjangan.

Pada 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk memulihkan pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. Intervensi itu mengubah konflik domestik Yaman menjadi pertarungan regional yang melibatkan banyak kepentingan, termasuk Iran sebagai pihak yang dituding memberi dukungan kepada Houthi.

Tabel Fakta Perkembangan Houthi

  1. Akhir 1990-an: gerakan Houthi muncul di Saada, Yaman utara.
  2. 2004: konflik bersenjata dengan pemerintah Yaman mulai terbuka.
  3. 2014: Houthi merebut Sanaa dan memperluas kontrol wilayah.
  4. 2015: Arab Saudi memimpin koalisi militer melawan Houthi.
  5. 2023: Houthi meningkatkan serangan di Laut Merah terhadap kapal dagang.
  6. Akhir Maret 2026: Houthi meluncurkan rudal balistik ke Israel.

Mengapa Iran Menjadi Kunci

Hubungan Houthi dan Iran sering dibaca sebagai bagian dari “poros perlawanan” di Timur Tengah. Iran disebut mendukung Houthi lewat pelatihan, bantuan logistik, dan penguatan narasi politik anti-Israel serta anti-Amerika.

Secara agama, Houthi memang berasal dari komunitas Zaidi, yang berbeda dari Syiah Dua Belas Imam di Iran. Meski begitu, kesamaan orientasi politik dan sikap terhadap Israel membuat hubungan keduanya semakin erat di level strategi kawasan.

Narasi Anti-Israel yang Makin Kuat

Houthi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, sebagaimana Yaman secara umum tidak pernah menjalin hubungan resmi sejak 1948. Dalam retorika politiknya, Houthi menempatkan penolakan terhadap Israel sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas melawan pengaruh Barat.

Sejak 2023, mereka juga menyerang kapal dagang di Laut Merah sebagai bentuk tekanan terhadap pihak-pihak yang dianggap dekat dengan Israel. Serangan itu menunjukkan bahwa Houthi mulai memanfaatkan posisi geografis Yaman untuk memengaruhi jalur pelayaran internasional yang sangat strategis.

Serangan ke Israel dan Dampaknya

Ketika perang Iran dan Israel memuncak pada 2026, Houthi ikut bergerak dengan menargetkan wilayah Israel secara langsung. Aksi ini memperlihatkan bahwa mereka siap bertindak sebagai sekutu aktif dalam konflik yang jauh melampaui batas Yaman.

Serangan terhadap Israel juga membawa implikasi keamanan yang lebih luas, terutama di Selat Bab al-Mandab dan Laut Merah. Jika gangguan di jalur ini terus berlanjut, perdagangan internasional dan stabilitas maritim kawasan bisa ikut tertekan.

Hubungan Politik, Identitas, dan Kepentingan Kawasan

Kedekatan Houthi dengan Iran tidak bisa dipahami hanya lewat faktor agama, karena sejarah politik Yaman juga berperan besar. Gerakan yang awalnya lahir dari rasa terpinggirkan kemudian berkembang menjadi kekuatan yang memakai isu regional untuk memperluas legitimasi.

Dengan masuknya Houthi ke konflik Israel-Iran, peta perang Timur Tengah semakin rumit. Houthi kini dipandang bukan hanya sebagai pemberontak Yaman, tetapi sebagai salah satu aktor penting dalam jaringan konflik kawasan yang melibatkan Iran, Israel, dan jalur strategis Laut Merah.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button