Krisis Kuba Makin Tajam, Siapa Sebenarnya Menguasai Havana dan Bisakah Díaz-Canel Tersingkir?

Cuba tengah menghadapi salah satu krisis terberat dalam beberapa dekade. Krisis itu ditandai oleh pemadaman listrik nasional, kekurangan bahan bakar, gangguan layanan publik, dan meningkatnya ketidakpastian politik di Havana.

Situasi memburuk saat tekanan Amerika Serikat terhadap pemerintah komunis Kuba makin besar. Ketegangan ini memunculkan pertanyaan penting: siapa sebenarnya yang memegang kendali di Kuba, dan apakah Presiden Miguel Díaz-Canel bisa diganti tanpa mengubah sistem kekuasaan yang ada?

Krisis energi yang melumpuhkan kehidupan sehari-hari

Kuba sangat bergantung pada impor minyak untuk menghasilkan listrik dan menjalankan transportasi publik. Namun, pengiriman bahan bakar hampir berhenti sejak awal tahun, sehingga jaringan listrik yang sudah rapuh terdorong ke titik kritis.

Pada satu titik, hanya satu kapal tanker dari Rusia yang berhasil tiba di pelabuhan Havana dengan muatan 730.000 barel minyak. Tetapi satu pengiriman itu jelas belum cukup untuk menutup defisit energi yang membuat hampir seluruh aspek kehidupan di pulau itu terganggu.

Pemadaman skala besar berulang kali terjadi dan meluas ke berbagai wilayah. Di Havana, listrik bisa padam hingga 15 jam per hari, sementara di daerah pedesaan, gangguan bisa berlangsung lebih lama, bahkan melewati satu hari penuh.

Dampaknya terasa langsung di jalanan, rumah sakit, dan fasilitas umum. Sampah menumpuk karena truk pengangkut tak punya bahan bakar, operasi medis dibatasi, angkutan umum dikurangi, dan banyak warga kembali memakai kayu bakar untuk memasak serta memanaskan air.

Tekanan dari Washington dan efek embargo

Presiden AS Donald Trump telah menaikkan tekanan terhadap Kuba dengan ancaman baru terhadap pemasok bahan bakar. Ia sempat mengatakan bahwa Kuba berada dalam daftar berikutnya setelah operasi militer AS di Venezuela dan Iran.

Trump sebelumnya mengumumkan bahwa tidak akan ada lagi minyak atau pendanaan dari Venezuela untuk Kuba. Setelah itu, ia juga mengeluarkan perintah eksekutif yang mengancam tarif terhadap negara mana pun yang memasok bahan bakar ke Kuba.

Kebijakan itu membuat krisis energi di Kuba semakin dalam. Para analis menyebut langkah tersebut sebagai bentuk blokade minyak de facto yang menargetkan infrastruktur dasar negara.

Laporan dari Havana menyebut kebijakan ini tidak hanya menekan ekonomi, tetapi juga menggerus kualitas hidup warga. Jurnalis Al Jazeera, Ed Augustin, menyebut krisis itu “secara absolut mengikis setiap bagian kehidupan”, dan menilai kondisi tersebut memang dirancang untuk menimbulkan tekanan politik.

Apa saja dampak kemanusiaannya?

Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah memperingatkan kemungkinan “keruntuhan” kemanusiaan di Kuba akibat kekurangan bahan bakar. Peringatan itu sejalan dengan laporan di lapangan yang menunjukkan memburuknya layanan dasar bagi warga.

Data yang dikutip dari studi di The Lancet Global Health pada 2025 memperkirakan ada 564.000 kematian berlebih per tahun yang terkait dengan sanksi ekonomi. Studi itu sering dijadikan rujukan oleh pengkritik kebijakan tekanan ekonomi karena dampaknya dinilai tidak hanya menyasar pemerintah, tetapi juga masyarakat sipil.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Dokter di Kuba melaporkan kenaikan angka kematian bayi karena banyak pekerja tidak bisa datang ke fasilitas kesehatan karena transportasi publik terbatas dan pasokan penting tersendat.

Kondisi tersebut juga menyulitkan distribusi susu, vitamin prenatal, dan asam folat untuk ibu hamil serta anak-anak. Di saat yang sama, sistem kebersihan rumah sakit ikut terdampak, sehingga risiko infeksi ikut meningkat.

Siapa sebenarnya yang memegang kekuasaan di Kuba?

Meski Miguel Díaz-Canel adalah presiden Kuba, jabatan itu bukan sumber kekuasaan tertinggi di negara tersebut. Kuba adalah negara satu partai, dan Partai Komunis Kuba secara konstitusional disebut sebagai “leading force of the state and society” atau kekuatan pimpinan negara dan masyarakat.

Itu berarti arah politik negara lebih banyak ditentukan partai daripada pemerintah. Dalam praktiknya, posisi presiden memang penting, tetapi bukan pusat kendali tunggal.

Díaz-Canel juga menjabat sekretaris jenderal Partai Komunis Kuba. Namun, sejumlah analis menilai kekuatan riil tetap berada di tangan jaringan lama yang terkait dengan keluarga Castro dan struktur militer-ekonomi.

Profesor ilmu politik Orlando Perez dari University of North Texas at Dallas mengatakan bahwa kekuasaan nyata di Kuba tidak berada di tangan Díaz-Canel. Ia menilai keluarga Fidel Castro, terutama Raul Castro, masih punya pengaruh besar, bersama GAESA, konglomerat yang dikendalikan militer dan disebut menguasai sekitar 60 persen ekonomi Kuba.

