Sebuah tanker berbendera Rusia yang membawa sekitar 700.000 barel minyak mentah mulai membongkar muatannya di terminal Matanzas, Kuba, menurut data pelayaran yang dipantau Reuters. Kedatangan kapal ini menjadi pengiriman minyak besar pertama ke pulau tersebut sejak pemerintahan Donald Trump memutus pasokan bahan bakar ke Kuba.
Kapal bernama Anatoly Kolodkin itu berada di bawah sanksi Amerika Serikat, namun tetap masuk ke perairan teritorial Kuba pada akhir pekan lalu. Pendaratan tanker tersebut terjadi di tengah tekanan energi yang makin berat di negara itu, sementara Washington mengatakan pengiriman itu diizinkan karena alasan kemanusiaan.
Pengiriman yang jadi napas baru bagi Kuba
Terminal Matanzas merupakan fasilitas penyimpanan bahan bakar terbesar di Kuba dan menjadi titik penting bagi pasokan energi nasional. Data LSEG menunjukkan kapal Aframax sepanjang 250 meter itu berlabuh saat cuaca cerah dan angin ringan, lalu mulai menyalurkan kargonya ke fasilitas tersebut.
Bagi banyak warga Kuba, kedatangan tanker itu langsung memicu harapan di tengah pemadaman listrik yang berkepanjangan. Seorang warga Matanzas, Marino Galvez, 66 tahun, mengatakan pemandangan kapal itu seperti “menemukan air di padang pasir”.
Kuba sendiri disebut belum menerima tanker minyak selama tiga bulan terakhir, menurut Presiden Miguel Diaz-Canel. Kondisi itu memperburuk krisis energi yang juga menekan jaringan listrik yang rapuh, layanan kesehatan, transportasi umum, dan sektor pertanian.
Dampak terhadap pasokan energi di pulau itu
Minyak mentah yang dibawa kapal berasal dari jenis Russian Urals, yakni crude medium sour yang cocok untuk kilang-kilang tua Kuba. Setelah diproses, pemerintah Kuba memperkirakan sebagian besar kargo akan dialokasikan untuk kebutuhan energi domestik.
Rincian alokasi kargo tersebut adalah sebagai berikut:
- Sekitar 40% menjadi fuel oil untuk pembangkit listrik.
- Sekitar 35% diolah menjadi diesel untuk pembangkit energi dan transportasi.
- Sekitar 15% diproses menjadi bensin.
- Sisanya 10% diolah menjadi gas memasak dan produk terkait.
Pemerintah Kuba memperkirakan proses bongkar muat, pemurnian, dan distribusi domestik memerlukan waktu antara 25 hingga 35 hari. Dengan pasokan ini, pemerintah berharap ada ruang bernapas sementara di tengah tekanan ekonomi dan energi yang terus memburuk.
Latar belakang tekanan dari Amerika Serikat
Washington sebelumnya menghentikan ekspor minyak Venezuela ke Kuba setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari. Setelah itu, Trump juga mengancam akan menjatuhkan tarif berat kepada negara mana pun yang mengirim minyak mentah ke Kuba, sehingga Meksiko sebagai salah satu pemasok besar ikut menghentikan pengirimannya.
Saat ditanya apakah pengiriman Rusia berikutnya akan menyusul, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia “akan terus bekerja” karena situasi Kuba yang disebutnya mendesak. Pemerintah Trump juga menyatakan akan meninjau setiap pengiriman minyak tambahan ke Kuba secara “case-by-case”.
Posisi tanker lain yang sempat tertahan
Sebelum Anatoly Kolodkin, tanker Sea Horse juga sempat membawa diesel Rusia menuju Kuba. Namun kapal itu dialihkan ke Venezuela setelah terjebak selama beberapa minggu di tengah Samudra Atlantik.
Belum jelas apakah Sea Horse dan kapal-kapal lain yang semula menuju Kuba akan mencoba kembali membongkar muatan di pelabuhan Kuba setelah Gedung Putih melonggarkan sikap yang sebelumnya berupa blokade menyeluruh. Situasi ini membuat arus pasokan energi ke Kuba tetap bergantung pada keputusan politik, kondisi laut, dan kemampuan negara itu mengamankan pengiriman dari mitra luar negeri.









