Iran Masih Bertahan, Serangan Balasan Menguras Perhitungan AS-Israel

Iran tetap menjadi lawan yang sulit dilumpuhkan meski telah menerima rangkaian serangan udara besar dari Amerika Serikat dan Israel. Selama lebih dari sebulan pertempuran, Teheran memang mengurangi intensitas serangan, tetapi masih mampu menekan Israel, mengganggu negara-negara Arab Teluk, dan memicu kekhawatiran baru di pasar energi global.

Pemerintah Amerika Serikat mengklaim kemampuan militer Iran sudah sangat melemah setelah kampanye pemboman yang dimulai pada akhir Februari. Namun, data lapangan dan penilaian sejumlah pakar menunjukkan bahwa Iran belum menyerah dan masih punya cukup ruang untuk mempertahankan perang asimetris yang dirancang untuk menaikkan biaya konflik bagi Washington dan sekutunya.

Serangan Iran menurun, tetapi belum berhenti

Pejabat militer Amerika Serikat dan Israel berulang kali menonjolkan penurunan jumlah serangan rudal balistik Iran sebagai bukti bahwa target strategis mereka tercapai. Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menyatakan tingkat tembakan rudal balistik Iran turun 86 persen dari hari pertama pertempuran, sedangkan tingkat serangan drone satu arah turun 73 persen.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth kemudian menyebut volume serangan rudal Iran turun 90 persen sejak konflik dimulai. Donald Trump bahkan menuliskan di Truth Social bahwa Iran telah “pada dasarnya dihancurkan”, tetapi gambaran di lapangan tidak sesederhana itu.

Data independen dari Armed Conflict Location & Event Data atau ACLED menunjukkan Iran memang menurunkan jumlah serangan setelah gelombang awal. Pada hari kedua perang, Iran meluncurkan hampir 100 serangan, lalu turun menjadi 53 pada hari berikutnya dan bertahan di kisaran itu selama beberapa hari.

Iran masih punya cara untuk memberi tekanan

Dalam beberapa pekan berikutnya, ACLED mencatat Iran tidak pernah melewati 50 serangan dalam satu hari. Meski begitu, rata-rata serangan harian tetap berada di sekitar 30 selama tiga pekan terakhir, dan pada beberapa titik Teheran justru menaikkan tempo serangan lagi.

Kelly Grieco dari Stimson Center menilai penurunan awal itu belum tentu menandakan Iran kehabisan senjata. Menurut dia, pola tersebut bisa saja menunjukkan strategi penghematan amunisi agar konflik bertahan lebih lama dan menambah tekanan politik terhadap Washington.

Pola ini penting karena Iran tidak harus menang secara militer untuk tetap efektif. Cukup dengan bertahan lebih lama, Teheran bisa memaksa pihak lawan mencari jalan keluar yang dianggap paling aman secara politik dan ekonomi.

Drone murah menjadi alat yang efektif

Salah satu perubahan paling menonjol adalah meningkatnya penggunaan drone terbang rendah yang lebih sulit dicegat. ACLED menyebut sekitar 40 persen salvo Iran di kawasan berhasil menembus pertahanan udara, yang menunjukkan adanya tekanan pada stok pencegat milik Amerika Serikat dan Israel.

Tom Karako dari Missile Defense Project di Center for Strategic and International Studies mengatakan pertahanan rudal mahal menguras sumber daya yang sangat langka. Ia menyebut sistem pertahanan itu sebagai aset nasional bernilai miliaran dolar yang terus dikikis dalam perang attrisi.

Berikut gambaran sederhana mengenai dinamika konflik yang terlihat sejauh ini:

Unsur Pola yang terlihat
Rudal balistik Menurun dibanding fase awal
Drone satu arah Lebih sering dipakai dan lebih sulit dicegat
Serangan yang lolos Sekitar 40 persen salvo di kawasan
Dampak utama Tekanan pada pertahanan udara dan biaya perang

Karako juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Israel bisa kehabisan pencegat sebelum mampu menghancurkan seluruh stok rudal serta peluncur bergerak Iran. Menurut dia, target itu terbukti sangat sulit dicapai.

Banyak senjata Iran disimpan di lokasi yang sangat terlindungi

Farzin Nadimi dari The Washington Institute mengatakan setidaknya separuh persenjataan rudal Iran disimpan di fasilitas yang diperkeras dan tidak mudah dijangkau lewat serangan udara. Ia menilai Amerika Serikat dan Israel kemungkinan meremehkan tingkat kerumitan jaringan pertahanan dan penyimpanan senjata Iran.

