Tiga pasukan penjaga perdamaian PBB tewas di Lebanon selatan ketika pertempuran antara Israel dan Hizbullah kembali memanas. Seluruh korban berasal dari Indonesia, dan insiden ini menempatkan UNIFIL dalam salah satu periode paling berbahaya sejak misi itu dibentuk.
UNIFIL atau United Nations Interim Force in Lebanon sudah bertugas sejak 1978. Misi ini kembali menjadi sorotan karena mandatnya akan berakhir pada akhir 2026, lalu pasukan mulai ditarik pada 2027 sesuai keputusan Dewan Keamanan PBB.
Apa yang terjadi terhadap para pasukan PBB
Dua dari tiga korban tewas dalam insiden terpisah setelah terkena ledakan di jalur konvoi dekat Bani Hayyan. Kepala penjaga perdamaian PBB menyebut temuan awal mengarah pada ledakan di pinggir jalan yang menghantam kendaraan mereka.
Duta Besar Israel untuk PBB mengatakan bahwa perangkat peledak Hizbullah mengenai para pasukan itu dalam insiden tersebut. Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, meminta Israel untuk menyerahkan bukti kepada tim investigasi PBB.
Korban ketiga tewas ketika sebuah proyektil menghantam pangkalan UNIFIL di dekat desa Adchit al-Qusayr. Insiden itu juga masih dalam penyelidikan.
Mengapa UNIFIL jadi sasaran risiko tinggi
UNIFIL bekerja di wilayah yang sejak lama menjadi titik gesekan antara Israel, Hizbullah, dan pihak bersenjata lain di Lebanon selatan. Ardiel mengatakan konflik aktif membuat pasukan PBB semakin sulit bergerak dan menjalankan patroli rutin di lapangan.
Ia menambahkan bahwa terjadi “banyak kekerasan” di sekitar posisi UNIFIL. “Ada proyektil yang ditembakkan bolak-balik antara Pasukan Pertahanan Israel dan aktor non-negara, diduga Hizbullah,” ujarnya.
Pada perang sebelumnya di 2024, posisi UNIFIL juga berkali-kali terkena tembakan. Namun, saat itu belum ada korban jiwa di kalangan penjaga perdamaian.
Riwayat panjang misi UNIFIL di Lebanon
UNIFIL dibentuk pada 1978 setelah Israel menginvasi Lebanon untuk menghadapi militan Palestina di selatan negara itu. Misi awalnya mencakup verifikasi penarikan pasukan Israel dan membantu pemerintah Lebanon memulihkan otoritas di wilayah tersebut.
Setelah perang Israel-Hizbullah pada 2006, mandat UNIFIL diperluas lewat Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701. Mandat itu menugaskan UNIFIL memantau gencatan senjata, mendukung pengerahan tentara Lebanon ke selatan, dan membantu menegakkan larangan senjata ilegal di area itu.
Saat ini, UNIFIL memiliki 7.505 personel penjaga perdamaian dari 47 negara. Jumlah itu mencerminkan skala misi yang masih besar, meski ruang geraknya di lapangan semakin terbatas.
Poin penting soal insiden dan mandat UNIFIL
- Tiga penjaga perdamaian yang tewas seluruhnya berasal dari Indonesia.
- Dua korban dilaporkan tewas akibat ledakan di dekat konvoi serta sedang diselidiki.
- Korban ketiga tewas setelah proyektil menghantam pangkalan UNIFIL.
- UNIFIL memiliki 7.505 personel dari 47 negara per Maret.
- Mandat misi akan berakhir pada akhir 2026 sebelum penarikan pada 2027.
Mengapa mandat UNIFIL akan berakhir
Perang pada 2024 mengubah keseimbangan kekuatan di Lebanon. Hizbullah melemah, sementara pemerintah لبنان yang baru mulai mendorong upaya pelucutan senjata kelompok itu secara damai, dimulai dari wilayah selatan.
Dalam situasi yang dinilai “berubah sangat radikal”, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB menyetujui resolusi rancangan Prancis pada Agustus lalu yang memperpanjang misi UNIFIL “untuk terakhir kalinya”. Duta Besar Israel untuk PBB saat itu menyebut UNIFIL gagal menjalankan tugasnya dan membiarkan Hizbullah menjadi ancaman regional yang berbahaya.
Salah satu tujuan Israel dalam perang terkini adalah membangun dan mempertahankan kontrol keamanan di area antara perbatasan dan Sungai Litani, yang juga menjadi wilayah operasi UNIFIL. Di lapangan, situasi itu membuat pasukan PBB tetap berada di tengah zona rawan tembak, meski mandat mereka menuntut netralitas dan pemantauan di kawasan yang terus berubah.









