Lebanon Dibayangi Serangan Israel, Warga Israel Utara Menggantungkan Harapan Pada Zona Buffer

Ketegangan di perbatasan utara Israel kembali meningkat ketika pemerintah Israel memperluas zona penyangga militer di dalam wilayah Lebanon. Bagi warga di kota-kota perbatasan Israel, langkah itu dipandang sebagai upaya yang paling mungkin untuk mengembalikan rasa aman setelah lebih dari setahun hidup di bawah ancaman roket Hezbollah.

Di wilayah seperti Metula, Kfar Giladi, dan Nahariya, perang tidak terasa jauh atau abstrak. Saat sirene berbunyi, warga hanya punya hitungan detik untuk mencari perlindungan karena jarak antara peringatan dan hantaman sering kali hampir tidak ada.

Zona penyangga dipandang sebagai pagar hidup

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan perluasan zona penyangga itu bertujuan “akhirnya menggagalkan ancaman invasi” dan mendorong ancaman anti-rudal menjauh dari perbatasan. Militer Israel juga menilai Hezbollah tengah menyiapkan serangan darat ke Israel mirip serangan Hamas pada 7 Oktober di tahun yang sama.

Bagi banyak warga Israel utara, kebijakan itu dianggap sebagai syarat agar kehidupan normal bisa kembali berjalan. Nisan Zeevi, warga generasi ketiga Kibbutz Kfar Giladi, mengatakan militer harus berada di depan warga, bukan sebaliknya, karena warga sipil tidak bisa menjadi garis pertama menghadapi Hezbollah.

Daftar situasi yang membentuk dukungan warga Israel utara:

  1. Roquette dan drone masih menembus wilayah perbatasan.
  2. Banyak warga baru kembali setelah pengungsian panjang dan belum merasa aman.
  3. Infrastruktur perlindungan sipil dinilai masih belum memadai.
  4. Jalur transportasi utama tetap rentan karena tidak selalu dilindungi sistem pertahanan udara.

Sejumlah warga juga menilai buffer zone di sisi Lebanon adalah satu-satunya cara untuk menjauhkan ancaman dari rumah mereka. Mereka merujuk pada pengalaman saat wilayah utara sempat kosong karena evakuasi massal, lalu penduduk kembali dengan harapan situasi sudah berubah.

Ancaman dari konflik yang belum mereda

Setelah gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah pada November, lebih dari 55.000 warga Israel utara yang sebelumnya mengungsi mulai pulang. Namun keadaan memburuk lagi ketika Hezbollah menembakkan roket ke Israel pada awal Maret, beberapa hari setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran.

Sejak pertempuran terbaru dimulai, Hezbollah telah meluncurkan ratusan roket ke Israel, bahkan kadang lebih dari 500 dalam sehari. Dalam beberapa pekan terakhir, dua warga sipil Israel tewas, termasuk seorang pria berusia 43 tahun dari Nahariya dan seorang perempuan berusia 27 tahun dari Moshav Margaliot.

Israel juga melaporkan gugurnya sembilan tentara di Lebanon selatan akibat serangan rudal anti-tank Hezbollah. Situasi ini memperkuat dorongan pemerintah untuk mempertahankan kehadiran militer lebih dalam di wilayah Lebanon selatan.

Dampak besar di Lebanon selatan

Di sisi lain perbatasan, kebijakan Israel memicu dampak kemanusiaan yang berat. Lebih dari 80 kota dan desa kosong, lebih dari 15% populasi Lebanon terdampak pengungsian, dan lebih dari 1.200 orang tewas akibat serangan Israel menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Militer Israel kini disebut memegang posisi hingga 10 kilometer ke dalam Lebanon, dan pemerintah ingin memperluas kendali lebih jauh ke selatan hingga mendekati Sungai Litani. Menteri Pertahanan Israel Katz bahkan menyatakan prinsip bahwa “di tempat ada teror dan rudal, tidak ada rumah dan tidak ada penduduk.”

Pernyataan itu menuai sorotan karena para kelompok hak asasi manusia telah lama mengingatkan bahwa pola serangan di Gaza dapat melanggar hukum humaniter internasional. Kekhawatiran serupa kini kembali muncul seiring meningkatnya skala operasi Israel di Lebanon.

Warga Israel utara ingin kembali hidup normal

Bagi warga perbatasan, dukungan terhadap zona penyangga tidak hanya soal strategi militer, tetapi juga soal kelangsungan hidup sehari-hari. Ofri Eliyahu, ibu tiga anak yang tinggal di kawasan utara, mengatakan investor mulai melirik wilayah itu karena melihat ketahanan warga dan potensi pertumbuhan ekonomi lokal.

Namun dia juga menegaskan kehidupan di utara tetap rapuh karena sirene dan roket bisa datang kapan saja. Di kawasan yang sedang berusaha menarik perusahaan rintisan, pengembang teknologi, dan pekerja muda, rasa aman tetap menjadi syarat utama agar ekonomi bergerak.

Masalah perlindungan sipil masih tertinggal

Ada pula persoalan lama yang belum selesai. Program pemerintah bernama Northern Shield, yang dimulai pada 2018 untuk membangun perlindungan bagi rumah dan fasilitas umum dalam radius sembilan kilometer dari perbatasan, dinilai belum berjalan optimal.

Laporan pengawas negara pada Januari 2026 menyebut lebih dari 42.000 warga masih belum terlindungi, atau sekitar seperlima dari populasi di wilayah itu. Para kepala daerah mengatakan dana yang dijanjikan belum sepenuhnya cair dan program masih belum rampung.

Beberapa titik krusial yang masih menjadi sumber kecemasan warga:

  1. Jalan Raya 90 sebagai satu-satunya koneksi utama antarkomunitas utara.
  2. Sekolah-sekolah di kota perbatasan yang belum kembali beroperasi penuh.
  3. Rumah-rumah yang rusak akibat serangan sebelumnya dan belum sepenuhnya dipulihkan.
  4. Minimnya perlindungan terhadap area terbuka yang sering dilewati warga setiap hari.

Di Metula, kota paling utara Israel, sebagian besar rumah pernah rusak dalam konflik sebelumnya dan sebagian warga belum kembali. Wakil kepala dewan setempat, Avi Nadiv, mengatakan ia ingin tentara berada di depan warga agar rasa aman benar-benar pulih, bukan sekadar janji politik.

Nadiv juga menyinggung perbedaan antara Hezbollah dan warga sipil Lebanon yang tidak terlibat konflik. Ia mengingat bahwa sebelum Israel mundur dari Lebanon selatan pada 2000, ada arus pekerja harian yang menyeberang untuk bekerja di sektor pariwisata dan pertanian, menandakan hubungan lintas batas pernah berlangsung dalam situasi yang jauh lebih tenang.

Di Kfar Giladi, Zeevi menggambarkan harapan yang lebih jauh dari sekadar bertahan hidup, yakni agar kehidupan bisa kembali normal tanpa sirene yang memutus rutinitas. Di tengah suara alarm yang terus mengingatkan bahwa perang belum berakhir, warga perbatasan tetap menunggu kondisi yang memungkinkan anak-anak kembali ke sekolah, jalan raya kembali aman, dan ekonomi utara Israel bergerak tanpa bayang-bayang serangan dari seberang perbatasan.

Exit mobile version