Berikut susunan pusat kekuatan yang paling sering disebut pengamat:

  1. Partai Komunis Kuba, sebagai pengarah utama politik negara.
  2. Keluarga Castro, terutama Raul Castro dan lingkaran dekatnya.
  3. GAESA, konglomerat militer yang memegang peran besar di ekonomi.
  4. Pemerintah formal, termasuk presiden, yang sering dipandang menjalankan mandat politik yang sudah dibentuk struktur di atasnya.

Apakah Díaz-Canel bisa diganti?

Secara hukum, penggantian presiden memang dimungkinkan. Konstitusi Kuba yang disahkan pada 2019 menyebut presiden bisa diganti jika mengundurkan diri, diberhentikan, meninggal, atau dianggap tak mampu melanjutkan jabatan.

Jika itu terjadi, wakil presiden Salvador Valdés Mesa akan mengambil alih sementara. Sesudah itu, Majelis Nasional akan menunjuk presiden baru untuk melanjutkan masa jabatan yang ada.

Namun, pergantian nama di kursi presiden belum tentu berarti perubahan sistem. Sebagian analis menyebut jabatan presiden di Kuba sebagai posisi yang “hollow” atau kosong dari kekuasaan riil karena sistemnya dikendalikan oleh militer dan partai.

Sebastian Arcos dari Cuban Research Institute di Florida International University mengatakan Díaz-Canel bisa saja diganti tanpa mengubah apa pun secara mendasar. Menurut dia, yang lebih penting adalah siapa yang mengendalikan aparat partai, militer, dan ekonomi negara.

Siapa kandidat pengganti yang paling mungkin?

Sejumlah nama mulai disebut sebagai kemungkinan penerus jika Díaz-Canel tersingkir dari jabatan. Dua di antaranya masih terkait keluarga Castro, sementara satu nama lain datang dari jalur institusional partai.

1. Oscar Perez-Oliva Fraga
Oscar Perez-Oliva Fraga adalah cicit keponakan Raul Castro. Namanya naik cepat setelah memimpin Kementerian Perdagangan Luar Negeri dan Investasi pada Mei, lalu menjadi wakil perdana menteri pada Oktober.

Ia lama berada di lingkungan GAESA, sehingga dinilai punya kedekatan dengan mesin ekonomi militer Kuba. Para analis menyebut dia bisa memberi wajah teknokratis pada pemerintahan, tanpa memutus hubungan dengan keluarga revolusioner yang memerintah Kuba selama puluhan tahun.

2. Raul Guillermo Rodriguez Castro
Raul Guillermo Rodriguez Castro, yang dikenal sebagai “Raulito”, adalah cucu Raul Castro. Ia pernah menjadi pengawal kakeknya dan kemudian memimpin lembaga setara Secret Service di Kuba.

Meski profil politiknya rendah, ia disebut menjadi penghubung penting dalam diskusi soal pembukaan ekonomi dan reformasi politik. Namun, beberapa analis menilai ia lebih cocok sebagai jembatan negosiasi ketimbang calon pemimpin transisi.

3. Roberto Morales Ojeda
Jika jalur pengganti mengikuti mekanisme partai, Roberto Morales Ojeda menjadi opsi yang paling konvensional. Ia pernah menjadi menteri kesehatan dan kemudian menjabat wakil perdana menteri sebelum memegang posisi penting di Komite Sentral Partai Komunis Kuba.

Para pengamat melihat Morales Ojeda sebagai pejabat yang paling sesuai dengan jalur institusional, tetapi ia tidak punya kedekatan kuat dengan mesin militer-ekonomi yang kini menentukan arah negara.

Bagaimana posisi publik Díaz-Canel saat ini?

Díaz-Canel mulai memimpin Kuba pada 2018 sebagai pemimpin pertama sejak 1959 yang bukan Castro. Tetapi masa jabatannya dibayangi serangkaian krisis yang menekan citranya di mata publik.

Ketegangan dengan AS memburuk setelah sanksi diperketat. Pandemi juga menghantam sektor pariwisata, salah satu sumber pendapatan utama Kuba, lalu protes besar pada Juli 2021 memperlihatkan luasnya kemarahan publik atas kesulitan ekonomi.

Sejak itu, inflasi, kekurangan barang, dan pemadaman listrik menjadi bagian dari kehidupan harian. Banyak warga mengaitkan Díaz-Canel dengan masa ekonomi paling berat dalam beberapa dekade.

Perez mengatakan pemerintah saat ini tidak populer. Ia juga menyoroti gelombang migrasi besar yang membuat Kuba kehilangan sekitar sepersepuluh populasinya dalam beberapa tahun terakhir, sesuatu yang belum terlihat sejak era 1960-an.

Apa yang mungkin terjadi selanjutnya?

Menurut sejumlah analis, Kuba sedang memasuki periode paling tidak pasti dalam beberapa dekade. Krisis ekonomi, negosiasi dengan Washington, dan pertarungan internal elite berlangsung hampir bersamaan.

AS tampaknya ingin mendorong reformasi ekonomi dan politik, sementara pimpinan komunis Kuba berupaya mempertahankan kendali dan mencegah keruntuhan total. Di sisi lain, laporan menyebut Washington juga mempertimbangkan skenario yang membiarkan pemerintah tetap ada asalkan Díaz-Canel disingkirkan dan reformasi dijalankan.

Sebagian pengamat menilai skenario seperti Venezuela tidak mudah diterapkan di Kuba. Pergantian tokoh puncak bisa terjadi, tetapi perubahan itu belum tentu mengubah struktur kekuasaan yang sudah lama bertumpu pada partai, militer, dan jaringan keluarga Castro.

Berita Terkait

Back to top button