Raja Charles III menerima Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa di Istana Buckingham saat kunjungan resmi pertamanya ke London, bertepatan dengan pertemuan al-Sharaa bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di Downing Street. Kunjungan ini menandai fase baru hubungan Inggris dan Suriah setelah London memulihkan hubungan diplomatik dengan Damaskus pada Juli.
Al-Sharaa datang ke Inggris sebagai pemimpin Suriah yang menggulingkan Bashar al-Assad pada 2024 dan kini berupaya menjaga negaranya agar tidak terseret lebih jauh ke dalam ketegangan kawasan. Di London, pembahasan mencakup perang dengan Iran, keamanan regional, migrasi ilegal, serta upaya memperkuat kerja sama antiterorisme.
Pertemuan di Istana Buckingham dan Downing Street
Buckingham Palace menyebut Raja Charles III menerima Ahmed al-Sharaa pada Selasa sore. Agenda ini menjadi sorotan karena al-Sharaa baru pertama kali melakukan kunjungan resmi ke Inggris sejak perubahan besar politik di Suriah.
Sebelumnya, Starmer menyambut al-Sharaa di Downing Street untuk membahas berbagai isu strategis yang kini dihadapi Suriah dan Inggris. Seorang juru bicara Downing Street mengatakan kedua pihak menyoroti perlunya rencana yang layak untuk membuka kembali Selat Hormuz, karena penutupan berkepanjangan dapat memberi dampak ekonomi yang berat.
Isu keamanan kawasan dan Selat Hormuz
Pembicaraan di London juga tidak lepas dari perang dengan Iran yang mengguncang stabilitas Timur Tengah. Inggris menyatakan ingin bekerja sama dengan pihak lain untuk memulihkan kebebasan navigasi di jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan energi global itu.
Berikut poin utama yang menjadi fokus pembahasan:
- Pembukaan kembali Selat Hormuz untuk menjaga arus perdagangan internasional.
- Penanganan dampak ekonomi dari penutupan jalur pelayaran.
- Koordinasi dengan mitra internasional untuk memastikan kebebasan navigasi.
Sikap London menunjukkan bahwa Inggris memandang stabilitas maritim sebagai bagian penting dari keamanan kawasan, bukan sekadar isu bilateral dengan Suriah. Dalam konteks perang yang masih berlangsung di Timur Tengah, jalur logistik dan energi tetap menjadi faktor sensitif bagi banyak negara.
Tekanan internal Suriah masih besar
Di dalam negeri, situasi Suriah masih rapuh karena ketegangan sektarian terus memicu kekerasan berulang. Negara itu juga masih menghadapi ancaman dari kelompok Islamic State yang belum sepenuhnya hilang dari peta keamanan regional.
Starmer menyatakan menyambut langkah pemerintah Suriah dalam menindak Islamic State dan mencatat adanya kemajuan dalam kerja sama kontra-terorisme. Inggris juga mendorong kerja lebih erat terkait pemulangan migran ilegal, pengamanan perbatasan, dan penindakan jaringan penyelundup manusia.
Latar migrasi dan hubungan Inggris-Suriah
Data pemerintah Inggris menunjukkan hampir 31.000 warga Suriah mendapat suaka di Inggris antara 2011 dan 2021 setelah perang saudara memicu krisis pengungsi. Angka itu menggambarkan besarnya dampak konflik Suriah terhadap Inggris dan Eropa dalam urusan perlindungan pengungsi.
Hubungan diplomatik kedua negara mulai mencair setelah London kembali membuka jalur komunikasi resmi dengan Damaskus pada Juli. Langkah itu didahului kunjungan Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, David Lammy, ke Damaskus, yang menjadi kunjungan menteri Inggris pertama ke Suriah dalam 14 tahun.
Menurut pemerintah Inggris saat itu, keterlibatan dengan Damaskus bertujuan mendukung transisi politik Suriah, membantu pemulihan ekonomi, menekan migrasi ilegal, dan membahas isu senjata kimia. Pendekatan itu kini tampak berlanjut lewat pertemuan tingkat tinggi antara Raja Charles III, Starmer, dan al-Sharaa.
Agenda al-Sharaa di Eropa
Sebelum ke London, al-Sharaa bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz di Berlin pada Senin. Jerman menjadi rumah bagi diaspora Suriah terbesar di Uni Eropa, dengan jumlah lebih dari satu juta orang, banyak di antaranya datang saat gelombang migrasi memuncak pada 2015-2016.
Merz mengatakan bahwa ia dan al-Sharaa sepakat delapan dari 10 warga Suriah di Jerman seharusnya kembali dalam tiga tahun ke depan. Pernyataan itu menunjukkan bahwa isu migrasi tetap menjadi tekanan politik utama di Eropa, bahkan ketika negara-negara tersebut mulai membuka kembali hubungan dengan pemerintahan baru Suriah.
Kunjungan al-Sharaa ke London menempatkan Suriah kembali di pusat diplomasi Eropa, dengan fokus yang bergerak dari perang saudara menuju stabilitas, migrasi, dan keamanan kawasan. Di saat yang sama, Inggris menegaskan bahwa keterlibatannya dengan Damaskus akan tetap terkait erat dengan isu perlindungan perbatasan, kontra-terorisme, dan pemulihan tatanan regional yang lebih aman.
