Makkah tengah bersiap memiliki bandara sendiri seiring dorongan besar Arab Saudi untuk memperkuat konektivitas menuju kota suci tersebut. Rencana ini muncul bersama pengembangan sistem Metro Makkah dan berbagai proyek transportasi lain yang dirancang untuk melayani jutaan pengunjung setiap tahun.
CEO Royal Commission for Makkah City and the Holy Sites, Saleh Al-Rasheed, mengatakan persetujuan atas arah investasi strategis dan ekonomi sudah diperoleh untuk mengembangkan Bandara Makkah sesuai standar global. Ia menyebut proyek ini diarahkan agar mampu mendukung arus jamaah dan wisatawan dalam jumlah sangat besar, dengan skema investasi yang tetap menjaga kelayakan bandara di kota-kota sekitarnya.
Bandara Baru untuk Dukungan Konektivitas Makkah
Al-Rasheed menjelaskan bahwa Komisi akan bekerja sama dengan sektor swasta untuk menyusun model investasi yang tepat. Pendekatan ini penting agar pengembangan bandara tidak menimbulkan persaingan yang merugikan fasilitas udara lain di kawasan Makkah Raya.
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Harvard Business Review dan dikutip Saudi Gazette pada Kamis, 2 April 2026. Dari keterangan tersebut, terlihat bahwa proyek bandara tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari desain besar transformasi transportasi di kota yang menjadi pusat ibadah umat Islam.
Metro Makkah Sudah Masuk Tahap Lanjut
Selain bandara, studi kelayakan dan desain awal untuk Metro Makkah juga telah selesai. Proyek ini diposisikan sebagai penghubung penting bagi mobilitas warga dan jamaah, terutama saat musim haji dan umrah ketika kepadatan di sejumlah titik meningkat tajam.
Pengembangan transportasi massal ini menambah daftar infrastruktur yang sedang dikejar Arab Saudi di Makkah. Pemerintah dan otoritas setempat ingin menghadirkan sistem pergerakan yang lebih cepat, tertib, dan efisien di kota yang setiap tahun menerima kedatangan jutaan orang.
Smart Makkah jadi Andalan Pengelolaan Jemaah
Al-Rasheed juga menyoroti program Smart Makkah yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memantau dan mengelola pergerakan jemaah di Masjidil Haram dan area sekitarnya. Sistem ini dipakai untuk memprediksi arus jemaah di Jembatan Jamarat dan kawasan pusat, sekaligus mengintegrasikan pencitraan udara dengan aplikasi Balady.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Makkah tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik. Pemerintah juga mengandalkan teknologi untuk mengurangi kepadatan, mempercepat respons, dan meningkatkan kenyamanan jamaah saat beribadah.
Transportasi Umum Makkah Meningkat Pesat
Di sektor transportasi darat, Makkah kini mengoperasikan 400 bus yang melayani 12 rute dengan 430 titik pemberhentian. Jaringan ini menjangkau sebagian besar kawasan permukiman dan didukung empat stasiun utama di area pusat kota.
Sejak mulai beroperasi pada Februari 2022, layanan bus Makkah telah melayani lebih dari 185 juta penumpang dan mencatat lebih dari 3,8 juta perjalanan. Pemerintah juga meluncurkan Makkah Taxi dengan kendaraan modern, pelacakan digital, pembayaran elektronik, serta armada listrik dan hybrid.
- 400 unit bus melayani 12 rute.
- 430 titik pemberhentian tersebar di kawasan permukiman.
- Lebih dari 185 juta penumpang telah menggunakan layanan sejak Februari 2022.
- Tercatat lebih dari 3,8 juta perjalanan.
- Makkah Taxi memakai sistem pelacakan dan pembayaran elektronik.
Peningkatan Infrastruktur di Sekitar Masjidil Haram
Komisi juga menyelesaikan sejumlah ruas jalan lingkar pertama, kedua, dan ketiga yang terhubung ke jalur penting menuju Masjidil Haram. Jalur itu mencakup akses dari Jalan King Abdulaziz dan Jalan Ibrahim Al-Khalil, yang menjadi nadi pergerakan utama di pusat kota.
Selain itu, fasilitas layanan di sekitar Masjidil Haram ikut diperluas melalui 60 bangunan pemeliharaan dan 32 eskalator listrik. Otoritas menilai langkah ini membantu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung keberlanjutan layanan saat musim ibadah berlangsung.
Fokus pada Kenyamanan Jemaah dan Warga
Proyek pengembangan lain juga mencakup delapan lokasi di Arafat seluas sekitar 190.000 meter persegi. Di Mina, dibangun rumah sakit darurat berkapasitas 200 tempat tidur, sementara 10 menara hunian disiapkan untuk menampung hingga 27.000 jemaah.
Di sisi lingkungan, Kidana Development Company menanam 20.000 pohon dan mengembangkan jalur pejalan kaki yang teduh serta berpendingin seluas lebih dari 285.000 meter persegi. Komisi juga menjalankan proyek pengelolaan limbah terpadu bersama Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian yang disebut menghasilkan penghematan lebih dari 310 juta riyal Saudi.
Target Kepuasan 2025 dan Dorongan Sektor Swasta
Al-Rasheed menargetkan tingkat kepuasan warga dan jamaah mencapai 90,5 persen pada 2025. Untuk mengejar target itu, Komisi tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menata ulang kawasan pusat kota agar pergerakan orang menjadi lebih lancar.
Ia menyebut ruang pejalan kaki telah ditambah hingga 127 persen dan lebih dari 30.000 meter persegi area teduh telah disediakan. Pemerintah juga mendorong sektor swasta masuk ke proyek strategis, termasuk pembangunan Stasiun West Jamarat yang ditargetkan mampu memproses Tawaf Al-Ifadah dalam 20 menit dengan kapasitas 20.000 penumpang per jam.
Pengembangan Bandara Makkah, Metro Makkah, dan proyek mobilitas lain memperlihatkan bagaimana Arab Saudi menempatkan kota suci itu sebagai pusat layanan modern yang terintegrasi. Dengan dukungan investasi, teknologi, dan infrastruktur baru, Makkah diproyeksikan memiliki ekosistem transportasi yang jauh lebih kuat untuk melayani kebutuhan jamaah dan warga secara bersamaan.