Pandangan itu menjelaskan mengapa serangan besar-besaran belum otomatis melumpuhkan kemampuan Teheran. Iran tampak masih bisa mengatur distribusi senjata, memilih waktu peluncuran, dan memindahkan fokus serangan untuk mempertahankan daya tekan.

Dalam perang seperti ini, kapasitas bukan satu-satunya ukuran. Keputusan untuk menabung amunisi juga bisa menjadi bagian dari strategi agar serangan tetap berlangsung dalam jangka panjang.

Teheran mengincar kerugian ekonomi, bukan hanya sasaran militer

Para analis menilai Iran semakin fokus menyerang titik-titik yang bisa memicu kerugian ekonomi luas, seperti pipa minyak, fasilitas desalinasi air, jalur pelayaran, dan infrastruktur energi di kawasan Teluk. Hajatan strategis ini menargetkan negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Arab Saudi, yang berada di garis depan dampak regional.

Assaf Orion, peneliti senior di Institute for National Security Studies, menyebut sasaran terpenting Iran dalam perang asimetris ini adalah ekonomi dunia. Menurut dia, Teheran berharap tekanan tersebut memaksa Washington menghentikan konflik atau setidaknya menerima kesepakatan yang menguntungkan Iran.

Serangan balistik dan drone terbaru ke sebuah pangkalan udara Saudi juga melukai lebih dari dua lusin tentara Amerika Serikat dan merusak pesawat. Insiden semacam ini memperlihatkan bahwa bahkan saat kapasitas Iran menurun, dampak operasional dan psikologisnya tetap besar.

Selat Hormuz tetap menjadi kartu tekanan utama

Ancaman terhadap kapal tanker minyak dan gas di Selat Hormuz masih menjadi alat tawar paling berbahaya bagi Iran. Jalur sempit itu sangat vital bagi perdagangan energi global, sehingga setiap gangguan dapat langsung mendorong harga energi naik dan memicu keresahan pasar internasional.

Donald Trump berusaha mendorong negosiasi sambil mengancam kehancuran yang lebih besar untuk memaksa Iran menyerahkan stok uranium yang diperkaya dan membuka kembali jalur laut tersebut. Namun, selama Iran masih bisa memengaruhi lalu lintas energi, negara itu tetap punya leverage yang tidak kecil.

Bagi Teheran, mempertahankan ancaman di Hormuz sama pentingnya dengan mempertahankan kemampuan rudal. Selama dunia masih khawatir pada lonjakan harga energi dan gangguan pengiriman, Iran belum kehilangan kartu utamanya.

Mengapa Iran masih sulit ditekan habis

Sejumlah faktor membuat Iran tetap menjadi lawan yang keras kepala meski dihantam berulang kali. Negara itu telah lama membangun doktrin perang asimetris, menyebar aset militer, dan mempersiapkan persenjataan murah yang bisa diproduksi atau disuplai secara lokal.

Poin-poin penting yang menjelaskan ketahanan Iran antara lain:

  1. Persediaan drone murah masih besar dan bisa terus dipakai.
  2. Sebagian rudal berada di fasilitas yang sangat terlindungi.
  3. Serangan difokuskan pada sasaran bernilai ekonomi tinggi.
  4. Pertahanan udara lawan terus terkuras oleh biaya intersepsi.
  5. Iran tampak siap bertahan selama mungkin untuk menekan kompromi politik.

Karako menyebut Iran memang dibangun untuk mampu menjalani perang seperti ini. Kalimat itu mencerminkan satu kenyataan penting dalam konflik ini: kerusakan besar tidak otomatis berarti kekalahan, terutama ketika tujuan utamanya adalah membuat lawan membayar harga yang semakin mahal.

Selama Iran masih bisa mempertahankan ritme serangan, menekan jalur energi, dan memaksa Amerika Serikat serta Israel menguras stok pertahanan udara mereka, konflik ini tetap jauh dari kata selesai. Situasi di kawasan juga menunjukkan bahwa kemampuan militer yang sudah tergerus belum tentu cukup untuk menghilangkan pengaruh Iran sebagai ancaman strategis yang masih aktif.

Berita Terkait

Back to top button