Perang Iran Memasuki Bulan Kedua, Houthi Buka Front Baru di Laut Merah

Ketika perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki bulan kedua, kelompok Houthi di Yaman membuka front baru dengan menyerang Israel untuk pertama kalinya. Langkah ini memperluas konflik yang sudah menewaskan ribuan orang, memaksa jutaan warga mengungsi, dan mengguncang jalur perdagangan global.

Serangan Houthi terjadi di tengah kekhawatiran bahwa perang tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel, tetapi merembet ke Laut Merah dan Timur Tengah yang lebih luas. Dalam waktu kurang dari 24 jam pada Sabtu, kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman itu meluncurkan dua serangan rudal dan drone ke arah Israel.

Houthi masuk ke medan perang

Militer Israel mengatakan kedua serangan itu berhasil dicegat. Namun, Houthi menegaskan akan terus bertempur untuk mendukung apa yang mereka sebut sebagai “front perlawanan di Palestina, Lebanon, Irak, dan Iran”.

Selama konflik terbaru belum meluas, Houthi sempat menahan diri untuk tidak ikut bertempur secara langsung. Sikap itu berbeda dengan posisi mereka saat perang Israel di Gaza, ketika serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah mengganggu arus komersial senilai sekitar $1 triliun per tahun.

Ancaman ke jalur perdagangan laut

Masuknya Houthi ke konflik ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap Bab al-Mandeb, salah satu titik sempit pelayaran paling strategis di dunia. Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi pintu penting bagi perdagangan internasional.

Berikut titik-titik strategis yang kini paling diperhatikan pasar dan pemerintah kawasan:

  1. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
  2. Bab al-Mandeb, jalur utama antara Laut Merah dan Samudra Hindia.
  3. Laut Merah, yang menjadi rute vital bagi kapal dagang menuju Terusan Suez.
  4. Infrastruktur energi dan pelabuhan di Israel, Iran, serta negara-negara tetangga.

Koresponden Al Jazeera dari Sana’a, Yousef Mawry, menyebut Bab al-Mandeb sebagai “ace” milik Houthi. Ia mengatakan kelompok itu ingin menekan Israel secara ekonomi dengan mengganggu rute perdagangan, impor, dan ekspor.

Korban sipil terus bertambah

Di sisi lain, bombardemen Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran masih berlanjut tanpa tanda-tanda gencatan senjata. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington berharap operasi militer terhadap Iran bisa selesai dalam hitungan minggu, sementara pengerahan Marinir baru mulai tiba di kawasan.

Kementerian Kesehatan Iran menyebut 1.937 orang tewas sejak konflik dimulai, termasuk 230 anak. Iranian Red Crescent Society juga mengatakan lebih dari 93.000 properti sipil rusak akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah Iran melaporkan serangan terbaru menyasar kawasan permukiman di Zanjan, fasilitas pendidikan di Tehran, dan sebuah reservoir air di Haftgel. Di Tehran, ledakan keras juga terdengar saat malam tiba, memunculkan kekhawatiran bahwa fasilitas sipil ikut menjadi sasaran.

Situasi di Lebanon ikut memburuk

Kekerasan tidak hanya terjadi di Iran dan Yaman, tetapi juga terus menghantam Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 1.189 orang tewas dalam serangan Israel sejak awal Maret, sementara pasukan Israel terus bergerak lebih jauh ke selatan.

Israel menyatakan operasi itu ditujukan untuk melemahkan Hezbollah dan membentuk zona penyangga di perbatasan. Namun, dampaknya juga terasa pada warga sipil, jurnalis, tenaga kesehatan, dan aparat lokal.

Dalam serangan terbaru, tiga jurnalis tewas di Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan juga menyebut sembilan paramedis ikut terbunuh, sehingga total pekerja kesehatan yang tewas dalam perang terbaru mencapai 51 orang.

Tekanan diplomatik belum membuahkan hasil

Pemerintahan Donald Trump terus memberi sinyal campuran soal arah kebijakan berikutnya. Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran dan infrastruktur energi lain jika Tehran tidak membuka penuh Selat Hormuz, tetapi tenggat yang semula ia tetapkan pekan ini telah diperpanjang 10 hari.

Di saat yang sama, utusan Trump, Steve Witkoff, mengatakan ia yakin Iran akan segera berunding dengan Washington. Ia menyebut ada “rencana 15 poin” di meja perundingan dan menganggap respons Iran bisa menjadi jalan keluar dari krisis.

Pakistan ikut mendorong upaya meredakan ketegangan. Negara itu menjadi penghubung antara pejabat Amerika Serikat dan Iran, serta dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan para menteri luar negeri dari Saudi Arabia, Turkiye, dan Mesir di Islamabad.

Dampak regional yang makin luas

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan mendesak agar semua serangan dihentikan. Pakistan juga menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya pemulihan perdamaian dan stabilitas kawasan.

Dar kemudian menyebut Iran telah setuju mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan melintas di Selat Hormuz, langkah yang dinilai penting di tengah salah satu krisis energi terburuk dalam sejarah modern.

Dengan Houthi kini ikut membuka front baru, risiko eskalasi meningkat di laut dan darat secara bersamaan. Jika Bab al-Mandeb ikut terganggu seperti yang dikhawatirkan banyak pihak, tekanan terhadap perdagangan global, suplai energi, dan keamanan kawasan bisa menjadi jauh lebih besar dalam waktu singkat.

Berita Terkait

Back to top button